Tafsir Surat Yusuf Ayat 6: Apa sih Mimpi dalam Islam?

Tafsir Surat Yusuf Ayat 6: Apa sih Mimpi dalam Islam?

Tafsir Surat Yusuf Ayat 6: Apa sih Mimpi dalam Islam?

Karena sifatnya yang tak nyata, sebagian orang yang memandang secara sebelah mata terhadap mimpi. Mimpi dianggap sebagai sesuatu yang tak perlu digubris sama sekali. Sebaliknya, beberapa orang justru berlebihan dalam memandang sebuah mimpi. Setiap mimpi, entah itu mimpi baik atau buruk, entah yang bermimpi adalah orang yang salih atau tidak salih, ditafsirkan dengan bermacam-macam anggapan.

Lalu bagaimana pandangan Islam terhadap mimpi? Apakah semua mimpi harus diterima atau sebaliknya? Ataukah ada perinciannya? Simak penjelasannya dari para pakar tafsir dan ulama lain di bawah ini:

Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 6:

وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الأحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَى أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Wa kadzalika yajtabiika rabbuka wa yu’allimuka min ta’wiilil ahaadiisi wa yutimmu ni’matahu ‘alaika wa’alaa aali ya’quuba kamaa atammahaa ‘alaa abawaika ming qablu ibraahiima waishaaqa inna rabbaka ‘aliimun hakim.

Artinya:

“Dan Demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS: Yusuf ayat 6)

Pandangan Islam Terhadap Mimpi

Surat Yusuf ayat 6 menunjukkan bahwa meskipun mimpi adalah suatu hal yang tak nyata, tapi ia dapat menunjukkan sesuatu yang nyata. Hal ini dapat dilihat bagaimana Nabi Ya’qub tampak khawatir akan mimpi Nabi Yusuf, dan bagaimana pernyataan Allah bahwa Nabi Yusuf diberi kelebihan, dapat menafsirkan suatu mimpi.

Imam Ibnu Katsir mengutip ucapan Ibnu Abbas bahwa mimpi para nabi adalah wahyu. Oleh karena itu, banyak ahli tafsir yang mencoba mengartikan mimpi Nabi Yusuf berupa sebelas bintang serta matahari dan rembulan bersujud padanya. Imam Ibnu Abbas, al-Dhahak, Qatadah, Sufyan al-Tsauri mengartikan bahwa sebelas bintang itu adalah saudara-saudara Nabi Yusuf, matahari adalah ayahnya, dan rembulan adalah ibunya.

Imam al-Qurthubi menyatakan bahwa mimpi dalam pandangan Islam adalah sesuatu yang istimewa. Dalam artian, mimpi tidaklah dianggap sepenuhnya sesuatu yang tak nyata dan harus diabaikan begitu saja. Ada beberapa mimpi yang merupakan petunjuk dari Allah dan penting untuk diperhatikan secara seksama. Hal ini ditunjukkan oleh salah satu hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Al-Bazzar:

لَمْ يَبْقَ بَعْدِى مِنَ الْمُبَشِّرَاتِ إِلَّا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةَ الصَّادِقَةَ يَرَاهَا الرَّجُلُ الصَّالِحُ أَوْ تُرَى لَهُ

Tidak tersisa setelahku kabar gembira kecuali mimpi baik dan benar yang dilihat seorang salih atau diperlihatkan padanya.

Mimpi yang Dialami Selain Para Nabi

Bila mimpi para nabi adalah wahyu, bagaimana mimpi selain para nabi? Mimpi selain para nabi juga dapat menunjukkan suatu kebenaran. Hal ini ditunjukkan oleh hadis di atas. Hanya saja, tingkat kebenaran mimpi tersebut berbeda-beda bergantung orang yang mengalaminya. Nabi Muhammad SAW sendiri pernah bersabda dalam riwayat Imam Muslim:

أَصْدَقُكُمْ رُؤْيًا أَصْدَقُكُمْ حَدِيْثًا

Orang yang mimpinya paling mendekati kebenaran adalah yang paling jujur ucapannya

Hadis tersebut menunjukkan bahwa mimpi selain para nabi yang menunjukkan kebenaran adalah mimpi yang dialami orang-orang salih. Imam al-Qurthubi menyatakan, bahwa orang yang jujur serta salih adalah orang yang prilakunya sesuai dengan diajarkan para nabi. Mereka kemudian diberi kemuliaan seperti yang diberikan pada para nabi, yaitu dapat mengetahui hal-hal yang samar.

Lalu bagaimana mimpi orang yang gemar berdusta serta orang yang kafir? Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa mimpi mereka memang kadang ada yang menunjukkan suatu kenyataan. Dan itu amat jarang sekali. Serta bukan bagian dari wahyu juga kenabian. Ini sebagaimana ucapan tukang sihir yang kadang dapat menjadi kenyataan.