Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 51: Iblis Tak Memiliki Kekuasaan Kecuali Kehendak Allah

Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 51: Iblis Tak Memiliki Kekuasaan Kecuali Kehendak Allah

Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 51: Iblis Tak Memiliki Kekuasaan Kecuali Kehendak Allah

Allah mengingatkan kembali pada orang-orang yang menjadikan Iblis dan keturunannya sebagai penolong. Iblis dan keturunannya itu tidak pernah dimintai pertolongan oleh Allah untuk menciptakan langit, bumi, dan alam semesta. Allah tidak membutuhkan mereka. Allah meminta umat manusia tidak menduga-duga bahwa Iblis dan keturunannya itu serba hebat, sehingga dapat menyaksikan penciptaan langit, bumi, dan bahkan diri mereka sendiri. Allah SWT berfirman:

مَا أَشْهَدْتُهُمْ خَلْقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَلا خَلْقَ أَنْفُسِهِمْ وَما كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّينَ عَضُداً

Ma asyhadtuhum kholqos samawati wal ardhi wa la kholqo anfusihim. Wa ma kuntu muttakhidzal mudhillina ‘adhuda 

Artinya:

“Aku tidak menghadirkan mereka untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.” (QS: Al-kahfi Ayat 51)

Ibnu ‘Asyur dalam tafsir al-Tahrir wat Tanwir menyampaikan bahwa masyarakat Jahiliah itu meyakini bahwa di muka bumi ini ada jin yang mengatur alam semesta. Saat masyarakat Jahiliah mendatangi gua yang sangat ditakuti, mereka berdoa, “Aku berlindung dengan penghuni mulia gua ini.” Doa itu dipanjatkan agar mereka aman dari bahaya.

Oleh karena itu, orang-orang yang mempunyai anggapan seperti ini diingatkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad. “Aku (Allah) itu tidak memberikan kekuatan apapun pada Iblis dan keturunannya, lantas mengapa kalian menakuti Iblis, dan bahkan sampai menyembahnya dan menyekutukan-Ku dengan Iblis. Langit, bumi, dan termasuk gua itu sudah lebih dahulu ada dibanding Iblis. Mengapa kalian mempertuhankan Iblis?!”

Di samping itu, menurut Imam al-Qusyairi dalam Lathaiful Isyarat, ayat ini juga menegaskan pada orang-orang yang terlalu percaya dengan perkataan ahli nujum, perdukunan, dan tabib. Sebagai orang yang beriman, hendaknya kita diminta untuk pasrah dan bertawakal pada Allah. Ketepatan seorang dokter dalam mendiagnosa hanya wasilah untuk mempermudah mengetahui penyakit yang diderita pasien. Pada hakikatnya Allah lah yang menyembuhkan.

Senada dengan Imam al-Qusyairi, Imam al-Qurthubi dalam al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an mengutip pendapat Ibnu ‘Athiyyah bahwa ayat ini ditujukan untuk memberi peringatan kerasa pada Iblis, keturunannya, para peramal, masyarakat Arab Jahiliah, dan orang-orang yang mendewakan jin.

Sementara itu, al-Tsa‘labi sebagaimana dikutip al-Qurthubi memerinci ditujukan kepada siapa ayat tersebut. Ma asyhadtuhum kholqos samawati diarahkan untuk menentang para peramal yang beranggapan bahwa bintang ini dan itu dapat memberikan isyarat kejadian di muka bumi. Redaksi wal ardh diarahkan untuk para arsitektur yang mendahului ketentuan Tuhan. Sementara itu, redaksi wa la kholqo anfusihim diarahkan untuk para pskiater yang beranggapan bahwa psikis seseorang itu paling berpengaruh terhadap jiwanya.