Sisi Kiri Pemikir Islam Bernama Muhammad Iqbal

Sisi Kiri Pemikir Islam Bernama Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal adalah seorang pemikir yang pemikirannya begitu kiri

Sebagai mahasiswa jurusan Akidah Filsafat, perjumpaan saya dengan pemikiran Sir Muhammad Iqbal yaitu saat salah seorang senior memaparkannya di diskusi rutin kami. Dia mendedahkannya dengan sangat piawai, bahkan saat itu saya sangat kagum dengan rekonstruksi pemikiran Islam ala Iqbal. Pilihan masuk ke jurusan yang disebut-sebut sebagai jurusan paling berat dan membingungkan pun menjadi semakin mantap.

Namun seiring perjalanan waktu, kekaguman saya terhadap Iqbal semakin terpendam dalam alam bawah sadar disebabkan perkenalan saya dengan pemikiran-pemikiran lain, seperti Emmanuel Levinas, Karl Marx, Herbert Marcuse dan filsuf-filsuf pascamodern. Di dunia pemikiran Islam, Iqbal mendapatkan penghargaan yang cukup tinggi dikarenakan kemampuan Iqbal dalam memadukan antara kerumitan filsafat barat dengan keeksotisan filsafat timur, khususnya Islam.

Sir Muhammad Iqbal, dilahirkan di Punjab 9 Nopember 1877 dan meninggal 21 April 1938. dalam ranah pemikiran Islam, Muhammad Iqbal dikenal dengan syair-syairnya yang menonjol di kalangan sastrawan Pakistan, India bahkan juga di dunia Internasional. Karya puitiknya yang terkenal Asrar El-Khudi yang memuat syair-syair bernuansa sufisme. Namun adi karya dari Muhammadi Iqbal adalah Rekonstruksi Pemikiran Agama Dalam Islam yang diterjemahkan oleh Ali Audah Dkk.

Read More

Iqbal adalah seorang pemikir yang lahir dalam sebuah masa dan tempat yang kemudian menempatkannya sebagai pemikir terkemuka. Pakistan, di mana Iqbal dilahirkan, adalah sebuah negara yang sedang berusaha menghapus bekas-bekas kolonialisme yang membuat masyarakat muslim di sana sangatlah tertindas. Di sini kesadaran akan kesadaran agama bagi Iqbal harus direkonstruksi. Disinilah Muhammad Iqbal menawarkan konsep “dinamisme Islam”, dorongan untuk kaum muslimin agar bergerak dan jangan tinggal diam. Umat Islam harusnya bangkit untuk membangun dunia yang baru. Iqbal mengecam mereka yang tidak bergerak adalah muslim yang “suka tidur”.

Iqbal memproklamasikan gerakan kaum muslimin ini dalam narasi indah : “Di dalam ladang yang hangus dan terinfeksi pes ini, semangat Islam terus menguak. Di dalam tanah ini tersembunyi sebuah sumber budaya yang dibanjiri esensi kehidupan, hakikat pertumbuhan tunas budaya dan pergerakan. Jika anda meredam akar kering dan pendek, yang sekarang ini tetap terbuka di atas tanah, diancam oleh air berpolusi dan angin beracun yang bertiup dari barat, menjangkau sampai kedalaman tanah gembur budaya anda.

Jika anda mendapatkan semangat juang dan teanaga dari kehidupan dan keyakinan Islam pertama, di samping racun yang melanda tanah Islam yang rontok dan terendam ini sebagai akibat pencuri dan perampok dari budaya barat, anda kan mampu mengembangkan kekuatan dan kekukuhan, seperti batang pohon teguh dan berani. Kemudian anda akan seperti mereka, tumbuh dari akar anda sendiri, dan sekali lagi suatu peradaban yang muncul dari kehidupan, kehijauan dan penyemaian rimba yang hancur dan menderita ini.”

Sedangkan proklamasi Iqbal di atas bermakna perlunya rekonstruksi diri sebagai bagian dari rekonstruksi berpusat pada kebudayaan yang didasarkan pada data-data otentik dan objektifitas. Kesadaran ini akan memunculkan Islam yang revolusioner yang ada dalam semangat ini sudah seharusnya ada dalam setiap orang. Islam yang muncul bukanlah yang tidak menghasilkan pergerakan di tengah kita, tetapi malah menenggelamkan kita ke dalam kediaman, berpangku tangan, dan merasa puas dalam pemahaman Islam yang kita miliki saat ini.

Islam model seperti ini menurut Syariati, memunculkan kekecewaan dan pesimisme kepada alam, kehidupan, masyarakat dan bahkan Islam itu sendiri. Islam yang membuat kita menunda semua yang kita harapkan kepada “setelah kematian” inilah yang kemudian diterjemahkan oleh kita sebagai sikap kita dalam beragama.

Ali Syariati, yang dikenal sebagai pemikir revolusioner dalam galaksi pemikiran Islam, pernah menuliskan sebuah karya yang memandang Iqbal sebagai fokus bahasannya. Sebagai pemikir Marxis, Ali Syariati pun mengapresiasi pemikiran Iqbal dalam kaca mata Marxis. Pada awal membaca apresiasi Ali Syariati ini, saya kembali mengembara pada saat pertama kali bertemu dengan pemikiran Iqbal ini. Sebab pada saat itu sisi Marxis dari pemikiran Iqbal sama sekali tak terlihat, namun di tangan dingin dan kecerdasan Syariati, sisi itu sangat terasa bahkan merekonstruksi pemahaman saya selama ini.

Syariati menuliskan sebuah ilustrasi indah dalam menggambarkan sosok Iqbal, “Manusia ini tampil seperti pohon yang tinggi, subur, berdaun rimbun dan berbuah lebat, dan sepanjang masa. Ketika tanah ladang Islam dan budaya Islam telah terinfeksi oleh penyakit pes serta telah tenggelam ke dalam kesedihan dan kematian seperti keheningan musim gugur. Banjir dan badai pencerabutan kolonialisme Barat telah jatuh tepat di atasnya sementara petani-petani yang terlanda bencana tertidur pulas, dan penolongnya bahkan telah berubah menjadi pencurinya. Tuan Tanahnya? Semua gerombolan pemangsa dari serigala, rubah dan anjing hutan.”

Di sebuah ilustasi yang lain, Syariati malah lebih menohok. “Pada suatu musim dan semacam puing ladang, tiba-tiba bisa muncul di sana seorang manusia, seperti pohon cemara yang tegak tertangkap oleh mata seorang kawan ataupun lawan. Dia berbicara kepada semakan yang lemah, pepohonan yang kuning dan bergetar, tetunasan yang lembut dan masak, begitupun ribuan benih yang mengandung ratusan hasrat dan emosi yang mekar dan berkembang, kepala-kepala mereka mencuat dari tanah, wajah mereka menghadap ke langit, semua terkubur di bawah kaki musuh, semua yang kehilangan rasa takut dari musim menakutkan dan bencana banjir, memasuki nasib Mati diam-diam dan membusuk dengan tenang

 

Dalam dua ilustrasi awal, terlihat sekali Iqbal dalam sudut pandang Syariati adalah sosok yang berani melawan “pembusukan”, penindasan dan bahkan penjajahan terhadap kemanusiaan. Sebuah kebudayaan dibangun menurut Iqbal dari perjuangan dan perlawanan. Sebab ketakutan hanya akan mengikat kebodohan pada masyarakat kita, dan yang merasa takut akan kesadaran atas penindasan adalah mereka yang bertanggung jawab atas kejumudan massa yang disebut Syariati seperti segerombolan domba yang sedang terancam.

Kesadaran inilah yang membuat saya menilai ilustrasi Syariati dalam melihat sisi dari Iqbal yang selama ini jarang dilihat kebanyakan orang yaitu semangat revolusioner. Kesadaran dari seorang yang disamakan oleh Syariati dengan Ali RA yang jarang sekali tertidur karena takut ada umat muslim saat itu yang hidup dalam kelaparan, yang seharusnya mengembalikan Islam yang bisa mentrasnformasikan seorang buta huruf, tidak mengetahui apapun tentang dunia atau tanah airnya, bernama Jandab bin Janabah menjadi seorang yang semangat revolusioner dan berjuang melawan terhadap penindasan dan pemiskinan tak pernah padam, yang selama ini kita kenal bernama Abu Dzar Al-Ghifarri.

 

Fatahallahu alaihi futuh al-Arifin