Ustadz Abdul Somad, Selebritis dan Fenomena Krisis Muslim Perkotaan

Ustadz Abdul Somad, Selebritis dan Fenomena Krisis Muslim Perkotaan

Ustadz Abdul Somad (UAS) belakangan ini menjadi sosok penceramah yang cukup fenomenal dan banyak menyita kekaguman kalangan muslim perkotaan. Termasuk di antaranya para selebritis tanah air.

Video ceramahnya UAS yang diunggah di youtube, tak jarang masuk urutan trending. Sudah tak terhitung banyaknya video UAS di Youtube. Dan rata-rata viewersnya mencapai mulai puluhan ribu hingga jutaan penonton.

Oleh banyak penggemarnya, UAS disebut sebagai “ustadz dengan sejuta umat.” Hal ini hampir mirip dengan  sosok Alm KH. Zainudin MZ, dulu beliau juga dijuluki sebagi penceramah dengan sejuta umat. Nampaknya UAS akan mengikuti jejak dari kepopuleran Alm. KH. Zainuddin MZ sebagai penceramah yang mempunyai banyak penggemar.

Terlebih lagi beberapa waktu yang lalu, Kumparan.com (26/02) melansir berita yang oleh media tersebut kategorikan sebagai  Hits News. Dalam berita tersebut dikabarkan ada banyak selebritis tanah air yang mengikuti acara pengajian dengan UAS sebagai penceramahnya. Kegiatan ceramah keagamaan tersebut kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama para selebritis dengan UAS. Di antara para selebritis tersebut terlihat pasangan Dude Herlino dan Alissa Subandono, Teuku Wisnu, Dimas Seto, Arie Untung dan istri, Virgoun, Babe Cabita, Hengky kurniawan, Primus dan beberapa aktris yang lain.

Read More

Fenomena antusiasme publik muslim tanah air terhadap ceramah keagamaan di media daring Youtube dan para selebritis yang berbondong-bondong menjadi penggemar dari UAS merupakan sebuah gejala muslim perkotaan yang belakangan sedang marak terjadi. Dalam kultur masyarakat muslim perkotaan, tokoh agama berfungsi sebagai penawar kegersangan spiritual setelah  setiap hari berjibaku dengan dunia modernitas yang buas. Dalam masyarakat modern, kunci utama dari kultur sosialnya mengandalkan sebuah kompetisi untuk memperebutkan sumber-sumber ekonomi.

Begitu pula yang dialami oleh para selebritis seperti di atas. Walaupun mereka bergelimang dengan popularitas yang besar, akan tetapi dunia persaingan antar mereka juga sangat keras. Mereka terus menerus dituntut untuk terus berinovasi dan mengembangkan kreativitas mereka, demi menjaga keamanan posisi mereka di dunia layar kaca kita.

Terlebih lagi dengan banyaknya para selebritis pendatang baru kian menambah kewaspadaan mereka. Dunia selebritis pada dasarnya juga penuh dengan ketidak-pastian, sewaktu-waktu posisi mereka dapat tergantikan dengan aktris yang lainnya. Belakangan,  selebritis tanah air banyak yang mengalami stress dan depresi karena tersisih dari panggung persaingan yang begitu ganas tersebut.

Selain itu, karena jadwal dari pekerjaan mereka yang sangat padat dan tak menentu, banyak di antara mereka yang terjebak dalam penggunaan obat-obatan terlarang psikotropika, demi untuk menjaga kesegaran dan kebugaran tubuh mereka. Seperti beberapa selebritis muda tanah air yang tertangkap oleh BNN beberapa waktu yang lalu. Sungguh dahsyat bukan, beratnya kehidupan mereka ini.

Dari latar belakang kehidupan yang banyak membuat frustasi dan kecemasan tersebut, banyak masyarakat muslim perkotaan, termasuk juga selebritis yang membutuhkan tetesan kesegaran dan penawar krisis dalam hati mereka. Dari kondisi sosial yang demikian, lahirlah banyak penceramah keagamaan, termasuk juga UAS. Peran para penceramah ini adalah sebagai sandaran hati yang penuh keluh kesah setelah mengalami begitu kerasnya pertarungan ekonomi dalam masyarakat perkotaan.

Pada dasarnya, dalam kultur masyarakat perkotaan yang kompetitif, peran tokoh keagamaan seperti UAS tersebut tidaklah banyak. Peran para tokoh agama ini hanya menghibur sementara waktu saja. Jika mereka kembali terjun dalam kehidupan mereka sehari-hari, kemampuan untuk terus kreatif dan jiwa yang tangguh adalah kuncinya.

Bahkan, dalam tataran sosial dan politik dalam sistem politik yang demokratis, munculnya tokoh keagamaan seperti UAS ini malah berkemungkinan memberikan dampak yang kurang konstruktif. Fenomena munculnya sosok tokoh agama dalam panggung politik sebagaimana yang marak terjadi belakangan ini, implikasi paling jauhnya adalah panggung politik tidak diisi oleh pertarungan ide tentang kemaslahatan dan agenda-agenda politik yang rasional. Malah sebaliknya, panggung politik mempunyai kecenderungan besar dipenuhi oleh segregasi identitas dan politik kebencian.

Dari sekian banyak kemunculan penceramah dalam panggung publik tanah air, sebagaimana UAS, belum ada yang mampu memberikan penawaran keislaman alternatif yang progresif. Kebanyakan dari mereka hanya bergulat dengan tema-tema identitas keislaman semata. Mereka tak pernah menyinggung tema-tema yang belakangan ini menjadi persoalan global, seperti krisis imigran, kesetaraan gender, kemiskinan, perburuhan dan hak asasi manusia (HAM).

Maka tak perlu heran ketika beberapa waktu yang lalu UAS banyak dihujat publik ketika memberikan komentar seksis atas sosok selebritis Rina Nose yang melepaskan hijabnya. Hal itu tentunya sangat kontraproduktif dengan upaya banyak pihak di tanah air yang sedang gencar melakukan kampanye-kampanye anti kekerasan verbal terhadap perempuan.

Padahal, ada banyak contoh praktek para tokoh agama yang mempunyai agenda-agenda  yang progresif. Seperti ide Teologi Pembebasan yang banyak digagas oleh para pemuka agama Nasrani di Amerika Latin tahun 1970an. Para pemuka agama ini menawarkan praktek keagamaan yang terlibat dalam agenda pembebasan kaum miskin dari belenggu struktural sistem sosial/ekonomi yang tak berpihak kepada kaum mereka. Wallahua’lam

M. Fakhru Riza, penulis adalah pegiat di Islami Institute Jogja.