Sudahkah Sunnah Jadi Cahaya Hidup Kita?

Sudahkah Sunnah Jadi Cahaya Hidup Kita?

Sudahkah Sunnah Jadi Cahaya Hidup Kita?

Selama ini, sunnah-sunnah Nabi diajarkan sebagai tradisi, bukan dengan penjelasan ilmiah, ataupun argumentasi yang berbasis pengetahuan. Sunnah-sunnah Nabi, dalam ulasan Syaikh Muhammad bin Abdurrahman, menjadi jernih, mengalir dan penuh dengan wawasan pengetahuan. Syaikh Muhammad merupakan ulama terkenal yang tinggal di Jeddah, serta memiliki kepedulian pada dakwah Islam berbasis media digital.

Dalam narasi di buku ini, Fattabi’uni, Ikuti Sunnahku: Agar Rumah Diterangi Sunnah, tergambar kisah betapa Nabi Muhammad sangat mementingkan serta menganjurkan kepada ummatnya, untuk selalu membaca basmalah. Teladan Nabi, dalam mempraktikkan bismillah sebagai kunci pembuka keberkahan dalam segenap perbuatan, yang menjadikan setiap perbuatan menjadi ibadah.

“Pernah suatu hari, dalam shalat beliau mengucapkan bismillahirrahmaanirrahim, lalu mengulanginya lagi, dan lagi, sampai-sampai beliau mengulanginya sebanyak dua puluh kali dalam satu kesempatan. Apa kiranya yang beliau rasakan saat itu?” tulis Syaikh Muhammad dalam buku ini, tidak lain, adalah agar umat muslim menyadari betapa besar nilai bismillah (hal.5).

Setiap sunnah Nabi, menghadirkan kebaikan sekaligus pahala. Kebaikan-kebaikan ini, karena apa yang dilakukan Nabi mengandung argumentasi dan penjelasan ilmiah yang bermanfaat bagi semesta, meski penjelasan ilmiahnya terkadang menunggu pembuktian zaman.

Dalam etika memilih rumah, Nabi Muhammad menganjurkan agar memilih tetangga sebelum memilih rumah. “Al-jaar qabla ad-daar,” dahulukan memilih tetangga sebelum memilih rumah. Selain itu, Nabi juga menganjurkan agar memilih teman terlebih dahulu, sebelum memilih jalan. Intinya, teman dan tetangga menjadi bagian penting yang menentukan langkah manusia selanjutnya.

Dalam buku ini, Syaikh Muhammad bin Abdurrahman mengulas bagaimana Nabi Muhammad memahami kenikmatan. Rasul bersabda, “Menyebut-nyebut nikmat Allah merupakan rasa syukur,”. Dalam hal ini, ketika orang merasakan kenikmatan, yang pertama diucapkan dan tergetar dalam hatinya adalah nama Allah. Asma Allah-lah yang harusnya terucap dalam segala kondisi kenikmatan, sebagai ungkapan syukur atas karunia yang dirasakan sebagai makhluk.

Lebih lanjut, Syaikh Muhammad bin Abdurrahman mengulas bahwa ada tingkatan syukur. Pertama, orang yang mengetahui bahwa nikmat berasal dari Allah. Kedua, beramal sebagai kompensasi (ganti) atas nikmat tersebut, serta menggunakan nikmat tersebut untuk mencari Ridha Allah. Ketiga, orang yang merasa dirinya tidak sanggup memuji Allah. (hal. 35). Dalam hal ini, penjelasannya, saking besarnya nikmat yang diberikan Allah kepada manusia, maka tidak mungkin pujian kepada Allah seimbang dengan nikmat yang telah dihamparkan.

Keutamaan Sedekah
Nabi Muhammad menganjurkan kepada umatnya untuk saling berbagi, saling memberi apa yang menjadi bagian dari kesanggupan untuk menebar kebaikan. Memberi, menjadi keutamaan ibadah dan amal shalih. Infaq dan sedekah, merupakan pembuka rizki dan penyambung silaturahmi.

Alkisah, Nabi Muhammad diberi hadiah oleh perempuan Anshar bernama Ummu Sulaim. Perempuan ini tidak punya apa-apa, lantas membawa putranya bernama Anas bin Malik, yang saat itu berusia sepuluh tahun. Ummu Sulaim berkata: “Wahai Rasulullah, kulihat kawan-kawanku memberi engkau susu, makanan dan minyak wangi, sedangkan aku tidak punya apa-apa. Maka, aku membawa anakku ini untuk melayani dan membantu engkau dalam segala keperluanmu”.

Hadiah dari Ummu Sulaim, merupakan hadiah yang unik. Anas bin Malik, di kemudian hari menjadi seorang ahli fiqh dan ulama senior, karena senantiasa menemani Rasulullah.

Buku ini, menjadi bagian penting dari upaya untuk menjadikan Islam sebagai agama yang menebarkan keramahan, bukan mengumbar amarah. Dalam dakwahnya, Syaikh Muhammad bin Abdurrahman justru menjadikan Islam sebagai agama yang mempermudah, bukan mempersulit pemeluknya.

Dengan demikian, nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam, dengan sendirinya menjadi bagian integral dari siklus untuk memahami inti cinta kasih Allah, Tuhan yang Maha Penyayang dan penebar Rahmat.[]

Info Buku:
Syaikh Muhammad bin Abdurrahman | Fattabiuuni, Ikuti Sunnahku: Agar Rumah Diterangi Sunnah
Noura Books, Juni 2016
ISBN: 978-602-385-142-3

*Munawir Aziz, penikmat buku, bergiat di Gerakan Islam Cinta dan PPM Aswaja (Twitter: @MunawirAziz)