Wabah Demam Malaria, Penyakit di Era Rasululah

Wabah Demam Malaria, Penyakit di Era Rasululah

Wabah demam pernah terjadi di Arab, selain wabah thaun atau pes.

Wabah Demam Malaria, Penyakit di Era Rasululah
Ilustrasi

Sebelumnya telah diulas dua penyakit yang populer di era Rasulullah SAW, yaitu tha’un/pes, serta kusta. Selain dua penyakit tersebut, ada satu penyakit yang mungkin sering Anda dengar dalam hadis, namun tidak cukup banyak diulas. Penyakit ini adalah wabah demam.

Demam dalam bahasa Arab disebut al-humma. Kata asalnya adalah hamiya-yahmuu yang memiliki makna ‘menjadi panas’. Kitab-kitab hadis menyertakan bab khusus seputar penyakit ini, dalam konteks sejarah hijrah ke Madinah. Hal yang dijelaskan dalam hadis-hadis tersebut adalah daerah, gejala penderitanya, serta masa terjadinya.

Nabi sering menyebutkan bahwa orang yang terkena penyakit mesti bersabar, dan penderitaannya mungkin tidak tertanggungkan, tak terkecuali dalam masalah demam. Nabi pernah menyebutkan dalam hadis riwayat dari Ibnu Umar bahwa demam adalah bagian dari api neraka.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ:”‏ الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ فَأَطْفِئُوهَا بِالْمَاءِ ‏”

Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Nabi bersabda: “Demam adalah sebagian dari panasnya api neraka, maka padamkanlah (dinginkalah) dengan air.” (HR. Al-Bukhari).

Imam al-Qasthalani dalam Irsyadus Sari Syarah Shahih al-Bukhari menyebutkan “demam adalah kondisi panas yang aneh, terasa berat, dan panasnya menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah.” Lebih lanjut, para ulama mengklasifikasi setidaknya kondisi demam dibagi dua: yang dapat diobati dan tidak dapat diobati. Untuk demam yang dapat diobati adalah kondisi yang dipengaruhi oleh organ tubuh dan masalah pola hidup; sedangkah yang tidak dapat diobati adalah yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca atau demam mendadak yang tidak diketahui asal-usulnya. Demikian keterangan Imam al-Qasthalani.

Dalam tinjauan fisiologi tubuh, kondisi demam adalah suatu kondisi ketika suhu tubuh meningkat di atas 37,5 derajat Celsius. Demam merupakan respon tubuh baik yang dipicu faktor internal atau eskternal yang disebut pirogen. Untuk yang bersifat internal, misalnya gangguan hormonal atau respon imunitas tertentu. Sedangkan untuk yang dipicu oleh eksternal seperti akibat infeksi mikroorganisme pada tubuh.

Diduga kuat banyak narasi hadis yang membicarakan wabah demam menunjukkan fenomena demam malaria. Orang Arab telah mengetahui adanya demam dengan gejala penyerta yang khas, terutama demam yang sampai menggigil dan diikuti penurunan kesadaran, harinya selang-seling (pola tertiana atau kuartiana), serta biasanya diikuti pembesaran organ perut – dengan gambaran klinis hepatomegali (pembesaran liver) dan splenomegali (pembesaran limpa).

Sebuah artikel dari WHO Timur Tengah berjudul An Attempt to Illustrate the Malaria Situation in Arabia at the time of the Prophet Muhammad yang ditulis oleh Mohyeddin Ahmad Farid memaparkan bahwa masyarakat Arab memiliki sebutan tersendiri untuk kondisi gejala demam malaria. Semisal zafzafah untuk demam yang menggigil, atau shafrawiyyah untuk demam yang diikuti gejala kuning/ikterik, atau as-sawdawiyah, demam diikuti warna kencing yang lebih gelap.

Dalam satu penjelasan tafsir yang dicatat Ibnu Katsir tentang surah Al-Fiil, dikisahkan bahwa Raja Abrahah yang menyerang Mekkah itu baru meninggal setelah tiba daerah kekuasaannya di Sana’a, Yaman akibat  demam tinggi. Pemimpin pasukan penunggang gajah itu sebelumnya diserang oleh “thayran ababil”. Penafsiran kalimat tersebut mengenai kata thayr bermakna “sesuatu yang terbang”, tidak harus berwujud burung, bisa saja dari jenis serangga terbang. Disebutkan bahwa thayr ini datang di malam hari, yang tipikal dengan aktivitas nyamuk malaria. Demikian kurang lebih salah satu penafsiran tentang kejadian surah Al-Fiil sebagai gambaran wabah ini telah dikenali sejak lama.

Malaria sendiri telah dikenal luas sebagai penyakit endemis di dataran Arab dan sebagian Afrika. Catatan Christian McMillen dalam Pandemics A Very Short Introduction, penyakit ini adalah salah satu imbas dari pembukaan lahan yang masif untuk perkebunan dan pemukiman.

Mohyeddin Ahmad Farid menyebutkan bahwa nyamuk Anopheles gambiae, vektor dari parasit Plasmodium yang merupakan penyebab malaria, mudah ditemukan di lembah-lembah dataran Mekkah dan Madinah. Hal ini seperti disebutkan oleh Aisyah radliyallahu ‘anha ketika tiba di Madinah, “Kami telah tiba di Madinah, dan negeri ini adalah negeri yang paling banyak wabahnya. Dan terdapat lembah bernama Buthan, yang sungai mengalir di sana.” Sungai ini diduga sebagai sarang nyamuk tersebut.

Para sahabat dikisahkan pernah tertimpa wabah demam itu. Aisyah radliyallahu ‘anha menyebutkan bahwa kejadiannya terjadi saat para sahabat baru hijrah. Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, saat rombongan hijrah Nabi tiba di Yatsrib, Abu Bakar dan Bilal terserang demam.

Demam yang menyerang Abu Bakar dan Bilal ini sampai membuat keduanya meracau – atau bisa dikatakan mengalami penurunan kesadaran. Saking tingginya demam yang diderita, Abu Bakar meracaukan sajak-sajak tentang kematian, dan Bilal bin Rabah mengigaukan sajak tentang rasa haus. Khawatir kondisi memburuk, Aisyah melapor kepada Nabi tentang kondisi dua sahabat mulia ini. Rasulullah pun membacakan doa demi kesembuhan mereka dan masyarakat Madinah,

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، اللَّهُمَّ وَصَحِّحْهَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّهَا وَصَاعِهَا، وَانْقُلْ حُمَّاهَا فَاجْعَلْهَا بِالْجُحْفَةِ

Artinya: “Ya Allah, berikanlah kami cinta kepada Madinah seperti cinta kami pada Makkah atau lebih dari itu; berikanlah keadaan yang sehat, serta berkahi tiap mud dan tiap sha’ (apa yang kami peroleh di sana), dan pindahkanlah demam itu dan jadikanlah ia menuju negeri Juhfah.”

Ada juga kasus wabah demam dalam hadis tentang susu dan kencing unta. Disebutkan bahwa sekelompok orang dari ‘Urainah menuju Madinah, dan merasa panas atau demam. Para ulama menyebutkan itu akibat betapa peliknya cuaca di Madinah sampai bikin sakit. Namun, ada keterangan lain bahwa mereka terkena sakit demam yang mewabah di Madinah itu. Guna mengobatinya, Nabi menyuruh mereka untuk minum susu unta.

Lewat beragam paparan di atas, ditinjau dari segi gambaran gejala, kemudian konteks daerah dan sejarahnya, diduga kuat bahwa wabah di Arab yang dimaksud dalam beragam riwayat hadis itu adalah demam malaria. Tentu hal ini tidak menafikan adanya penyebab lain dari demam yang dikeluhkan para sahabat, namun narasi yang populer dalam hadis sangat serupa dengan gambaran kasus malaria. Di era sekarang, wabah malaria menjadi perhatian pemerintahan negara-negara Arab dan kasusnya sudah menurun drastis.

Dalam konteks Indonesia, penyakit ini sudah banyak tereradikasi dari daerah-daerah perkotaan. Namun malaria masih endemis di sebagian daerah di Indonesia, semisal di Banten pedalaman atau Papua. Karena itu dalam pemeriksaan pasien terduga malaria, sangat penting untuk menanyakan riwayat perjalanan atau riwayat bermukim di area endemis.

Penyebab Malaria adalah parasit Plasmodium. Dikenal 5 (lima) macam spesies: Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae dan khusus jenis Plasmodium knowlesi, etiologi ini belum ditemui di Indonesia. Perantara parasit ini adalah nyamuk Anopheles betina.

Gejala penyakit ini tergantung jenis parasit penyebab malaria. Sifat demam akut/cepat didahului oleh menggigil, diikuti demam tinggi kemudian berkeringat banyak sampai diikuti penurunan kesadaran. Kondisi ini biasanya ditemukan pada penderita dari daerah non-endemis. Selain gejala klasik di atas, dapat ditemukan gejala lain seperti nyeri kepala, mual, muntah, diare, pegal-pegal, dan nyeri otot. Gejala tersebut biasa terjadi pada pasien yang tinggal di daerah endemis.

Upaya pencegahan malaria adalah dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko malaria, mencegah gigitan nyamuk, pengendalian vektor atau terapi profilaksis. Pencegahan gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan menggunakan kelambu berinsektisida dan perawatan lingkungan hidup. Jika tidak ditangani segera malaria dapat menyebabkan anemia yang menurunkan kualitas hidup, atau terjadi kondisi berat yang menyebabkan kematian. (AN)

Wallahu a’lam.