Sikap Seorang Katolik Tentang Wanita Bawa Anjing ke Masjid

Sikap Seorang Katolik Tentang Wanita Bawa Anjing ke Masjid

Saya katolik, ini pendapat saya tentang wanita masuk masjid dengan anjing

Tiba-tiba kita dikejutkan video pendek seorang wanita memasuki sebuah masjid dengan memakai alas kaki dan membawa anjing. Ia terlihat beradu mulut dengan beberapa orang di dalam masjid tersebut.

Saya secara pribadi merasa prihatin atas kejadian itu. Sejauh saya tahu masjid adalah tempat yang suci bagi umat Muslim. Karena itu, memasuki masjid tidak diperkenankan mengenakan alas kaki. Saya juga sedikit tahu bahwa anjing adalah najis dalam ajaran Islam.

Maka saya bisa membayangkan bagaimana umat Muslim, terlebih di masjid tersebut pasti merasa sangat marah, terhina, dan dilecehkan.
Dalam tulisan ini, saya ingin mencurahkan isi hati dan kepala saya tentang kejadian yang memprihatinkan itu.

Read More

Beriman bagi yang Waras

Saya percaya semua agama mengajarkan pemeluknya untuk menghormati tempat ibadah. Tempat ibadah adalah tempat yang disucikan karena digunakan orang beriman untuk menyembah Allah. Doa, pujian, dan aneka kegiatan keagamaan lainnya dilakukan di sana. Maka sudah layak dan sepantasnya itu dihormati.

Saya juga percaya bahwa orang yang beriman dengan sungguh-sungguh akan menghormati tempat ibadah agama lain. Sebab mereka sungguh mengimani bahwa di situlah Allah disembah. Allahnya kan sama, hanya saja disembah dengan cara yang berbeda-beda.
Siapa sih yang dimaksud “orang yang beriman dengan sungguh-sungguh” itu?

Menurut saya, salah satu kriterianya adalah secara mental dan kejiwaan sehat. Orang yang kurang sehat kejiwaannya tidak bisa dikatakan beriman dengan sungguh-sungguh. Sekalipun beriman, namun keimanannya tidak sepenuhnya dapat diwujudkan secara sadar dan bebas.Ia dipengaruhi oleh keterbatasan dan ketidakmampuan mental yang dideritanya. Konsekuensi logisnya, orang yang mengalami gangguan jiwa dan mental tidak bisa serta merta dianggap sama dengan orang yang secara kejiwaan sehat.

Sejauh ini RS Polri sudah menyatakan bahwa wanita yang membawa anjing dan memakai alas kaki masuk ke masjid mengidap skizofrenia tipe paranoid https://news.detik.com/berita/d-4607306/rs-polri-perempuan-pembawa-anjing-ke-masjid-skizofrenia-tipe-paranoid?tag_from=news_mostpop.

Saya sendiri tidak tahu persis perihal gangguan kejiwaan itu secara detail. Namun yang pasti, kejiwaannya terganggu. Orang sepertinya tentu tidak bisa dituntut pertanggung jawaban sebagaimana kalau tindakan itu dilakukan orang yang waras. Bahkan ia belum tentu sadar ketika melakukan semua itu.

Di dalam video itu juga, sang perempuan sempat lantang berkata, “Saya Katolik!” Saya rasa itu bukan seruan kebanggaan atas agama yang ia anut. Itu sama sekali bukan suatu tindak penistaan yang dilakukan dengan penuh kesengajaan dan niat provokasi. Semoga jelas bahwa ini bukanlah perkara agama Katolik melawan Islam. Ini melulu keributan antara orang dengan gangguan jiwa dan orang waras, Kawan!

Kita perlu sungguh berhati-hati soal ini. Jangan sampai kejadian ini dipakai pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk menyulut percekcokan antaragama dan memecah belah kesatuan di antara kita.

Bersabar adalah Ajaran Agama

Di tengah keprihatinan saya, syukurlah masalah ini segera ditangani dengan baik oleh pihak yang berwajib. Polisi segera mengamankan perempuan tersebut dan menengahi persoalannya dengan pihak masjid. Bahkan pemeriksaan dan diagnosis gangguan jiwa pada wanita tersebut dilakukan oleh para dokter independen di RS Polri.

Namun, yang membuat saya lebih bersyukur adalah reaksi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Mereka bersikap sangat arif dan menyejukkan semua pihak. DMI, misalnya, mengimbau umat Islam untuk bersabar menghadapi kejadian ini https://news.detik.com/video/190701022/wanita-bawa-anjing-ke-masjid-dmi-imbau-umat-islam-bersabar Menurut saya, ajakan ini amat indah untuk kita renungkan.

Kenapa mesti bersabar? Apakah bersabar sama dengan menyerah, pasif, menerima begitu saja bahwa tempat ibadah boleh dilecehkan? Sama sekali tidak! Bersabar itu justru berarti aktif, berusaha memahami situasi, dan akhirnya menerima dengan gagah berani bahwa apa yang terjadi tidak selalu persis seperti yang diharapkan. Sebab tentu saja bukan cuma di masjid kejadian seperti ini bisa terjadi. Gereja, pura, vihara, klenteng pun mungkin saja kedatangan penderita gangguan jiwa dan terganggu kesakralannya.

Dan, bukankah bersabar adalah juga ajaran agama? Bersabar adalah ajakan bagi kita manusia yang serba terbatas ini untuk menyerahkan hal-hal di luar kendali kita kepada Allah yang Maha Tak Terbatas. Maka bersabar berarti mempersilakan Allah menyucikan apa yang dinistakan manusia dan menyempurnakan segala yang tidak sempurna di dunia yang fana. Jadi, menurut saya, tak salah lagi, dengan bersabar kita meniti jalan iman kepada Tuhan.