Simbolisme Tradisional dan Jubah Tengku Zulkarnain

Simbolisme Tradisional dan Jubah Tengku Zulkarnain

Jika dipikir-pikir ada yang menarik–jika tidak mau dikatakan janggal–soal pudarnya semangat tepa slira dan tenggang rasa yang marak terjadi belakangan. Menariknya begini: mengapa orang-orang dulu yang notabene belum mengenal sekolahan malah memiliki rasa tepa slira dan tenggang rasa yang tinggi, sebaliknya kita yang anak sekolahan ini semakin ke sini semakin anti liyan?

Jean Coeteau punya tawaran jawaban manarik. Dia bilang bahwa fenomena memudarnya tepa slira dan tenggang rasa disebabkan oleh fenomena hilangnya simbolisme tradisional.

Apa itu simbolisme tradisional? Yakni kearifan yang muncul dari serangkaian instrumen simbolis. Biasanya dilakukan melalui cerita-cerita arif yang tertuang dalam tembang, macapat, folklore, dan juga dongeng.

Read More

Di sanalah sumber simbolisme tradisional. Orang terbiasa menyerap hikmah dan kearifan dari hasil perenungan dan penyerapan serta pemahamannya terhadap cerita-cerita tersebut.

Nenek moyang kita tidak pernah ribut-ribut perkara yang hari kita kerap ributkan, utamanya menyangkut tafsir tentang keyakinan. Mereka sangat paham bahwa sampai kapan pun tafsir tetaplah tafsir. Ia tidak ada yang mutlak. Tidak ada tafsir yang seratus persen benar.

Pendapat kita tentang kerbau sama sekali berbeda dengan kerbau itu sendiri. Pendapat atau opini itulah yang disebut dengan tafsir. Dan itu beragam sekali. Jumlahnya bejibun. Habis usia kita hanya untuk berdebat soal tafsir siapa yang paling benar.

Nah, pada etape inilah manusia modern tidak kunjung lulus. Cakrawala pengetahuan yang luas hasil memakan bangku sekolah nyatanya tidak serta merta berbanding lurus dengan luasnya ufuk pemahaman.

Seorang ustaz bilang begini di twitter, saya kutip lengkap dan apa adanya “Jubah Utk Sholat Lbh Baik dr BATIK Utk Sholat. Jubah Utk Demo Bela Agama Lbh Baik dr BATIK Utk Bela Penista Agama. JUBAH lbh BAIK dr BATIK!”.

Perkataan seperti itu, kita tahu, adalah perkataan yang aneh bin ajaib. Perkataan barangkali semestinya hanya bisa keluar dari dubur ayam. Nir logika dan cacat penalaran. Anehnya ini keluar dari bibir seorang ustaz yang juga pengurus Majlis Ulama.

Membaca cuitan seperti itu saya jadi kepingin nanya kepada Pak Ustaz apakah ideologi atau keyakinan bisa disematkan pada benda-benda mati? Apakah rambananwit-witan, tumbuh-tumbuhan dan juga bebatuan memiliki ideologi? Apakah enceng gondong dan randu alas itu beragama? Menurut saya kok tidak. Kecuali otak kita krowak dan sigar separuh, kita tidak akan pernah mengatakan bahwa ketupat itu agamanya Islam. Cemara itu agamanya Kristen. Pagoda salep keyakinannya Konghucu.

Ukuran muslim dan tidaknya sesorang itu bukan terletak pada atribut yang dikenakannya. Bukan pada jubah, namun pada ketundukan dan kaikhlasan serta ketakwaan yang semuanya itu adanya dalam hati.

Memangnya dalam menilai hambanya saat beribadah, Tuhan memasukkan instrumen fashion sebagai salah satu mata penilaiannya? Saya rasa kok tidak. Tuhan ndak menilai fashion kita. Beragama bukanlah kontes fashion. Tidak ada pakaian yang lebih islami. Patokan ibadah itu esoteris. Soal iman dan juga kepasrahan.

Kalau memang ukurannya jubah, Abu Jahal dan Abu Lahab juga jubahan. Padahal mereka berdua jelas-jelas memusuhi Kanjeng Nabi Muhammad selama hidupnya. Apakah hanya karena memakai jubah lalu kemudian kita menganggap sebagai pribadi yang muslim? Sejongkok-jongkoknya nalar, saya rasa kok tidak ada pernah punya kesimpulan seperti itu.

Saya jadi teringat kisah tentang seorang arif bijaksana yang sengaja datang ke sebuah majlis dengan baju yang compang-camping. Sang tuan rumah dan juga jamaah majlis tidak ada yang tahu sama sekali keberadaan seorang arif bijaksana tersebut sehingga menyilahkannya duduk di luar rumah. Lama sekali majlis tidak dimulai. Seluruh yang hadir menunggu kedatangan seorang arif bijaksana yang sejatinya telah hadir di majlis itu.

Jamaah mulai gusar. Air muka tuah rumah mulai gelisah. Khawatir jika sang arif bijaksana tidak datang. Pun juga dengan jamaah yang hadir, semuanya gelisah.

Selang beberapa saat, Sang arif bijaksana yang sedari tadi duduk di luar, berdiri dan beranjak dari tempat duduknya. Ia bergegas menuju pelataran rumah. Ia berganti pakaian yang telah ia siapkan di semak-semak sebelah rumah. Ia memakai jubah lengkap dengan sorban dan juga udengnya. Sejurus kemudian ia bergegas kembali menuju majlis.

Berjalan santai dan penuh wibawa, sang arif bijaksana disambut, dimuliakan, dan diciumi tangannya oleh tuan rumah dan jamaah yang hadir. Sang arif bijaksana disilahkan duduk di tempat yang sudah disediakan untuknya di dalam rumah.

Sesaat sebelum majlis akan dimulai, sang arif bijaksana berdiri. Ia melumuri seluruh jubahnya dengan jajanan yang ada di depannya. Kemudian sang arif bijaksana mencopot jubah, udeng, dan juga sorbannya tersebut satu persatu. Semuanya tanggal. Saat itulah terlihat jelas pakaian asli sang arif bijaksana yang dikenakanya tadi sebelum memakai jubah.  Semua mata terbelalak, terutama tuan rumah. Ia ingat betul, pakaian yang dikenakan sang arif bijaksana adalah pakain gembel yang ia silahkan untuk duduk di luar rumah.

Sang arif bijaksana berkata “jika memang yang kalian hormati adalah pakaian dan kain-kain itu, maka saat ini ciumilah benda-benda itu.”

Jamaah menunduk. Menangis. Menyesal sembari menatapi jubah yang teronggok itu dengan tatapan yang nanar.

Cerita di atas adalah contoh simbolisme tradisional yang dulu kerap diajarkan, diwariskan dan dilestarikan secara turun temurun. Dan sayangnya hari ini sudah mulai hilang ditelan kajahilan yang murakab. []

Pertama kali dimuat di media komunitas Omahaksoro.com