Tak Perlu Sering-Sering Mencela

Tak Perlu Sering-Sering Mencela

Tak Perlu Sering-Sering Mencela

Dewasa ini, masyarakat dunia maya (warganet) begitu tergesa-gesa menuduh kejahatan dan/atau dosa seseorang. Hal ini, tentu dapat menimbulkan fitnah dan kebencian antar sesama, baik sesama umat Islam maupun sesama anak bangsa.

Seorang pejabat di salah satu kabupaten di Jawa Tengah baru-baru ini meninggal dunia, dan ia dituduh kualat karena menyegel sebuah masjid. Selain belum tentu benar beritanya (dan ternyata klarifikasinya memang hoax), hal itu sungguh memilukan. Betapa keluarga almarhum yang masih dirundung duka, kini bertambah pilu karena terdampak perundungan warganet dan omongan jelek orang-orang.

Ada lagi, kasusnya hampir mirip. Seorang pejabat nasional yang sedang sakit, karena kebetulan tersangkut kasus pidana korupsi (meski belum ada putusan hukum, masih proses praperadilan), dicecar habis di jagad maya. Ada yang menganggap itu laknat Tuhan, karma dan seterusnya.

Juga masih banyak lagi kasus dan peristiwa lain, seperti “dendam kesumat” dan kebencian yang dalam pada oknum Orde Baru, ormas, maupun pemerintah.

Ramainya tuduhan-tuduhan bernada minor itu, selain bukan pada tempatnya, juga jauh dari akhlak seorang yang beriman, yakni husnudzon. Dan tentu jauh dari sikap ilmiah karena tak argumentatif.

Padahal, ibarat sepakbola, kita adalah sama-sama pemain, yaitu manusia, namun mengapa ada yang mencoba memegang peluit? Apakah itu dosa atau laknat, musibah atau justeru anugerah, hanya Allah-lah yang tahu. Dia lah Tuhan yang berhak menghakimi hamba-Nya.

Mengenai hal ini, sahabat Nabi Muhammad saw. sekaligus menantu beliau Sayyidina Ali pernah berpesan, “Janganlah engkau tergesa-gesa mencela seseorang karena dosanya. Sebab barangkali dosanya telah diampuni. Dan janganlah engkau merasa aman akan dirimu karena suatu dosa kecil. Sebab, barangkali engkau akan diazab karena dosa kecilmu itu.”

Kita tidak tahu akhir hidup manusia. Bisa jadi yang sebelumnya bejat, karena hidayah Allah, menjadi orang baik dan khusnul khatimah, laiknya Sayyidina Umar bin Khattab. Pun demikian, yang sebelumnya baik bisa jadi buruk dan bahkan suul khatimah di akhir hidupnya, seperti kisah Ki Barseso yang terkenal itu. Naudzubillah.

Padahal, seringkali para ulama menasehati, bahwa kadang sakit atau sengsaranya seseorang di dunia itu bisa jadi adalah penghapusan dosa. Bisa jadi juga, yang baik-baik saja di dunia justru kelak di akhirat lah siksanya. Ini kita tidak tahu. Ini adalah domain Allah Swt, bukan domain kita selaku manusia.

Salah satu sikap yang bijak dan wajar, hemat saya, adalah seperti yang dilakukan oleh Gus Dur terhadap lawan politiknya: “Maaf iya, tapi lupa tidak,” ungkapnya, dalam suatu wawancara dengan Andy F. Noya.

Dari segi pribadi, dengan sikap itu, beliau tak dendam. Bahkan memaafkan. Namun tetap tak boleh dilupakan. Untuk apa? Untuk sejarah dan pelajaran di masa mendatang.

Semoga, kita umat Islam senantiasa mendapat petunjuk dan hidayahnya, untuk tidak mudah menuduh dan mencela.  Juga, semoga iman dan Islam ini kita bawa sampai di ujung kematian, dengan membawa gelar khusnul khaatimah. Amin.

Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun