Upaya Ali Syariati Merumuskan Islam Radikal

Upaya Ali Syariati Merumuskan Islam Radikal

Pemikir islam asal Iran ini coba mendefinisikan ulang konsep islam radikal

Bagaimana islam radikal dalam perspektif Pemikir asal Iran Ali Syariati? Sebelum ke sana, perlu kiranya kita telaah apa yang terjadi belakangan ini. Mendengar kata Islam radikal kebanyakan pemahaman kita akan mengarah pada mereka yang memperjuangkan Islam dengan kekerasan atau teror. Stigma radikal sebenarnya mengalami “pembajakan” atau reduksi dari makna awal. Diskusi soal terorisme selalu mengarah pada kata radikal dan usaha untuk melawan terorisme disebut dengan deradikalisasi.

Radikal melekat dengan Islam, di saat aksi-aksi reaksioner yang mengandalkan kekerasan dan teror untuk menyampaikan pesan ketidaksetujuannya atas keadaan atau kekuasaan yang sudah sangat menindas, dan di saat yang sama Islam dijadikan alasan melakukan aksi-aksi teror tersebut.

Padahal jika kita merujuk pada akar kata radikal yang berarti akar. Dalam politik, radikal digunakan pada individu, gerakan atau partai yang memperjuangkan perubahan sosial atau sistem politik secara keseluruhan dan mendasar. Sejarah di Indonesia menceritakan, bahwa orang-orang yang mengkritik keras pemerintahan kolonial seperti Douwes Dekker disebut dengan Radikal.

Read More

Istilah radikal juga melekat pada mereka yang berada di barisan kiri, seperti Semaun, Mas Marco Kartodikromo, Tan Malaka dan lain-lain. Mereka semua disebut radikal disebabkan asumsi kata radikal adalah merujuk pada mereka yang memperjuangkan anti kolonialisme, gerakan memperjuangkan hak-hak rakyat kecil dan minoritas seperti perempuan dan petani.

Pandangan Islam radikal juga seharusnya dilekatkan pada mereka yang berani melawan pada kesewenang-wenangan dan penindasan. Dalam sejarah Islam, tokoh Ali Syariati adalah salah seorang pemikir muslim yang mencoba merumuskan Islam sebagai ideologi yang akan mendorong umatnya untuk melakukan revolusi sosial. Oleh sebab itu, Syariati dianggap sebagai salah satu tokoh radikal dalam sejarah pemikiran Islam.

Menurut Syariati, merumuskan ideologi Islam radikal adalah langkah yang pertama dan paling penting ke arah perubahan sosial. Walau Syariati bersimpati pada gerakan bersenjata, namun ia tidak yakin pada prospek keberhasilannya. Sebab menurut Syariati kondisi objektif yang dialami harus dijelaskan kepada rakyat dan ditanamkan ke dalam pikiran mereka.

Oleh karenanya rakyat akan bertindak begitu mereka merasakan dan memahami kondisi sosial mereka. Tugas untuk menjelaskan keadaan objektif itu diletakkan pada intelektual yang akan membawa obor pencerahan, kesadaran dan pembebasan dengan menjelaskan kontradiksi-kontradiksi dan ketidakadilan sosial. Saat penjelasan objektif sudah disampaikan maka yang muncul adalah kesadaran revolusioner yang menuntun rakyat secara otomatis mengambil bagian tindakan yang layak.

Ideologi menurut Syariati adalah sebuah penafsiran dari kehidupan individual, masyarakat dan manusia dalam semua aspek. Namun, ideologi menjadi bermakna hanya ketika suatu doktrin terdiri dari dua unsur penting tentang utopia dan ideal manusia, karena dua unsur tersebut menyediakan tujuan-tujuan yang diinginkan berkait dengan ke arah mana masyarakat harus bergerak.

Ideologi tauhid adalah pembebasan manusia dari kepasrahan kepada kekuatan atau kekuasaan sosial mana pun selain kepasrahan kepada Tuhan. Oleh sebab itu, Syariati menegaskan misi dan tujuan monoteisme atau tauhid adalah mendudukan kembali kebebasan, kesamaan, tanpa pengkelasan dengan cara penghancuran tiga kejahatan: kekayaan, kekuasaan politik dan agama.

Pemikiran Syariati ini disandarkan pada pemahamannya bahwa ketiga kejahatan ini dilakukan oleh para penindas politik, penghisap ekonomi dan pemperdaya agama untuk menundukkan dan pembudakan atas orang-orang demi kepentingannya sendiri.

Karl Marx dan Fredrich Engels menuliskan dalam Manifesto Komunis bahwa sejarah manusia adalah sejarah pertentangan kelas, yaitu kelas borjuis dan proletar. Syariati pun merumuskan hal yang sama, sejarah dan masyarakat adalah teater untuk dua kutub yang berperang, namun Syariati menambahkan bahwa kekuatan penindas tersusun dari tiga aspek: penindasan politik, eksploitasi ekonomi dan kelumpuhan agama. Sedangkan kekuatan tertindas terdiri dari manusia dan Allah, sebab dalam sejarah perjuangan dua kutub, Allah selalu berpihak selalu di pihak manusia.

Karena itu Syariati menegaskan bahwa Islam yang dipeluknya berbeda dengan Islam yang dipeluk oleh kaum rohaniawan, yaitu Islamnya kaum mujahid yang peduli dengan “jihad sosial dan ideologis maupun ijitihad ilmiah dan rasional”. Islam model Syariati tidak disandarkan pada “peniruan, kepasrahan dan fanatisme”.

Ummat menurut Syariati, mirip dengan model sosialis klasik, adalah komunitas masyarakat muslim penuh persaudaraan yang bersandarkan pada kepemilikan manusia dan tiadanya eksploitasi atas nilai lebih. Bagi Syariati sebuah masyarakat tanpa kelas bukanlah sebuah tujuan melainkan sebuah prinsip dalam masyarakat.

Tawakkal hanya kepada Allah dan berontak menentang semua penindasan dan kekuatan, manusia diseru untuk mengambil langkah ke arah terciptanya surga manusia di bumi dengan memberontak kepada semua ketidakadilan, inilah Islam Radikal menurut Ali Syariati.

Oleh sebab itu, jika memperjuangkan ideologi Islam radikal namun malah menjebak perjuangan tersebut untuk melakukan penindasan pada manusia yang lain, yakin dan katakanlah bahwa itu adalah Islam radikal yang palsu. Sebab sebagaimana Islam yang dirumuskan Syariati adalah agama tauhid yang melakukan perlawanan terhadap semua kekuasaan duniawi yang bermaksud menundukkan, yang meminta mengantikan kedudukan Tuhan.

 

Fatahallahu alaihi futuh al-Arifin