Tasir Surat Yasin Ayat 15-17: Argumentasi Para Rasul

Tasir Surat Yasin Ayat 15-17: Argumentasi Para Rasul

Tasir Surat Yasin Ayat 15-17: Argumentasi Para Rasul
al-qur’an

Melanjutkan cerita sebelumnya (Tafsir Surat Yasin Ayat 13-14) mengenai penolakan orang-orang Anthiokia terhadap tiga Rasul yang diutus kepada mereka. Tiga ayat berikut ini akan mengisahkan bagaimana adu argumentasi antara kaum pembangkang dengan para utusan tersebut. Allah SWT berfirman:

قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ () قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ () وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Qaaluu maa antum illa basyarun mitslunaa wa maa anzala al-Rahmanu min syai‘in in antum illa takdzibuun. Qaaluu Rabbuna ya’lamu innaa ilaikum mursaluun. Wa maa ‘alainaa illa al-balagh al-mubiin.

Artinya:

Mereka (penduduk negeri itu) berkata: “kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami, dan Yang Maha Pemberi Kasih (sama sekali) tidak menurunkan sesuatu (pun); kamu tidak lain hanyalah berdusta.” Mereka (para utusan itu) berkata: “Tuhan Pemelihara kami mengetahui seseungguhnya kami adalah benar-benar para utusan kepada kamu. Dan tugas kami tidak lain kecuali penyampaian (tuntunan Allah SWT) dengan jelas.”   

Ibnu Jarir al-Thabari menerangkan tiga ayat di atas dengan melanjutkan cerita dari riwayat yang telah dijelaskan pada ayat sebelumnya. Menurut al-Thabari, orang-orang negeri yang didatangi tiga utusan Allah SWT tersebut menolak ajaran para Rasul. Mereka berargumen bahwa tidak mungkin manusia biasa yang sama seperti mereka menjadi Rasul, yang patut menjadi Rasul hanyalah figur serupa malaikat yang gagah dan berani. Al-Thabari menulis: “Maa antum ayyuhal qaum illa unasun mitsluna wa lau kuntum rusulan kama taquuluun lakuntum malaikah (Tidaklah kalian wahai kaum kecuali manusia seperti kami. Dan jika kalian benar rasul sebagaimana kalian katakan, maka tentu kalian adalah malaikat).”

Al-Thabari melanjutkan penjelasannya bahwa atas respon dari penduduk yang menolak, para Rasul pun mengatakan, “Rabbuna ya’lamu innaa ilaikum lamursalun fii maa da’aunakum ilaihi wa innaa lashadiqun, Arsalna biha ilaikum balaghan yubayyin lakum annaa ablaghnaa kumuuhaa fain qabiltumuha fahadzdzhu anfusakum tushibun wa in lam taqbiluuhaa fa adainaa maa ‘alainaa ( Tuhan kami mengetahui bahwa kami adalah benar-benar Rasul kalian atas apa yang kami dakwahkan kepada kalian, kami diutus dengan ajaran itu kepada kalian untuk menyampaikannya secara gamblang, jika kalian menerimanya maka keberuntunganlah bagi kalian, dan jika kalian tidak menerima maka kami sudah menunaikan kewajiban kami).”

Imam al-Qusyairi dalam Lataif al-Isyarat seolah menekankan penjelasan al-Thabari dengan mengatakan bahwa para rasul yang ditolak kehadirannya tersebut berkata “kami tidak mengetahui apa pun kecuali atas apa yang diperintahkan kepada kami sebagai utusan-Nya yaitu menyampaikan (al-tabligh) dan memberi peringatan (al-indzar).”

Dengan merujuk pada Perjanjian Baru, Ibnu ‘Asyur menilai bahwa penduduk negeri yang menolak sebagaimana dijelaskan dalam ayat ini adalah kelompok para penyembah berhala yang berasal dari Yunani dan orang Yahudi. Diceritakan dalam Kisah Para Rasul XIV: 8 -12 bahwa ketika sebagian penduduk melihat keluarbiasaan yang dilakukan Paulus, mereka berseru bahwa dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah mereka. Barnabas mereka anggap sebagai Zeus dan Paulus sebagai Hermes. Penolakan tersebut juga dilakukan orang Yahudi, menurut Ibnu ‘Asyur, karena mereka menolak Rasul setelah Nabi Musa AS.

Adapun kata al-Rahman yang digunakan dalam ayat di atas menurut al-Thabathaba’I adalah untuk menunjuk Tuhan karena para penyembah berhala percaya atas sifat-sifat keagungan Tuhan seperti penciptaan, kekuasaan, dan rahmat. Menurut al-Thabathaba’i, hanya saja pemaknaannya berbeda, mereka percaya bahwa Tuhan telah melimpahkan wewenang dan pengelolaan pengaturan kepada makhluk-makhluk-Nya yang dekat kepada-Nya seperti para mailkat dan tuhan-tuhan lain yang mereka sembah. Al-Thabathaba’i berpendapat bahwa Tuhan yang mereka namai al-Rahman ini adalah Tuhan dari segala tuhan. Namun al-Thabathaba’i menguraikan pendapat alternatif, yakni bisa jadi juga yang mereka ucapkan bukanlah kata al-Rahman. Al-Quran menggunakan diksi al-Rahman untuk menggambarkan betapa besar rahmat dan santunan Allah SWT kepada mereka menghadapi peningkaran mereka terhadap kebenaran.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata Rabbuna Ya’lamu pada ayat ke-16 dapat diartikan sebagai sumpah karena kalimat tersebut mengandung makna kesaksian Tuhan atas ucapan mereka. Penggalan ayat ini bagaikan menyatakan: kami bersumpah mempersaksikan Tuhan bahwa kami adalah utusan-utusan-Nya. Shihab melanjutkan bahwa para rasul dalam ayat ini tidak mengajukan bukti indrawi yang dapat meyakinkan masyarakatnya tentang kerasulan mereka, tidak seperti rasul lain. Hal ini sebagai penegasan bahwa para rasul tidak membutuhkan keimanan atau pun upah dari mereka para pembangkang, melainkan cukup Allah SWT yang Maha Mengetahui bahwa para rasul telah melaksanakan tugas.