Terorisme di Eropa Merusak Kepercayaan Publik

Mengapa sih, ada korban di sekitar kita kok malah kita tidak bisa simpati kepada korban, padahal ia di depan mata kita?

Terorisme di Eropa Merusak Kepercayaan Publik

Aksi dan serangan terorisme yang terjadi di Eropa beberapa bulan yang lalu menurut  Jan Jaap de Ruiter (seorang pakar kajian Islam dan Timur di Universitas Tilburg University) merusak citra Islam dan kepercayaan publik. Padahal, di sisi lain, populasi umat Islam di Eropa semakin meningkat. Beberapa di antaranya masuk Islam karena dianggap sebagai agama yang paling mendekati nilai-nilai kemanusiaan.

Berikut wawancara redaktur ar-riyadh dengan Jan Jaap de Ruiter:

De Ruiter seorang sarjana dari Belanda atau yang sering dikenal sebagai ‘pemerhati kebudayaan Arab’ ialah dosen di Fakultas Kajian Islam dan Timur di Universitas Tilburg Belanda. De Ruiter memiliki minat yang mendalam terhadap bahasa Arab dan penyebaran Islam di Eropa.  Ia menulis berbagai buku, di antaranya ialah “Dialektika Islam” dan “Perkembangan Bahasa di Kalangan Remaja Maroko”. Ketika diwawancarai, Ia menjelaskan bahwa secara historis ada ketidaksalingpercayaan yang sudah lama mengakar antara  dunia Arab dan Eropa. Ketidaksalingpercayaan ini diperparah dengan adanya serangan teroris di Eropa yang mengatasnamakan Islam.

Read More

Pertama, bagaimana anda memperkenalkan diri anda kepada pembaca dari Dunia Arab?

Saya ingin dikenal di Dunia Arab sebagai orang Barat yang memiliki kekaguman terhadap keindahan bahasa Arab. Sejak kecil, saya memiliki ketertarikan dengan bahasa-bahasa yang saat itu belum bisa saya eja huruf-hurufnya seperti bahasa Yunani. Sebuah bahasa yang kemudian saya pelajari di SMA dulu. Meski demikian mempelajari bahasa Arab memiliki tantangan tersendiri. Jujur, mempelajari abjad bahasa Arab itu mudah. Namun, mempelajari gramatika dan istilah-istilah bahasa Arab masih merupakan tantangan besar. Meski demikian, sampai saat ini, saya masih bergelut membaca teks-teks Arab, berbicara dan mendengar dalam bahasa Arab karena semua itu menjadi kesibukan saya dari dulu sampai sekarang.

Apa perbedaan orientalisme sekarang dan orientalisme dulu dengan segenap konotasi negatif yang dilekatkan kepada yang terakhir ini menurut anda?

Ada banyak kritikus dan komentator dari dunia Arab pada umumnya dan dunia Islam pada khususnya yang menyerukan keharusan untuk menimbang kembali pendapat para ahli seperti para orientalis di abad kesembilan belas dalam melakukan studi keislaman. Saya tidak setuju dengan pandangan ini. Benar, beberapa pakar dalam kajian Arab dan Islam saat ini bekerja sebagai konsultan tentang Islam bagi pemerintah di negara-negara Barat. Hal demikian sama halnya seperti yang dilakukan para orientalis abad kesembilan belas. Namun yang menjadi titik tekan di sini ialah bahwa mereka melakukan kajian kearaban dan keislaman itu berangkat dari sudut pandang yang ilmiah dan objektif. Menurut saya, masalah yang lebih kompleks ialah adanya ketidakpercayaan antara Barat dan dunia Arab-Islam yang tercermin saat ini dalam politik, jurnalisme media dan tentunya dalam kajian-kajian Barat juga. Jadi ketidaksalingpercayaan ini akan tetap menjadi tantangan besar bagi kedua kebudayaan tersebut di masa yang akan datang.

Belanda memiliki sejarah kajian Arab-Islam yang cukup mengakar. Di Belanda, ada salah satu lembaga kajian bahasa Arab tertua se-Eropa yang berumur lebih dari 400 tahun yang lalu di Universitas Leiden. Bisakah anda ceritakan kepada kami secara singkat mengenai sejarah kajian Arab dan Islam di Belanda dan posisinya sekarang?

Saya bangga sekali bisa mempelajari bahasa Arab dan kebudayaan Islam di negara yang mengkaji Islam dengan menggunakan bahasa Arab sejak lebih dari empat ratus tahun silam. Saya masih teringat saat itu ketika mencari satu naskah untuk penelitian disertasi di kairo, penjual buku menyarankanku untuk mengeceknya kembali di Leiden. Karena, katanya, saya bakal menemukan ‘naskah yang saya cari’ sambil menekankan bahwa sejarah kajian naskah kuna mengenai Arab dan Islam hanya ada di Belanda.

Apa motif utama dari adanya pengkajian Arab dan Islam di Belanda dan di Eropa pada umumnya. Minat apa yang paling penting bagi para pengkaji Arab?

Sangat sulit untuk melihat motif para mahasiswa untuk mengkaji bahasa Arab atau Islam di Belanda. Ada beberapa yang mengkajinya karena minat akademis dan ada pula yang sifatnya personal, misalnya karena nikah dengan seorang muslim. Selain itu, ada juga yang mengkaji Islam setelah mereka masuk Islam. Menurut hemat saya, semua itu tidak bisa diseragamkan secara motif. Hal demikian sama halnya dengan mahasiswa yang minat mengkaji bahasa Inggris, kedokteran dan lain-lain. Mereka mengkaji dengan motif yang berbeda-beda.

Meski demikian, satu fakta yang tidak bisa dimungkiri ialah bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang sulit dikaji. Pasalnya, banyak mahasiswa yang putus di jalan setelah mempelajari bahasa ini. Ada perkembangan yang cukup negatif  dari berubahnya beberapa jurusan bahasa dan budaya Arab menjadi jurusan kajian keislaman di universitas-universitas Belanda lebih dari lima belas tahun yang lalu. Jurusan-jurusan tersebut lebih fokus kepada kajian keislaman ketimbang bahasa Arab yang tentunya melahirkan para pakar dan sarjana kajian keislaman namun sangat minim kemampuannya dalam bahasa Arab. Perubahan ini jelas menyedihkan sekali.

Kehadiran Islam dan umat Islam di Eropa saat ini telah menjadikan minat kajian Arab dan Islam keluar dari ruang lingkup orientalisme dan Arabic studies dan masuk ke dalam ruang yang lebih luas lagi seperti masyarakat, sarana komunikasi? Lalu apakah anda bisa menjelaskan kepada kami tentang sisi-sisi yang berkaitan dengan itu semua di masyarakat Eropa?

Salah satu pengaruh besar Islam dan umat Islam di Eropa tidak hanya terjadi pada perubahan kajian-kajian bahasa Arab dan Islam di universitas-universitas kita. Namun perubahan juga terjadi pada ilmu hukum, ilmu sosial dan antropologi yang semuanya sama-sama mengkaji Islam. Menyajikan berbagai cabang keilmuan ke dalam kurikulum kajian Arab dan Islam merupakan usaha yang baik dalam kaitannnya dengan keragaman akademik dan diskusi umum mengenai Islam dan umat Islam  karena  dengan itu mengkaji Islam dari berbagai perspektif menjadi serba mungkin dilakukan di sini.

Sebagai pemerhati persoalan-persoalan ke-Arab-an dan ke-Islam-an di masyarakat Eropa, bagaimana menurut anda kondisi saat ini secara umum serta persoalan dan tantangan apa yang dihadapi saat ini?

Waktu dulu, saya sibuk secara ilmiah mengkaji bahasa-bahasa yang digunakan di Maroko. Perlu diingat bahwa negara ini terbilang istimewa dalam dunia Arab mengingat penduduknya tidak hanya menggunakan dialek-dialek Arab yang berlainan, tetapi juga menggunakan bahasa Amazigiyyah (Barbar). Negara ini memiliki undang-undang yang mengakui bahasa Arab dan bahasa Amazighiyyah  secara setara. Sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi ahli bahasa seperti saya.  Saat ini saya juga sedang membimbing disertasi doktoral yang mengkaji bahasa Arab yang digunakan pada acara kontes menyanyi ‘Dza Fuwais: Suara Terindah’ yang diselenggarakan MBC Saudi Arabia dan diikuti oleh dewan juri, penyanyi, pembawa acara, kerabat para penyanyi dan masyarakat dari berbagai wilayah Arab dengan dialek bahasa yang berbeda-beda. Mengkaji bagaimana interaksi dan percakapan terjadi antara berbagai peserta dalam acara tersebut tentu menarik karena dengan melakukan itu, kita akan bisa melacak apakah ada perkembangan terbaru dalam bahasa Arab atau tidak. Proses penelitian itu saat ini sedang dilakukan. Kita berharap mahasiswi saya dari Mesir berhasil melakukan pekerjaan berat ini yang nanti disertasi doktoralnya akan diujikan pada tahun 2019.

Mungkin bisa anda ceritakan mengenai gambaran Islam di Barat pada umumnya dan pengaruh serangan teroris yang sering terjadi di sana?

Meningkatnya kehadiran Islam di Eropa menjadi tantangan besar bagi umat Islam dan orang-orang Eropa. Sebagaimana yang sering saya katakan, ada ketidaksalingpercayaan antara dunia Arab dan Eropa. Hal itu disebabkan karena terjadinya konflik selama berabad-abad antara dua peradaban tersebut mengenai agama yang benar: Islam atau Kristen. Dua kebudayaan ini juga pernah terlibat perang seperti perang Salib melawan pemerintahan Islam di Andalusia atau imperium Ottoman di Balkan. Semua peristiwa sejarah tersebut telah melahirkan ketidaksaling percayaan antara dua peradaban dan semakin menguat dengan bertambahnya jumlah umat Islam saat ini di Eropa. Dalam konteks ini, serangan teroris yang dilakukan secara sistematis atas nama Islam tidak akan membantu membangun kepercayaan berbagai pihak. Malah serangan ini telah meningkatkan ketakutan orang kepada Islam dan bahkan mereka tidak bisa membedakan muslim biasa dan muslim teroris. Pertanyaan mendasar dalam kaitannya dengan Eropa ini ialah apakah ia akan tetap mempertahankan toleransinya seperti yang diterapkan sekarang atau kah akan mendesak umat Islam melalui parlemen untuk meninggalkan Eropa secara paksa? Tahun 2017 merupakan tahun yang amat penting karena ada pemilihan umum di Perancis, Belanda, AS dan terakhir di Jerman dalam waktu dekat.

Saya senang kekuatan sayap konservatif tidak memenangkan pemilu-pemilu ini.  meski kuat namun mereka tidak menunjukan kemenangan yang berarti. Sementara itu, sayap moderat makin menguat di Eropa dan ini dipertegas dengan salah satu hasil pemilu: terpilihnya Macron sebagai presiden Perancis. Dengan kata lain, ada optimisme mengenai masa depan Islam di Eropa.

Bagaimana tingkat persebaran Islam di Eropa? Apa motif utama memeluk Islam di Eropa menurut Anda? Dan kecenderungan apakah yang paling penting yang dapat menjaga kondisi seperti itu?

Saat ini, ada dua puluh juta umat Islam yang hidup di Eropa Barat. Mereka hidup di sana sejak puluhan tahun yang lalu sampai sekarang. Di sisi lain, ada banyak orang Eropa yang memeluk agama Islam.  sebagian besar kasusnya ialah bahawa mereka cenderung menjatuhkan pilihan pada Islam karena Islam merupakan agama yang paling mendekati kemanusiaan. Atas dasar itu, mereka pindah ke agama ini. Sedangkan yang lain, mungkin motifnya bersifat praktis, yakni karena nikah dengan orang Islam.

Diterjemahkan dari http://www.alriyadh.com/1608145

 

*) penerjemah adalah pegiat di Komunitas Literasi Pesantren (KLP), tinggal di Kediri