Warga Lakardowo Darurat Limbah Beracun, Bukankah Seharusnya Kita Peduli?

Warga Lakardowo Darurat Limbah Beracun, Bukankah Seharusnya Kita Peduli?

Lebih dari separuh warga di Lakardowo Mojokerto juga menderita luka dan gatal-gatal akibat limbah beracun.

Anak-anak menangis kesakitan. Orang tua terbaring lemas di dipan. Kulit mereka dipenuhi luka melepuh, gatal tak tertahan. Di wajah, punggung, bahkan kelamin. Ini bukan kutukan.

April, bocah 10 tahun yang jadi korban pencemaran limbah, sekujur tubuhnya dipenuhi luka yang melepuh. April tak bisa berhenti menangis sambil menggaruk bagian tubuhnya yang gatal. April adalah salah satu putri warga Lakardowo Mojokerto yang menderita gatal-gatal.

Tidak hanya April, Lebih dari separuh warga di Lakardowo Mojokerto juga menderita luka dan gatal-gatal yang sama seperti April, sebagian besarnya adalah bayi dan anak-anak, yang umurnya tidak jauh berbeda dari April.

Read More

Dikutip dari Change.org menyebutkan bahwa penyebab semua ini adalah penimbunan limbah batubara oleh PT PRIA yang mencemari air dan tanah di Lakardowo sejak 3 tahun lalu.

“Bahkan PT PRIA menjual batako dan pasir dari limbah batubara ke warga Lakardowo. Warga tidak tahu jika bahan bangunan itu sebetulnya sangat beracun,” tulis Change.org melalui rilisnya.

Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty Internasional mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk peduli dengan keadaan yang menimpa warga Lakardowo, Mojokerto. Ia juga mengajak untuk menandatangani petisi yang ditujukan kepada Siti Nurbaya Bakar, sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melalaui laman Change.org.

Kepedulian terhadap sesama sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Melalui salah satu hadisnya Rasulullah SAW bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya mendapatkan kebaikan sebagaimana ia suka mendapatkan kebaikan.

Jika kita tidak ingin keburukan menimpa kita, maka sebagai muslim yang baik kita juga benci jika keburukan menimpa saudara kita.

Wallahu a’lam.