Tafsir Surat Al-Ashr: Kiat Agar Tidak Merugi

Tafsir Surat Al-Ashr: Kiat Agar Tidak Merugi

Tahun baru menandakan babak baru dalam kehidupan kita. Karena itu di awal tahun ini kita coba memahami kandungan surat al-Ashr, surat yang menunjukkan tidak hanya pentingnya kita melihat dan memperhatikan waktu namun juga pentingnya kita mengisi waktu tersebut dengan nilai-nilai yang dapat memperkokoh kemanusiaan kita.

Menurut Ibnu Kathir, surat al-Ashr merupakan surat yang sangat populer di kalangan sahabat. Setiap kali mengakhiri suatu pertemuan, para sahabat menutupnya dengan surat al-Ashr.

Imam as-Syafi’i menyatakan bahwa walaupun pendek surat al-Ashr ini menghimpun hampir seluruh isi al-Quran. Kalau al-Quran tidak diturunkan seluruhnya dan yang turun itu hanya surat al-Ashr saja, maka itu sudah cukup untuk menjadi pedoman umat manusia.

Read More

At-Tabathaba’i menyebutkan dalam Tafsir al-Mizan, “Surat ini menghimpun seluruh pengetahuan qurani. Surat ini juga menghimpun seluruh maksud al-Quran dengan kalimat-kalimat indah dan singkat. Surat ini mengandung ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah, meskipun secara cirri, surat ini lebih tampak sebagai surat Makkiyah.”

Pada zaman Rasulullah, ada seorang nabi palsu, Musailamah al-Kazdzab, yang menyaingi Rasulullah dengan mendakwahkan dirinya sebagai nabi. Musailamah al-Kadzdzab bersahabat dekat dengan Amr bin Ash, salah satu sahabat Nabi yang termasuk terakhir dalam memeluk Islam. Ketika surat ini turun, Amr bin Ash belum masuk Islam, tapi ia pernah mendengarnya dan bahkan menghafalnya.

Ketika Amr bin Ash berjumpa dengan Musailamah al-Kadzdzab, Musailamah bertanya tentan surat ini: “Surat apa yang turun kepada sahabatmu di Mekkah?” Amar bin Ash menjawab, “Turun surat dengan tiga ayat yang begitu singkat, tetapi dengan makna yang begitu luas.” “Coba bacakan surat itu kepadaku!” kemudian surat itu dibacakan oleh Amr bin Ash. Musailamah merenung sejenak, lalu berkata, “Persis kepadaku juga turun surat seperti itu.” Amr bin Ash bertanya, “Apa isi surat itu?” Musailamah menjawab: “Ya wabr, ya wabr, Innaka udzhunani wa shadr. Wa sairuka hafrun naqr.” (Hai kelinci, hai kelinci, kau punya dada yang menonjol dan dua telinga. Dan di sekitarmu ada lubang bekas galian.

Mendengar itu, Amr bin Ash, yang masih kafir, tertawa terbahak-bahak, “Demi Allah, engkau tahu bahwa sebetulnya aku tahu yang kamu omongkan itu dusta.”

Dalam al-Quran, Allah sering bersumpah. Allah bersumpah dengan benda-benda, misalnya: “Wasy syamsi; Demi matahari!” (Q.S. al-Syams: 1); Allah juga bersumpah dengan waktu, misalnya wadh dhuha; demi waktu dhuha, “wal laili idza saja, demi malam apabila sudah mulai gelap” (Q.S. Ad-Dhuha: 1-2); Allah juga bersumpah dengan jiwa: “wa nafsiw wa ma sawwaha. Demi jiwa dan yang menyempurnakannya!” (Q.S. as-Syams: 7). Kendati demikian, Allah paling sering bersumpah dengan waktu. Dalam surat al-Ashr, Allah bersumpah dengan waktu: “wal-ashr”.

Ada perbedaan di kalangan ahli tafsir dalam mengartikan ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa al-Ashr itu adalah waktu asar dan ada pula yang mengartikannya sebagai waktu dhuha. Waktu dhuha ialah seperempat waktu pertama sedangkan waktu ashar  ialah seperempat waktu yang terakhir. Sebagian lagi ada yang berpendapat bahwa al-ashr itu ialah masa, misalnya, ashrus sahabah (masa sahabat), ashrur rasul (masa nabi). al-Ashr dalam bahasa Arab biasanya menunjukkan babak atau periodisasi, misalnya ashrul hadid yang berarti zaman besi di dalam sejarah.

Menurut sebagian besar ahli tafsir, wal ashr itu menunjukkan zaman Rasulullah. Allah bersumpah dengan zaman Rasul. Menurut Murtadha Mutahari seperti yang dikutip Kang Jalal, sebetulnya zaman itu, seperti juga makan (tempat), tidak ada yang baik dan tidak ada yang jelek. Tidak ada waktu yang mulia atau waktu yang hina. Tidak ada tempat yang suci dan tidak ada pula tempat yang kotor. Seluruh waktu sama derajatnya dan seluruh tempat juga sama derajatnya. Lalu apa yang menyebabkan satu waktu  memiliki nilai lebih tinggi dari waktu lain? hal demikian karena adanya peristiwa yang berkaitan dengan waktu itu. Satu tempat juga menjadi lebih mulia dari tempat-tempat yang lainnya bukan karena tempatnya melainkan karena tempat itu berkaitan dengn suatu kejadian atau peristiwa,

Jika Rasulullah tidak lahir di Mekkah atau Nabi Ibrahim tidak membangun Kabah di situ, maka kota Mekkah itu sama nilainya dengan Ciputat misalnya. Mekah menjadi mulia karena di situ ada peristiwa besar. Waktu-waktu dalam hidup kita sama semuanya, tetapi ada waktu-waktu tertentu dalam sejarah hidup kita yang punya nilai lebih tinggi.

Ayat kedua menyebutkan: Innal Insana la fi khusr; sesungguhnya manusia dalam kerugian. Dalam kata Insan, terkandung dua sifat: sifat hayawaniyyah dan sifat insaniyyah. Manusia dengan sifat kebinatangannya sama dengan binatang yang lain, misalnya ingin makan, minum, ingin memperoleh kenikmatan hidup. Banyak ahli yang membedakan antara istilah kebahagiaan dan kenikmatan. Binatang tidak pernah memiliki kebahagiaan tapi kenikmatan. Dari segi ini kita sama dengan binatang. Makan enak belum tentu bahagia. Mungkin yang kita peroleh adalah kenikmatan. Misalnya kita pergi merantau jauh dan lama lalu pulang menemui keluarga. Saat itu tidak hanya kenikmatan yang kita rasakan namun juga kebahagiaan.

Lalu apa yang membedakan kenikmatan dan kebahagiaan? Kenikmatan itu sifatnya hayawaniyyah sedangkan kebahagiaan sifatnya insaniyyah. Ayat kedua surat al-Ashar ini seolah menekankan kepad kita bahwa manusia itu berbeda dengan binatang  yang memperoleh kebinatangannya tanpa melalui proses usaha. Manusia dalam kerugian karena manusia harus mengembangkan nilai-nilai kemanusiannya dengan keinginannya sendiri. Lalu pertanyaannya, apa yang membedakan nilai seorang manusia yang satu dengan manusia lainnya? Yang membedakannya ialah sejauh mana setiap orang mengembangkan nilai kemanusiannya. Apa yang bisa mengembangkan nilai kemanusiannya? Jawabannya ada di ayat ketiga, alladzina amanu wa amilus salihat. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih. Jadi ada dua hal yang mengembangkan nilai kemanusiaan: iman dan amal salih.

Nilai masyarakat juga diukur dari iman dan amal saleh. Masyarakat yang rendah adalah masyarakat yang tidak beriman dan tidak beramal saleh. Menurut surat al-Ashr ini, kewajiban kita tidak hanya mengembangkan sifat insaniyyah kita, namun juga mengembangkan masyarakat insaniyya atau masyarakat yang memiliki sifat kemanusiaan. al-Quran menyebutkan dua caranya, yaitu tawa shoubil haq dan tawashou bis shabr. al-Quran tidak menggunakan kata tanashahu (saling memberi nasihat), tapi saling memberi wasiat. Kenapa demikian? Wasiat itu lebih dari sekedar nasihat. Nasihat itu boleh dilaksanakan boleh tidak tetapu wasiat itu harus didengar dan dilaksanakan.

Pada kata tawashaou, kita bukan hanya menjadi subjek tetapi sekaligus juga menjadi objek. Kita bukan saja yang menerima wasiat tetapi juga yang diberi wasiat. Apa yang harus diwasiatkan? al-haq dan as-shobr. Sebagaimana iman tidak bisa dipisahkan dari amal salih, al-haq juga tidak bisa dipisahkan dari as-shabr. Jadi tidak dikatakan beriman kalau tidak saleh dan tidak dikatakan membela kebenaran kalau tidak tabah membela kebenaran itu.

Kesimpulannya, dari surat yang pendek ini, Allah mengajarkan kepada kita bahwa kita berada pada tingkat yang rendah atau dalam kerugian apabila kita tidak mengembangkan diri kita dengan iman dan amal salih. Masyarakat kita juga menjadi masyarakat yang rendah bila masyarakat kita tidak menegakkan al-haq dan as-shabr di tengah-tengah masyarakat.

Awal tahun ini menjadi penting bagi kehidupan kita jika kita memulai dan mengisinya nya dengan nilai-nilai yang lebih positif. Surat al-Ashar mengajarkan kepada kita tentang betapa pentingnya waktu dan mengisi waktu itu untuk membentuk nilai  dan kualitas kemanusian kita. semoga kita menjadi manusia-manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu. Amin.