Sekali Waktu di Bali, Melihat Ekologi dan Toleransi dari Puncak Gunung Batur

Sekali Waktu di Bali, Melihat Ekologi dan Toleransi dari Puncak Gunung Batur

Sekali Waktu di Bali, Melihat Ekologi dan Toleransi dari Puncak Gunung Batur
Foto: Ahmad Nashiruddin (Sumber, gunungapipurba.com)

“Ke Bali, tak ke pantai. Tapi ke gunung Batur.” Kata-kata inilah yang kerap hadir di layar kaca digital.

Bali tak hanya dililit pantai-pantai indah, tetapi oleh pemandangan indah seperti gunung, danau, pure dan sawah. Jika pantai adalah Canggu, maka gunung adalah Batur dan Agung Kintamani.

Keindahan alam Bali inilah yang membawa saya dari Solo ke Batur. Pada malam hari, saya menyaksikan langit Bali terbagi dua: langit pantai dan langit gunung. Di langit pantai, debur ombak dan gemerlap kembang api berpadu rayu. Di langit gunung, kembang api terlihat meledak dengan dinginnya. Dua-duanya mengajarkan banyak hal: bahkan dalam kegelapan malam, cahaya bisa menciptakan keajaiban nan keindahan.

Keajaiban lain seperti meledak tatkala saya bertemu dengan warga Bali asal Buleleng. Dia perempuan muda bersahaja. Sebut saja namanya Risma. Di puncak berdebu halus itu, dia bercerita banyak hal, mulai dari kontestasi politik, ekologis, pendidikan, sastra, dan kebudayaan yang ada di Bali. Dia juga banyak bertanya. Dari semua pertanyaannya, tak satu pun menyinggung soal agama. Padahal inilah yang saya nantikan.

“Saya muncak hanya fomo, Mas,” jelasnya. Dia memang baru pertama kali muncak gunung. Risma ke Batur bersama temannya untuk menikmati sunset. Sepanjang jalan dia juga membuat konten untuk diunggah ke media sosialnya. Yang membuat tercengang saya, sepanjang perjalanan dia sering menabur bunga di tiap ada batu-batu besar. Setelah saya tanyakan mengapa melakukan hal tersebut, mereka menjawab itulah pelajaran agama dan budaya yang dapat dari orang tua dan tetuanya di Buleleng.

Bagi Risma, menabur bunga adalah cara lain mengingat leluhur dan mencintai ekologis. Ekologi tak disirnakan apalagi dibabat. Tapi disempurnakan dengan cara dirawat. Dari sini, saya belajar bahwa membabat hutan adalah kesalahan manusia. Selain membunuh pohon, memusnahkan keragaman hayati, dan menyingkirkan spesies satwa liar yang ribuan jumlahnya, dia juga menbunuh bangsa manusia karena menghilangkan oksigen. Meski ada sebagian hutan digunduli lalu ditanam pohon sawit, hijau dan berderet rapi, tapi tanaman ini tetap mengancam perubahan iklim yang tragis.

Dari anak muda seperti Risma yang berpikir tajam tentang ekologis, maka tak ganjil bila Bali selalu mendapatkan nilai baik-tertinggi dalam penjagaan alam. Anak muda Hindu Bali ini hidup damai dengan Tuhan, alam, dan sesamanya. Dia telah menjalankan apa yang digariskan dalam agamanya: Tri Hita Karana. Melalui keyakinan ini masyarakat Hindu berhasil menjaga alam. Sebenarnya semua agama dan masyarakat lain juga memiliki ajaran Tri Hita Karana, tetapi hanya masyarakat Bali mempraktikkannya dengan baik.

Belajar Toleransi

Gunung Batur yang temaran itu, tiba-tiba kembali hangat. Hawa dingin yang menusuk ke tulang disiram oleh sepercik kisah warga Bali asal Tabanan. Cahaya lampu kerlap-kerlip dan letusan kembang api memantul di dasar air jernih Danau Batur. Tak kalah indahnya, cerita dari Bli Rudi menambah terang keindahan itu.

“Saya bukan muslim. Tapi saya sering menjaga acara-acara keagamaan orang muslim, Mas,” sebutnya. “Di Bali, warga muslim juga sangat toleran kepada warga Hindu. Begitu sebaliknya. Sampai sekarang belum pernah ada penolakan terkait pengadaan acara keagamaan warga muslim,” sambungnya. Seketika saya terharu. Sebagai orang muslim dapat pengakuan dari teman Hindu menjadi suatu energi positif yang tinggi.

Saya memang pernah membaca berbagai penelitian dan buku terkait “menjadi muslim di Bali”. Tetapi belum pernah mendapat pengakuan secara nyata dari warga asli yang beragama Hindu di Bali.

“Apakah ada sejenis peraturan khusus untuk membangun tempat ibadah untuk warga muslim di Bali, Bli?” tanya saya. “Tidak ada yang penting punya tanah,” jawabnya. Lagi-lagi jawaban ini menjadi bukti nyata bahwa toleransi di Bali terjaga dan sangat tinggi. Saya juga mendengar kalau warga Bali sering menolong orang muslim ketika tertimpa musibah. Bahkan warga Hindu Bali (pecalang) juga sering bergotong royong saat warga muslim membangun masjid.

Ini jauh dari pengetahuan saya tentang Bali. Sebelumnya, ketika membaca di penelitian, toleransi di Bali selalu terekam dari berita-berita besar: pendidikan, dari tempat empat tempat ibadah berdampingan seperti di Bandara I Gusti Ngurah Rai, atau dari tradisi ngejot Bali. Namun, ketika pendaki dari Tabanan itu berkisah bahwa warga desanya turut serta dalam pembangunan masjid dan bahkan ikut takbir keliling saat Ramadan, ada toleransi lain yang baru saya terima dari versi orang Bali asli. Mereka juga bercerita kalau desanya dijaga secara bersama-sama dengan saling menghormati dan hidup berdampingan.

Masyarakat muslim yang sudah 30 persen lebih menurut data sensus penduduk, menjadi kebanggaan tersendiri toleransi dijaga dengan damai. Warga Bali tak pernah merasa dijajah. Sekali pun warga muslim diberi tempat sangat luas seperti di pemerintahan, pasar dan kantor, serta tempat-tempat perekonomian. Mereka saling bekerja sama. Bahkan warga Hindu dan Muslim di Bali saling berbagi peran dan tempat dalam roda perekonomian.

“Apakah panjenengan tersinggung ketika melihat warung bertuliskan “Warung Makan Muslim Jember”atau Warung Madura di sekitar Bali, Bli?” tanya saya. “Justru saya malah saya senang agar para wisatawan muslim tidak kesulitan mencari makan ketika berwisata di Bali”, jawabnya.

Dari sini terlihat, perkara makanan tidak menjadi perkara yang rumit bagi orang Hindu-Muslim Bali. Warga Bali bisa makan Babi, sementara warga muslim juga bisa makan apa saja menurut versi dan kenyamanannya. Keduanya tetap harmonis dan saling menjaga batasan syariat yang telah ditetapkan di masing-masing agamanya. Dalam kesehariannya mereka egaliter dan bersikap adil.

Dari interaksi ke dua orang Bali di atas mengukuhkan saya untuk mencintai Bali. Warga Bali (Hindu-Muslim) hidup damai dan toleran dengan sesama tanpa tebang pilih. Warga Hindu tak merasa terjajah apalagi merasa digenosida secara kultural dan agama. Sementara muslim pendatang di Bali tidak merasa terkucilkan oleh masyarakat Hindu di Bali. Inilah keunggulan pulau Bali. Indah wisatanya, indah pula praktik hidup warga Bali-nya. Itu.