Sufi Nyentrik yang Nekat

Sufi Nyentrik yang Nekat

Bahlul adalah sufi masyhur di zaman khalifah Harun Al Rasyid. Orang awam mengganggapnya sebagai tokoh yang nyentrik bahkan gila. Hal ini dikarenan perilakunya yang nyeleneh. Namun para sufi menganggapnya sebagai seorang wali karena nasehatnya sangat bijak.

Sudah bukan rahasia lagi kelakuannya yang gilanya karena ingin menyembunyikan kecendekiawanannya. Raja Harun al Rasyid adalah salah satu orang yang sering meminta nasehatnya. Maka tak heran kalau Bahlul bisa masuk dengan bebasnya di istana. Sang Raja pun sangat menghargai bimbingannya.

Pada suatu waktu, Bahlul sufi gila ini masuk ke istana. Di dalam istana, ia menemukan singgasana Raja kosong. Dengan enteng dan tanpa dosa bahlul lalu langsung mendudukinya. Padahal menduduki kursi raja dalah salah satu perbuatan berat dan tidak terampuni.

Read More

Sontak kenyentrikan Bahlul ini mengundang amarah para pengawal raja. “ Apa maumu Bahlul. Apa kau tidak mengetahui hukuman apa yang akan menimpamu nanti,” ujar pengawal. Tanpa ampun Bahlau segera ditangkap. Tubuhnya diseret dan dipukuli. Bahlulpun berteriak dan menangis. Saking kerasnya Khalifah Harunpun mendengar dan datang ke tempat kejadian. Para pengawal menangkap Bahlul, menyeretnya turun dari tahta, dan memukulinya.

Bahlul masih menangis keras saat Raja menanyakan musabab keributan kepada para pengawal. Raja berkata pada pengawalnya, “Kasihan! Orang ini gila. Mana ada orang waras yang berani menduduki singgasana Raja?” Sesaat kemudian Khalifah berpaling ke arah Bahlul, “Sudahlah, jangan menangis. Jangan kuatir, cepat hapus air matamu.”
Mendnegar perkataan Khalifah, Bahlul menjawab, “Wahai Raja, bukan pukulan mereka yang membuatku menangis. Aku menangis karena kasihan terhadapmu!” sontak jawaban bahlu membuat Khalifah kaget,” Mengapa engkau justru menangisiku?”

Sesaat kemudian Bahlul menjawab, “Wahai Raja, aku cuma duduk di tahtamu sekali tapi mereka telah memukuliku dengan begitu keras. Apalagi kau, kau telah menduduki tahtamu selama dua puluh tahun. Pukulan seperti apa yang akan kau terima? Aku menangis karena memikirkan nasibmu malang yang akan menimpu.”

Mendengar jawaban itu Khalifah Harun Al Rasyidpun menjadi terdiam.