X-Men: Wacana Keberagaman dan Cita-cita Perdamaian Dunia

X-Men: Wacana Keberagaman dan Cita-cita Perdamaian Dunia

Bagaimana kisah X-men dalam memimpikan perdamaian dunia?

Apa jadinya jika ternyata ada sebagian manusia mengalami evolusi genetik dan secara biologis mengalami banyak perubahan yang berbeda dengan kita (manusia) seperti keadaan umumnya? Apakah kita selaku manusia akan berkenan untuk mengakuinya sebagai manusia yang patut untuk kita jadikan saudara dan kita hormati sebagaimana keadaan normal?

Pertanyaan kritis tersebut muncul dibenak saya setelah menonton rangkaian film sains fiksi X-Men yang sejumlah tujuh series. Awalnya saya menonton film sebanyak dan sepanjang itu karena rencana akhir pekan ini bersama kawan akan menonton film baru X-Men: Dark Phoenic (2019). Untuk keperluan itu, supaya tak plonga-plongo saat menonton, dan dapat mengikuti jalannya film. Lantas saya menyempatkan nonton film X-Men seri-seri sebelumnya, sebanyak tujuh film.

Film itu memberikan insight untuk refleksi diri soal ihwal keberagaman dan perdamaian. Revolusi ilmu pengetahuan banyak memberikan penemuan baru yang banyak menggoncang keyakinan kita atau bahkan keimanan kita secara langsung ataupun juga secara tak langsung.

Read More

Perkembangan ilmu biologi yang menemukan soal genetika dan berjibun penemuan yang berkaitan dengannya, memberikan kemungkinan-kemungkinan baru terhadap tubuh manusia. Contoh hal konkritnya adalah seperti yang dikisahkan dalam rangkaian berseri film X-Men tersebut.

Se-perbagian manusia di bumi mengalami evolusi yang berupa mutasi genetik. Mutasi genetik tersebut mengakibatkan manusia yang mengalaminya memiliki perubahan fisiologis dan biologis yang tergantung bentuk mutasi gennya. Ada yang mengalami perubahan warna kulit, ada perubahan ukuran tubuh, dan ada pula yang mendapatkan kekuatan super. Manusia-manusia yang mengalami evolusi tersebut di dalam film tersebut disebut sebagai mutan. Jumlahnya tak kalah banyak dari manusia normal pada umumnya.

Walaupun film tersebut adalah fiksi atau cerita rekaan. Akan tetapi hal itu perlu mendapatkan perhatian khusus karena dua alasan. Pertama, walaupun fiksi, film tersebut juga masih ada pendasaran ilmiahnya. Hal ihwal teori evolusi, studi genetik dan mutasi genetik adalah ilmu pengetahuan yang kini sedang hangat-hangatnya dan bahkan diajarkan di banyak universitas dan sekolah menengah di kita. Dengan demikian, walaupun fiksi, tapi masih berdasar keilmiahannya. Bisa jadi ada kemungkinan juga hal demikian akan kenyataan di masa depan?

Alasan kedua adalah terkait dengan wacana keberagaman dan perdamaian di dunia kita saat ini. Film tersebut menawarkan isu baru bahwa keberagaman bukan hanya soal beragaman perbedaan pilihan politik atau keyakinan agama. Ia lebih dari itu, manusia yang awalnya sama dengan kita, tapi kemudian mengalami evolusi dan secara fisiologis dan biologis banyak mengalami perubahan.

Akankah kita akan toleran dengan tetangga kita di masa depan yang memiliki warna kulit yang warna biru pekat seperti sosok Raven (atau Mystique)dan Hank (si Beast) dalam film X-Man karena mengalami mutasi genetik? Seperti apakah nanti kita merangkai perdamaian dengan kaum mereka, yang bahkan diantara mereka saja bentuk mutasinya beraneka ragam?

Pertanyaan demikian sangat sulit untuk kita jawab jika kita melihat suasana kehidupan keberagaman di sekitar kita saat ini. Jangankan karena perbedaan fisiologis dan biologis yang sangat jauh maju tersebut. Di sekitar kita saja, perbedaan yang sudah bawaan alamiah saja banyak belum bisa diterima menjadi saudara yang normal.

Silakan dicek saja di Wahid Foundation, Setara Institute atau bahkan Jaringan GUSDURian seberapa banyak kasus intoleransi di negeri kita. Bahkan saya sendiri seringkali merasa bosan dengan data-data intoleransi yang kian kemari semakin banyak saja terjadi.

Masih ada berapakah umat non muslim yang hak mendirikan rumah ibadahnya tidak diberikan oleh negara gara-gara takut dengan tekanan kelompok ormas yang sering melakukan aksi kekerasan? Berapa ratus atau mungkin ribu saudara muslim di tanah air yang terusir dari daerahnya karena paham keislamannya minoritas?

Atau yang sedikit lebih tabu lagi, berapa banyak kasus kekerasan yang menimpa kaum yang memiliki aspirasi seksual yang berbeda?

Sepertinya masih berat sekali upaya merajut perdamaian di tengah perbedaan dalam lingkungan masyarakat kita akhir-akhir ini. Banyak saudara muslim kita yang seringkali memahami agama secara tekstualis dan dogmatis sulit sekali menerima perbedaan-perbedaan yang sebetulnya jika dikaji secara kontekstual banyak mengajarkan toleransi dan keberagaman.

Walaupun sulit, pertanyaan diawal tadi tetap harus terus kita lontarkan dan direnungkan. Segala kemungkinan dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedepan, banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia mungkin akan banyak mengalami perubahan dan pembaharuan. Dalam kondisi demikian, pilihan terbaik buat kalangan umat beragama khususnya umat Islam juga harus terus mendialogkannya.

Itu sebuah keharusan, jika tak ingin tertinggal.

M. Fakhru Riza, penulis adalah pegiat di Islami Instiute Jogja.