Subhanallah, Beginilah Kesederhanaan Hidup Rasulullah SAW

Nabi hidup sederhana, inilah rumah beliau yang coba digambar ulang oleh para ilmuwan dalam format 3D

Subhanallah, Beginilah Kesederhanaan Hidup Rasulullah SAW

Rasulullah SAW terkenal sebagai sosok yang memiliki akhlak dan karakter yang baik dan menjadi panutan bagi umat Islam. Tak hanya itu, perjalanan hidup Rasulullah SAW juga begitu luar biasa. Dalam hidupnya, Rasulullah SAW pernah mengalami kemiskinan dan juga pernah mengalami kekayaan. Meskipun demikian, Beliau SAW selalu hidup dengan sederhana dan bersahaja. Lalu bagaimanakah kesederhanaan hidup Rasulullah SAW?

Karena begitu sederhananya, Rasulullah SAW tidak pernah menikmati roti sampai kenyang hingga ajalnya. Dari Abu Hurairah RA, ia berkali-kali mengarahkan jarinya ke mulutnya, sembari mengatakan, “Rasulullah SAW dan keluarganya tidak pernah merasa kenyang dalam tiga hari berturut-turut karena memakan roti gandum. (Keadaan tersebut terus berlangsung) hingga beliau berpisah dengan dunia.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Dalam hadist lain, Aisyah RA juga mengatakan, “Tidak pernah keluarga Muhammad SAW kenyang dengan makanan dari gandum halus selama 3 hari berturut-turut, sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau diwafatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Tak hanya itu, keluarga Rasulullah SAW juga pernah tak memasak apapun selama sebulan. Mereka hanya mengkonsumsi kurma dan air saja. Sebagaimana Aisyah RA mengatakan, “Sesungguhnya kami, keluarga Muhammad pernah selama sebulan tidak menyalakan api (tidak memasak apapun) kecuali kurma dan air.” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)

Read More

Bahkan, Rasulullah SAW pun pernah tidur hanya dengan menggunakan tikar dan bantal dari kulit kambing. Umar menceritakan tentang kebersamaannya bersama Rasulullah SAW, “Aku pernah berkunjung menemui Rasulullah SAW. Waktu itu beliau berada dalam sebuah kamar, tidur di atas tikar yang tidak beralas. Di bawah kepalanya ada bantal dari kulit kambing yang diisi dengan sabut. Pada kedua kakinya daun penyamak terkumpul. Di atas kepalanya, kulit kambing tergantung. Aku melihat guratan anyam tikar di sisi perutnya, maka aku pun menangis.”

Beliau mengatakan, “Apa yang menyebabkanmu menangis (ya Umar)?” “Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar dalam keadaan mereka (selalu di dalam kesenangan, kemewahan, dan serba cukup), padahal engkau adalah utusan Allah.” Jawab Umar. Umar hendak menyatakan, Anda lebih layak menikmati isi dunia dibanding raja-raja itu karena Anda adalah utusan Allah. Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Apakah Engkau tidak senang, bahwa dunia ini bagi mereka dan akhirat untuk kita?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dengan kesederhanaan tersebut, apakah yang ingin Rasulullah SAW ajarkan kepada umat Islam? Sesungguhnya, Rasulullah SAW tidak ingin mengajarkan umat Islam untuk hidup miskin. Namun Rasulullah SAW ingin mengajarkan bahwa bersikap qanaah atau merasa cukup dan bersyukur atas keadaan apapun dalam hidup sangatlah penting. Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah sementara dan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya.

Sehingga Rasulullah SAW pun tak ingin umatnya terus menerus mengejar dunia hingga melupakan kehidupan akhirat. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Bergembiralah dan harapkanlah memperoleh sesuatu yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian.  Namun yang aku takutkan adalah ketika dunia dibentangkan pada kalian, sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Maka kalian akan berlomba-lomba sebagaimana mereka dulu telah berlomba-lomba (untuk mendapatkannya). Lalu kalian akan binasa sebagaimana mereka dulu telah binasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa hakikat dunia lebih hina dari harga seekor bangkai kambing yang cacat. Sebagaimana Rasulullah berkata kepada para sahabat, “Demi Allah, dunia itu lebih hina bagi Allah daripada pendapat kalian tentang anak kambing ini.” (HR. Muslim dan Ahmad) Demikianlah hakikat dunia di mata Rasulullah SAW, sehingga beliau hanya meletakkan dunia di tangan dan tak memasukkannya ke dalam hati. Sebab pada hakikatnya dunia ini hanya sementara dan akhiratlah kehidupan abadi yang sesungguhnya.

Wallahu a’lam.