Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 25-26: Kisah Ashabul Kahfi Berada di Gua Selama 309 Tahun

Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 25-26: Kisah Ashabul Kahfi Berada di Gua Selama 309 Tahun

Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 25-26: Kisah Ashabul Kahfi Berada di Gua Selama 309 Tahun

Dua ayat ini menjelaskan mengenai berapa lama Ashabul Kahfi berada di dalam gua. Allah SWT berfirman:

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعاً () قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِما لَبِثُوا لَهُ غَيْبُ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَداً

Wa labitsu fi kahfihim tsalatsata mi’atin sinina wazdadu tis‘a (25) Qulillahu a‘lamu bima labitsu lahu ghoibus samawati wal ardh. Abshir bihi wa asmi‘. Ma lahum min dunihi miw waliyyiw wa la yusyriku fi hukmihi ahada (26)

 Artinya:

“Dan mereka (Ashabul Kahfi) tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi) () Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS: Al-Kahfi Ayat 25-26)

Penggunaan kalimat wazdadu tis‘a untuk menjawab Ahlul Kitab yang merasa bahwa Ashabul Kahfi disebutkan hanya menetap di gua selama tiga ratus tahun saja, bukan tiga ratus sembilan tahun. Menurut Syekh al-Sya‘rawi, ayat di atas menandakan bahwa dalam hitungan tahun Masehi, Ashabul Kahfi disebutkan menetap di gua selaam tiga ratus tahun. Sementara itu, dalam hitungan tahun berdasarkan peredaran bulan, Ashabul Kahfi menetap selama tiga ratus sembilan tahun. Ahlul Kitab menganggap demikian karena berdasarkan hitungan peredaran matahari, bukan peredaran bulan.

“Jika engkau (Muhammad) ditanya mengenai berapa lama Ashabul Kahfi berada di dalam gua, sementara engkau tidak mengetahui hal tersebut, dan itu adalah ketentuan Allah, maka jangan coba-coba untuk mengajukan pendapat, tapi katakanlah, “Allah itu Maha Paling Tahu mengenai berapa lama mereka berdiam di gua, karena kegaiban langit dan bumi milik Allah.” begitu Ibnu Katsir menjelaskan ayat 26 surat al-Kahfi.

Apakah penyebutan Ashabul Kahfi menetap di gua selama tiga ratus tahun itu perkataan Ahlul Kitab atau Allah sendiri menceritakan tentang berapa lama Ashabul Kahfi berada di gua? Menurut pendapat Qatadah, sebagaimana dikutip Ibnu Katsir, perkataan itu adalah pernyataan Ahlul Kitab. Namun Ibnu Katsir tidak sependapat dengan riwayat Qatadah tersebut. Ibnu Katsir lebih memilih pendapat Ibnu Jarir al-Thabari yang berpendapat bahwa ayat tersebut merupakan informasi langsung dari Allah, bukan Allah menceritakan tentang Ahlul Kitab mengenai waktu berapa lama Ashabul Kahfi menetap di gua.

Sementara itu, Tahir bin ‘Asyur dalam al-Tahrir wat Tanwir menengahi dua pendapat di atas. Jika wa labitsu fi kahfihim adalah informasi dari Allah mengenai berapa lama Ashabul Kahfi menetap di gua, maka qulillahu a‘lamu bima labitsu itu merupakan penghentian perdebatan di antara Ahlul Kitab mengenai waktu Ashabul Kahfi menetap di gua, karena Allah lah yang paling tahu mengenai hal itu.

Namun jika wa labitsu fi kahfihim adalah penjelasan Allah menceritakan Ahlul Kitab mengenai percakapan mereka tentang lama waktu Ashabul Kahfi menetap, maka qulillahu a‘lamu bima labitsu merupakan bentuk pasrah Ahlul Kitab mengenai berapa lama Ashabul Kahfi di gua.  Sementara itu, ayat Ma lahum min dunihi miw waliyyiw wa la yusyriku fi hukmihi ahada merupakan sindiran pada orang-orang musyrik yang membahas menegnai fenomena Ashabul Kahfi ini.