Tafsir Yasin Ayat 30–31: Pelajaran dari Umat Terdahulu

Tafsir Yasin Ayat 30–31: Pelajaran dari Umat Terdahulu

Tafsir Yasin Ayat 30–31: Pelajaran dari Umat Terdahulu

Cerita tentang para rasul, penduduk yang membangkang, dan lelaki mukmin bernama habib telah selesai. Pembahasan kisah ini dari ayat 13 hingga ayat 29 dapat kita baca dari tulisan-tulisan sebelumnya. Guna mengambil pelajaran (‘ibrah) dari kisah tersebut, Allah SWT berfirman:

يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ () أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ

Yaa hasratan ‘ala al-‘ibaad maa ya‘tiihim min rasuulin illaa kaanuu bihi yastahziuun. Alam yaraw kam ahlaknaa qablahum min al-quruuni annahum ilayhim laa yarji’uun.

Artinya:

“Alangkah besarnya penyesalan atas diri para hamba itu! (Keburukan mereka adalah bahwa) tidak datang kepada mereka seorang rasul (pun) melainkan mereka selalu berolok-olok terhadapnya. Tidakkah mereka melihat betapa banyak yang telah Kami binasakan dari generasi-generasi sebelum mereka; (tidakkah mereka memperhatikan) bahwa mereka (yang telah Kami binasakan) tidak (dapat hidup lagi lau) kembali kepada mereka (para pendurhaka)” (QS: Yasin Ayat  30-31)

Ibnu Jarir al-Thabari menerangkan penafsiran dari kalimat yaa hasratan ‘ala al-‘ibad dengan dua riwayat yang berbeda. Riwayat pertama berasal dari Muhammad bin ‘Amr dari Abu ‘Ashim dari ‘Isa dari al-Harits dari al-Hasan dari Waraqa dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid, menerangkan bahwa penyesalan (hasratan) atas penduduk yang membangkang itu disebabkan karena olok-olok mereka (istihzaa‘) kepada para rasul. Adapun riwayat kedua dari ‘Ali dari Abu Shalih dari Mu’awiyah dari ‘Ali dari Ibnu ‘Abbas, menerangkan bahwa ya hasratan ‘ala al-‘ibad berarti kecelakan bagi hamba-hamba pembangkan (yaa waliyyan li al-‘ibaad).

Al-Thabari berpendapat kedua ayat ini hendak menegaskan bahwa orang-orang musyrik Mekah adalah objek sasaran dari kisah ini. Dengan menggunakan ilustrasi kalimat al-Thabari menulis: “Apakah mereka orang-orang yang menyekutukan Allah SWT, dari kaummu hai Muhammad, tidak melihat betapa banyak Kami membinasakan kaum-kaum terdahulu atas perbuatan mereka mendustakan para rasul dan mengingkari ayat-ayat Kami? Padahal sungguh mereka akan kembali kepada Kami.” Lalu dari riwayat Basyar dari Yazid dari Sa’id dari Qatadah, al-Thabari mencatat contoh-contoh umat terdahulu ialah kaum ‘Ad, Tsamud, Qarun dan lain lain.

Bagi Imam al-Qusyairi ayat 30 hendak menegaskan kepada umat Nabi Muhammad SAW bahwa untuk saat ini di dunia, orang-orang yang mengingkari ajaran rasul tidak akan merasa menyesal. Mereka mempunyai waktu dan tempat tersendiri untuk menyesal, bukan sekarang. Tetapi nanti pada saat Hari Pembalasan.

Kalimat alam yaraw (tidakkah mereka melihat) pada ayat 31 menurut al-Zamakhsyari bermakna tidakkah mereka mengetahui (alam ya’lamu). Kemudian al-Zamakhsyari menambahkan bahwa kalimat tersebut adalah pertanyaan dengan tujuan menegaskan agar lawan bicara lebih memahami (istifham).   

Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata hasratan pada ayat di atas berarti penyesalan besar akibat luputnya sesuatu yang bermanfaat. Kata ya pada awal ayat yang menyertai kata ini dipakai kepada lawan bicara agar mengundang mereka untuk memperhatikan apa yang disampaikan, yaitu penyesalan atas penolakan mereka terhadap ajakan para rasul. Lalu penyesalan tersebut lebih besar lagi manakala mereka sebagai ‘ibad (hamba-hamba Allah SWT) seharunya menyambut ajakan para rasul, tetapi mereka malah menolaknya.

Dua ayat ini, menurut Quraish, dipahami oleh banyak ulama sebagai komentar Allah SWT atas peristiwa yang menimpa para penduduk yang durhaka sebagaimana dikisahkan dalam ayat-ayat yang telah lalu. Hal ini menggambarkan bahwa siapa pun yang dilengkapi dengan naluri penyesalan dapat dipastikan akan menyesal bila mengalami atau mengetahui peristiwa tersebut.

Quraish menjelaskan bahwa kata ‘ibad digunakan al-Qur’an untuk menceritakan hamba-hamba-Nya yang taat dan beriman kepada-Nya atau bagi para pendosa yang telah menyadari dosa-dosanya. Pada rentang ayat di atas, kata ‘ibad digunakan karena para penduduk yang membangkang tersebut telah menyadari kedurhakaan yang mereka perbuat sebelum akhirnya dibinasakan. Dengan pemahaman seperti ini, Quraish menolak penafsiran yang menyatakan bahwa para rasul dan para malaikat menyesal atas para penduduk yang durhaka karena tidak segera beriman.

Adapun kata yarji’un, menurut Quraish dengan mengutip pandangan al-Biqa’i, bermakna taubat atas kedurhakaan dan kembali ke jalan yang benar dengan mengikuti para rasul. Kata ini, menurut al-Biqa’i senada dengan kata dalam QS as-Sajdah ayat 21.