Sejarah Perkembangan Penulisan Mushaf Al-Qur’an, dari Tanpa Titik dan Harakat hingga Lengkap Seperti Sekarang

Sejarah Perkembangan Penulisan Mushaf Al-Qur’an, dari Tanpa Titik dan Harakat hingga Lengkap Seperti Sekarang

Penulisan Mushaf Al-Quran mengalami perbaikan dari tahun ke tahun. Awalnya tanpa titik, harakat bahkan tanpa alif, kini semakin lengkap dan mudah dibaca.

Jika kita menilik sejarah, tradisi penulisan di kalangan orang Arab Jahiliyah masih sangat sedikit. Bahkan, ketika Al-Qur’an diturunkan pun mereka masih ummi (tidak bisa baca tulis).

Salah satu orang Arab pertama yang belajar menulis adalah Basyr bin Abdil Malik yang merupakan saudara dari Ukaidir Daumah. Beliau belajar pada orang al-Anbar, kemudian pergi ke Makkah dan menikah dengan Shabda’ yang merupakan anak dari Harb bin Umayyah. Konon Harb juga pernah belajar menulis pada orang al-Anbar tersebut, hingga Umar bin Khathab belajar menulis kepada Harb.

Pada waktu itu, tulisan tidak berbaris (berharakat) dan tidak bertitik. Kemudian bentuk tulisan tersebut perlahan mulai diperbaiki oleh Abu Ali Muhammad bin Ali Muqlah, diperbaiki lagi oleh Ali bin Hilal al-Baghdady yang terkenal dengan nama Ibnul Baubab.

Read More

Mushaf yang ditulis atas perintah Usman tidak bertitik dan tidak berbaris. Sehingga tidak ada perbedaan antara س dan ش maupun د dan ذ. Walaupun keadaan tersebut berlangsung selama kurang lebih 40 tahun. Namun para sahabat tetap dapat membaca karena hafalannya.

Selanjutnya, muncullah permasalahan tentang kesalahan membaca Al-Qur’an. Seorang ulama sekaligus penguasa Islam bernama Zijad bin Abihi merasa khawatir karena semakin banyak orang non Arab yang masuk Islam. Mayoritas dari mereka kurang memahami tulisan Arab tanpa baris dan tanpa titik. Kemudian muncullah seseorang bernama Ubaidullah bin Ziyad dan Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafy dengan tanda-tanda barunya untuk memudahkan dalam membaca mushaf.

Ibn Ziyad memerintahkan seorang laki-laki bangsa Parsi untuk mengidhafahkan alif dalam kata-kata, sehingga dapat dibedakan antara قالت L(qaalat) dengan قلت (qultu) maupun كاتب (Kaatib) dengan كتب (kutub). Sedangkan Hajjaj memperbaiki teknis penulisan teks Al-Qur’an pada beberapa tempat, sehingga memudahkan orang dalam membaca dan memahaminya.

Agaknya perbaikan tersebut senada dengan perkataan Khalifah Usman, “aku mendapatkan beberapa kesalahan dalam mushaf ini yang kelak akan diperbaiki oleh orang Arab”.

Selanjutnya, muncullah seseorang bernama Abu al-Aswad ad-Dualiy yang merancang kaidah pemberian titik dan baris. Misalnya, “baris di atas” (fathah) dengan memberi sebuah titik di atas huruf, “baris bawah” (kasrah) dengan sebuah titik di bawah huruf, “baris dhammah” dengan titik antara batas satu huruf dengan huruf berikutnya, dan “tanda mati” dengan dua buah titik. Jadi, beliau dikenal sebagai pencipta titik sebagai tanda baris dalam rangkaian perbaikan penulisan Al-Qur’an sekaligus pencipta kaidah-kaidah bahasa Arab atas perintah Ali bin Abi Thalib.

Nama lain yang muncul dalam rangka perbaikan penulisan Al-Qur’an adalah Yahya bin Ya’mar dan Nashar bin ‘Ashim. Konon Yahya adalah seseorang yang melengkapi mushaf yang ada di tangan Ibmu Sirrin. Sedangkan Nashar adalah murid sekaligus asisten Abu al-Aswad ad-Dualiy yang berguru kepada Yahya. Bahkan dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Yahya adalah orang yang pertama kali membuat huruf mutasyabihat atas anjuran Hajjaj.

Perkembangan zaman seakan mengharuskan penyempurnaan terhadap tulisan Al-Qur’an agar lebih mudah lagi untuk dibaca dan dipahami. Dari situlah muncul seseorang bernama Khalil bin Ahmad al-Farahidy yang menulis tentang titik serta kelemahannya.

Beliau juga menciptakan tanda hamzah, tasydid dan Isymam. Kemudian muncul lagi seseorang ahli bahasa bernama Abu Hatim as-Sijistany yang menguraikan panjang lebar tentang syakl dan titik. Sehingga penyempurnaan penulisan mushaf Al-Qur’an pada akhir abad ke-3 dapat dikatakan mencapai puncaknya.

Tidak berhenti disitu, usaha penyempurnaan penulisan mushaf Al-Qur’an dilanjutkan lagi dengan memberikan tanda pada akhir ayat, pembagian al-Qur’an atas 30 juz, pembagian juz atas hizb, dan pembagian hizb atas arba’ yang masing-masing menggunakan tanda-tanda khusus. Selain itu, pemberian nomer secara berurutan juga perlu dilakukan agar dapat mengetahui jumlah ayat yang terdapat dalam satu surat.

Salah seorang ahli khat (kaligrafi) bernama Khalid bin Abi al-Hayyaj yang terkenal dengan keindahan tulisannya juga turut serta dalam rangka penyempurnaan penulisan Al-Qur’an. Pada waktu itu penulisan Al-Qur’an menggunakan khat Kufi sampai akhir abad ke-4. Kemudian pada awal abad ke-5, penulisan Al-Qur’an diganti menggunakan khat Naskhi yang sudah dilengkapi dengan baris, titik, tanda baca, tanda ayat, tanda juz, dan tanda lain yang dapat kita saksikan pada Al-Qur’an sekarang ini.

Wallahu A’lam