Sekali Lagi Tentang Gus Sholah dan Gus Dur, Dua Ulama Kharismatik Penjaga Negeri

Sekali Lagi Tentang Gus Sholah dan Gus Dur, Dua Ulama Kharismatik Penjaga Negeri

Gus Sholah dan Gus Dur adalah hadiah dari Allah untuk negeri ini

Sekali Lagi Tentang Gus Sholah dan Gus Dur, Dua Ulama Kharismatik Penjaga Negeri

Inna lilahi wa inna ilaihi rajiun. Berita meninggalnya KH. Salahuddin Wahid meninggalkan duka bagi bangsa Indonesia.  Gus Sholah lahir pada 11 September 1942, dua tahun setelah kelahiran kakak kandungnya yaitu KH. Abdurrahman Wahid pada 4 Agustus 1940. Kedua  Ilmuwan dan ulama’ kharismatik lahir dan dibesarkan di pesantren Tebuireng ini banyak memberi sumbangsih dan mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berikut adalah beberapa catatan penting tentang Gus Sholah dan Gus Dur:

Pertama, Gus Sholah merupakan pengasuh ke tujuh pondok pesantren Tebuireng Jombang Jawa timur, pesantren ini didirikan oleh Pendiri NU yaitu KH. Hasyim Asy’ari yang tidak lain adalah kakeknya. Pesantren Tebuireng menjadi tempat jujukan para alim ulama se-Indonesia untuk menimba ilmu dan pengetahuan, pesantren ini banyak mencetak para tokoh-tokoh muslim terkemuka di Indonesia.

Kedua,  Gus Sholah merupakan putra terakhir dari KH. Wahid Hasyim dan Hj. Sholichah. Kiai Wahid Hasyim adalah  Menteri Agama RI kedua setelah KH. Masykuri. Mengikuti jejak ayahandanya, Gus Sholah beberapa kali menduduki jabatan dan peranan penting dalam dunia organisasi dan pemerintahan seperti menjadi anggota MPR, calon wakil presiden RI tahun 2004, Ketua PBNU 1999-2005, dewan penasehat ICMI 1995-2000, anggota dewan YLBHI 2002-2005.

Ketiga, tidak hanya sebagai kiai di pesantren, Gus Sholah juga layak disebut negarawan, penulis dan politisi. Melihat begitu banyak nya khalayak umum yang memberi ucapan bela sungkawa saat meninggal dunia, kita bisa meyakini bahwa cucu Mbah Hasyim ini termasuk tokoh berpengaruh di Indonesia. Kiprahnya  patut diteladani.

Keempat, Gus Sholah adalah adik kandung KH Abdurrahman Wahid yang merupakan cendekiawan dan intelektual organik yang di miliki Indonesia. Ciri dan karakter keduanya tidak mungkin sama, namun keduanya merupakan  guru dan teladan bangsa.

Serumpun tapi tak sama, itu peribahasa yang cocok untuk dua tokoh ini. Gus Dur memberi warna dalam kehidupan berbangsa melalui pemikiran-pemikiran brilian. Putra kelima KH. Wahid Hasyim ini adalah tokoh multitalenta. Berhasil menjadikan NU sebagai Instrumen penggerak bangsa menuju kemajuan.

Ketika masih menjabat sebagai ketua PBNU, Gus Dur sudah banyak makan garam dibuat patah hati oleh penguasa, masih ingat saat Muktamar NU ke 29 di Cipasung, Tasik Malaya Jawa Barat, intervensi kekuasaan Orba pun menyelinap dengan munculnya KH Abu Hasan sebagai calon ketua tandingan PBNU melawan Gus Dur. Meskipun pada akhirnya Gus Dur yang menang, beliau tidak tinggi hati dan congkak, malah langsung silaturahmi ke kediaman KH Abu Hasan.

Produk pemikiran yang berhasil memberi pencerahan serta mengusut benang merah antara hubungan masyarakat dengan heterogenitas yang cukup tinggi . Kh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberi konsep pluralisme yang mengayomi semua anak bangsa. secara sosiologis dan bukan untuk di pertentangkan pada aspek teologis. Konsep yang kemudian masyhur dan memberi warna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pro-kontra Indonesia berdasarkan hukum syariah Islam (Negara Islam)  atau tidak, Gus Dur tampil dengan jurus “Indonesia dengan masyarakat Islam”. Pandangan tersebut mereduksi ambisi beberapa golongan umat Islam tertentu bahwa Nilai-nilai Islam sudah terakomodir negara dan konsekuensinya kita harus menjadi masyarakat Islam yang cinta negara dalam berkebangsaan dan bernegara.

Kedua figur ini punya ciri dan model ketokohan masing-masing, namun sama-sama mempunyai pengaruh kuat di semua kelompok dan golongan. Gus Sholah dan Gus Dur konsisten dan teguh dalam merawat dua tinggalan besar ayahanda dan kakeknya yaitu NU dan Indonesia.

Selamat jalan Gus Sholah, selamat berjumpa kembali dengan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, kiai Wahid Hasyim, Gus Dur, Bu nyai Sholichah , Bu nyai Aisyah. Kami akan selalu meneladani akhlak panjenengan, meneruskan perjuangan panjenengan dan selalu mengenang panjenengan dalam doa-doa kami setiap hari.