Tafsir Surat Al-Waqi’ah Ayat 24-26: Apakah di Surga Ada Orang yang Mencaci Maki?

Tafsir Surat Al-Waqi’ah Ayat 24-26: Apakah di Surga Ada Orang yang Mencaci Maki?

Tafsir Surat Al-Waqi’ah Ayat 24-26: Apakah di Surga Ada Orang yang Mencaci Maki?

Dalam surat al-Waqi’ah ayat 20-23, Allah menerangkan nikmat yang diberikan kepada al-sabiqun atau golongan terdahulu, berupa makanan yang terdiri dari buah-buahan dan daging. Selain itu, mereka juga memperoleh nikmat berupa ditemani para bidadari bermata indah. Allah kemudian menjelaskan kelak ucapan-ucapan seperti apa yang keluar dari mulut golongan ketiga ini di ayat 24-26.

Allah berfirman:

جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ () لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا () إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا

Jazaam bima kanu ya’malun. La yasma’una fiha laghwaw wala ta’tsima. Illa qiilang salaamang salaama.

Artinya: 

“Sebagai balasan sebab apa yang telah mereka kerjakan. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa. akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.” (QS: Al-Waqi’ah ayat 24-26)

Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam Tafsir Jalalain menyatakan bahwa kata jazaan di ayat 24 maknanya adalah ja’alna lahum ma dzukira liljazai (telah kami jadikan apa yang sudah dituturkan sebagi balasan bagi mereka).  Lebih lanjut, Imam As-Shawi dalam Syarah Tafsir Jalalain menerangkan, bahwa huruf ba’ dalam lafadz bima bermakna sababiyah (disebabkan). Sehingga dapat disimpulkan bahwa makna ayat 24 adalah Allah jadikan nikmat berupa masuk surga, dapat duduk bersantai di tempat istimewa dengan dikelilingi makanan, minuman serta bidadari, sebagai balasan bagi kaum al-sabiqun sebab apa yang mereka kerjakan.

Sedang mengenai ayat 25, Imam Al-Mahhali mentafsirkan kata laghwaw dengan ungkapan fakhisyan minal kalam (ucapan di luar batas kewajaran), dan kata ta’tsima dengan ungkapan ma yu’tsamu (sesuatu yang dianggap berdosa). Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya secara lebih rinci menjelaskan, laghwaw maknanya adalah khaliyan ‘anil ma’na aw musytamilan ‘ala ma’na khaqirin aw dhaifin (ucapan yang sia-sia atau memuat makna yang keji serta lemah). Beliau mengaitkan ayat ini dengan firman Allah: tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. (QS: Al-Ghasyiyah ayat 11).

Kemudian, ayat 26 seakan menjawab pertanyaan bahwa kalau di surga, al-sabiqun tidak mendengar ucapan yang sia-sia serta menyebabkan berdosa, lalu apa yang mereka dengan disana? Jawabannya adalah ucapan “selamat!”. Imam As-Shawi menerangkan, al-sabiqun mendengar ucapan tersebut dari Allah, para malaikat dan sebagian dari al-sabiqun ke sebagian yang lain.

Imam Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya menyatakan, dalam ayat 25-26 ada dua nikmat yang saling menyempurnakan. Yaitu nikmat berupa tidak mendengar hal-hal yang tidak disukai. Ini merupakan yang dapat dirasakan oleh jiwa. Tidak mendengar hal yang tidak disukai serta yang dibenci merupakan nikmat berupa nyamannya hati, serta menjadikan hati hanya ditempati ucapan-ucapan yang disukai oleh pendengarnya.

Nikmat ini disempurnakan dengan ucapan “selamat!” pada ayat selanjutnya, yang mengandung pemuliaan pada para pendengarnya. Jiwa menjadi merasakan kebahagiaan sebab dimuliakan serta dihormati. Tidak hanya sebab satu kali ucapan salam. Tapi, ucapan salam yang bertubi-tubi. Satu ucapan disusul ucapan lainnya. Inilah yang tersirat dari disebutkannya kata salaaman dua kali di ayat 26.

Ibn ‘Asyur juga menerangkan, ucapan salam ini diucapkan oleh para malaikat. Ini didasarkan firman allah: (yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “keselamatan atasmu berkat kesabaranmu”. Maka Alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS: Ar-Ra’du ayat 23-24).

Juga diucapkan satu sama lain di antara al-sabiqun. Hal ini didasarkan firman Allah: Do’a mereka di dalamnya Ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka Ialah: “Salam”. dan penutup doa mereka Ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”. (QS: Yunus ayat 10).