Tafsir Surat al-Kahfi Ayat 46: Amal Saleh itu Lebih Baik dari Harta Duniawi

Tafsir Surat al-Kahfi Ayat 46: Amal Saleh itu Lebih Baik dari Harta Duniawi

Tafsir Surat al-Kahfi Ayat 46: Amal Saleh itu Lebih Baik dari Harta Duniawi
Kitab-kitab yang disusun rapi.

Pada ayat 45 surat al-Kahfi, Nabi diminta menasihati umatnya bahwa harta duniawi itu bagaikan air yang tak mudah dikendalikan bila air itu melebihi batas. Pada ayat ini, Allah menunjukkan ada yang lebih baik dari harta duniawi, yaitu amal saleh. Allah SWT berfirman:

الْمالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَياةِ الدُّنْيا وَالْباقِياتُ الصَّالِحاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَواباً وَخَيْرٌ أَمَلاً

Almalu wal banuna zinatul hayatid dunya wal baqiyatus sholihatu khoirun ‘inda robbika tsawabaw wa khoirun amala 

 Artinya:

“Harta dn anak itu perhiasan kehidupan dunia. (Sementara) amalan-amalan saleh yang kekal itu pahalanya lebih baik dan lebih didambakan bagi Tuhanmu.” (QS: Al-Kahfi Ayat 46)

Membanggakan harta dan anak itu merupakan tradisi lumrah yang terjadi pada masyarakat Arab sebagaimana dijelaskan Ibnu ‘Asyur dalam tafsir al-Tahrir wat Tanwir. Syekh Ibnu ‘Asyur mengutip syair Tharfah bin al-‘Abd, penyair jahiliah, mengenai ketertarikan orang Arab terhadap harta dan keturunan.

فَلَوْ شَاءَ رَبِّي كَنْتُ قَيْسَ بْنَ عَاصِمٍ … وَلَوْ شَاءَ رَبِّي كَنْتُ عَمْرَو بْنَ مَرْثَدِ

فَأَصْبَحْتُ ذَا مَالٍ كَثِيرٍ وَطَافَ بِي … بَنُونَ كِرَامٌ سادة لمسوّد

Jika Tuhanku berkehendak, maka aku akan menjadi Qais bin ‘Ashim, aku akan menjadi ‘Amr bin Martsad.

Aku akan menjadi orang kaya, dikelilingi keturunan mulia dan pemimpin bagi kaumnya.

Dua nama di dalam syair tersebut, yaitu Qais bin ‘Ashim dan ‘Amr bin Martsad merupakan orang kaya yang hidup pada masa Jahiliah. Qais bin ‘Ashim masuk Islam pada tahun ke-9 Hijriah. Sementara ‘Amr bin Martsad itu saudagar asal Damascus yang hidup pada masa Jahiliah, dan masuk Islam. Umat Muslim yang beriman pada Allah diingatkan untuk tidak terlalu memikirkan duniawi secara berlebihan, sehingga dapat menyengsarakannya bila tidak digunakan untuk kemaslahatan umat banyak. Oleh karena itu, Allah memberikan petunjuk bahwa ada yang lebih baik daripada harta duniawi dan anak-anak yang dibanggakan, yaitu al-baqiyat al-sholihat.

Imam al-Qurthubi dalam al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an menjelaskan perbedaan pendapat mengenai tafsir dari al-baqiyatus sholihat dalam ayat di atas. Perbedaannya sebagai berikut:

Pertama, menurut riwayat Ibnu ‘Abbas, Ibnu Jubair, Abu Maisarah, dan ‘Amr bin Syurahbil, al-baqiyatus sholihat adalah shalat lima waktu.

Kedua, al-baqiyatus sholihat itu setiap perbuatan atau perkataan baik. Pendapat ini yang dianggap sahih oleh Imam al-Qurthubi, sebagaimana juga imam al-Thabari.

Ketiga, al-baqiyatus sholihat itu kalimat zikir subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim.

Keempat, al-baqiyatus sholihat itu niat dan cita-cita kuat.

Kelima, al-baqiyatus sholihat itu berarti anak wanita yang salihah.