Tafsir Surat Yasin Ayat 51–52: Kondisi Manusia Pada Hari Kebangkitan

Tafsir Surat Yasin Ayat 51–52: Kondisi Manusia Pada Hari Kebangkitan

Tafsir Surat Yasin Ayat 51–52: Kondisi Manusia Pada Hari Kebangkitan
Kitab-kitab yang disusun rapi.

Pada ayat sebelumnya telah dijelaskan mengenai suara keras yang terdengar akibat tiupan sangkakala pertama. Artikel ini menjelaskan lanjutan ayat ketika makhluk hidup telah mati dan kemudian ditiuplah sangkakala yang kedua untuk menghidupkan mereka kembali. Allah SWT berfirman:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ () قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

Wa nufikha fi al-shuuri fa idzaa hum min al-ahdaatsi ilaa Rabbihim yansiluun. Qaaluu yaa waylanaa man ba’atsana min marqadina hadzaa maa wa’ada al-Rahmaanu wa shadaqa al-mursaluun.

Artinya:

“Dan ditiuplah sangkakala (yang kedua), maka serta mereka mereka (bangkit) dari kubur-kubur mereka (yakni di alam Barzakh), bergegas menuju Tuhan Pemelihara mereka. Mereka berkata, “Hai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat pembaringan kami?” Inilah yang pernah dijanjikan Yang Maha Pemberi Kasih dan benarlah para rasul (yang diutus-Nya).” (QS: Yasin Ayat 51-52)

Ibnu Jarir al-Thabari dengan mengutip riwayat dari sahabat Ubay bin Ka’ab, dari Qatadah, maupun dari Abdullah bin Abbas, mengatakan bahwa ayat di atas berkaitan dengan kebangkitan umat manusia dari alam kubur. Kata al-ajdats pada ayat 51, menurut al-Thabari sebagaimana mengutip riwayat-riwayat tadi bermakna kubur dalam bentuk jamak.

Bagi Imam al-Qusyairi, ayat di atas adalah deskripsi orang-orang yang tidak mengenal Tuhannya. Orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, Allah SWT, maka mereka akan mati dalam keadaan bodoh (jahl), tidak tahu apa apa, dan ketika dibangkitkan pun mereka bangkit dalam keadaan tidak tahu apa pun.

Hari Kebangkitan merupakan saat dimana semua manusia shock dan sangat kaget. Al-Quran mendeskripsikan kekagetan ini dengan ungkapan ya waylana yang diambil dari tiga kata: ya; wayl; dan na. Ketiga kata ini secara harfiah berarti wahai; celaka; kami. Menurut M. Quraish Shihab kata ini diungkapkan ketika orang Arab menyaksikan sebuah peristiwa yang sangat hebat, bisa jadi menggembirakan maupun menyedihkan. Si pengucap ini, kata Quraish, seolah-olah mengatakan “aduh, kecelakaan menimpa diriku, saksikanlah keadaanku agar aku mati tidak mengalami terlalu lama siksaan ini!”

Quraish melanjutkan bahwa ungkapan serupa juga pernah diucapkan istri Nabi Ibrahim as, Siti Sarah, ketika mengetahui berita bahwa ia akan hamil. Padahal ketika itu baik Nabi Ibrahim maupun Siti Sarah telah mencapai usia renta. Hal ini termaktub dalam QS Hud [11]: 72 yang ungkapannya yaa waylataa aalidu wa ana ‘ajuuzun (“sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan, sedangkan aku perempuan tua”).

Untuk menerangkan kata marqadina (tempat pembaringan) pada ayat 52, Quraish mengutip dua pendapat mufassir. Pertama pendapat al-Biqa’i yang mengatakan bahwa kata tersebut digunakan sebagai ungkapan atas pedihnya siksa di akhirat dibandingkan dengan siksa di alam barzakh. Sedang pendapat kedua dari al-Thabathaba’i menjelaskan bahwa kata tersebut diucapkan berdasarkan keyakinan kaum musyrik Mekah ketika mereka hidup yang mengingkari adanya kebangkitan. Keyakinan itu telah terpatri dalam jiwa sehingga ketika dibangkitkan, mereka mengalami alam yang begitu menakutkan sehingga keluarlah ungkapan yang menyatakan kebinasaan sebagaimana sering dikatakan ketika di dunia.

Kutipan dari dua mufassir di atas adalah upaya M. Quraish Shihab untuk menolak argumen orang-orang yang mengingkari adanya alam barzakh. Quraish mengatakan bahwa pendapat yang menolak alam barzakh sangat tidak tepat. Menurut Quraish banyak sekali dalil-dalil dalam nash al-Quran maupun hadis shahih yang menegaskan eksistensi alam barzakh. Ia mencontohkan beberapa ayat misalnya Q.S al-Mu’minun [23]: 99 – 100, dan Q.S Ghafir [40]: 46 dan hadis tentang siksa kubur yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas yang terdapat dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.

Uraian M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah di atas sekaligus menepis sebagian fitnah yang dialamatkan kepada Quraish. Penulis secara pribadi sekitar tahun 2007-an pernah mendengar ceramah ustadz di daerah Karawang yang memfitnah sosok Quraish Shihab dengan mengatakan bahwa Quraish tidak mempercayai adanya siksa kubur. Pada waktu itu tidak jelas darimana si penceramah itu mendapatkan info bahwa Quraish Shihab menolak adanya alam barzakh. Setelah membaca secara langsung karya Tafsir Al-Misbah ternyata tuduhan seperti itu tidaklah benar, hanya fitnah belaka.