Surat Al-Waqi’ah Ayat 60-62: Kekeliruan Orang yang Tidak Percaya Hari Kebangkitan

Surat Al-Waqi’ah Ayat 60-62: Kekeliruan Orang yang Tidak Percaya Hari Kebangkitan

Surat Al-Waqi’ah Ayat 60-62: Kekeliruan Orang yang Tidak Percaya Hari Kebangkitan

Dalam surat al-Waqi’ah ayat 57-59, Allah menjawab argumen orang yang tidak percaya adanya hari kebangkitan dengan menunjukkan kontradiksi pemikiran mereka: di satu sisi percaya Allah sebagai pencipta, tapi meragukan kemampuan Allah untuk membangkitkan mereka dari kematian. Padahal, membangkitkan kembali justru lebih mudah dibanding menciptakan. Pada surat al-Waqi’ah ayat 60-62 ini ditegaskan bahwa Allah SWT mampu membangkitkan orang meninggal dan menciptakan manusia. Allah berfirman:

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ () عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ أَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِي مَا لَا تَعْلَمُونَ () وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْأَةَ الْأُولَى فَلَوْلَا تَذَكَّرُونَ

Nahnu qaddarnaa bainakumul mauta wamaa nahnu bimasbuuqiin. ‘Ala annubaddila amtsaalakum wanunsyiakum fii maa laa ta’lamuun. Walaqad ‘alimtumun nasyatal uulaa falaulaa tadzakkaruun.

Artinya: 

“Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan. Untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. Dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?” (QS: Al-Waqi’ah ayat 60-62)

Imam Ibnu ‘Asyur menjelaskan  kematian manusia merupakan kuasa Allah. Ini adalah sebuah fakta yang diyakini, disaksikan dan tidak bisa dihindari oleh manusia. Manusia tidak bisa menolak datangnya kematian, juga tidak bisa memperlambatnya. Kematian manusia adalah sesuatu di luar kekuasaan manusia itu sendiri.

Setelah datangnya kematian, manusia juga tidak dapat menentukan apa yang terjadi setelah kematian mereka kelak. Entah apakah mereka akan digantikan posisinya, diambil harta serta keluarganya, atau diambil alih kekuasaannya oleh manusia lain. Atau bahkan makhluk lain yang bukan berasal dari ras manusia. Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ () وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

Artinya:

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah.” (QS: Ibrahim ayat 19-20)

Manusia juga tidak bisa menentukan kelak bila dibangkitkan kembali oleh Allah akan berbentuk seperti apa. Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa bisa saja kelak manusia dibangkitkan kembali dengan sifat dan keadaan yang berbeda. Imam Jalaluddin Al-Mahalli mencontohkan, bisa saja manusia dibangkitkan kembali dalam bentuk kera atau babi.

Ibnu ‘Asyur menjelaskan, frasa fii maa laa ta’lamun (dalam keadaan yang tidak kamu ketahui) di dalam ayat 61 menyinggung dua hal yang tidak diketahui oleh manusia, yaitu tentang proses bagaimana manusia dibangkitkan kembali dari kematian, serta hasil jadi setelah dibangkitkan. Dan ini menambah panjang kebutaan manusia tentang bagaimana sebenarnya perihal dibangkitkannya manusia dari kematian. Sehingga tak selayaknya manusia dengan sombong menolak keberadaannya.

Allah kemudian mendorong manusia untuk mengingat kembali penciptaan pertama mereka. Agar manusia tahu bahwa penciptaan kedua mereka, atau dibangkitkannya mereka, juga sama dengan penciptaan pertama mereka. Sama-sama berkaitan erat dengan kekuasaan Allah. Dan juga sama-sama tidak diketahui manusia bagaimana kerumitan prosesnya.