Rektor ITB: Ketergantungan Pada Teknologi dapat Mengganggu Kedisiplinan

Rektor ITB: Ketergantungan Pada Teknologi dapat Mengganggu Kedisiplinan

Rektor ITB: Ketergantungan Pada Teknologi dapat Mengganggu Kedisiplinan

Rektor ITB (Institut Teknologi Bandung), Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menegaskan bahwa teknologi ke depan akan bisa mengantikan banyak peran manusia. Oleh karena itu, menurutnya, penting untuk mengontrol penggunaan teknologi. Jika tidak, maka kedisiplinan manusia akan terganggu

Hal ini disampaikan saat menjadi pembicara dalam webinar eksklusif yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan HPMI Yordania di acara Future Gate 2025. Acara ini berlangsung dari 2 hingga 19 Februari 2025.

Dalam webinar bertema “Pendidikan: Fondasi Masa Depan Komunitas,” Prof. Tatacipta membagikan pengalamannya di dunia pendidikan, termasuk penerapan konsep ikigai dalam mengembangkan karakter dan potensi mahasiswa di ITB.

Ikigai, yang berarti “makna hidup,” atau dalam istilah filsuf Prancis dikenal sebagai raison d’être (“alasan untuk ada”), menjadi fokus utama dalam diskusi. Prof. Tatacipta menekankan bahwa ikigai adalah perpaduan antara apa yang dicintai, dikuasai, dibutuhkan oleh dunia, dan dapat menghasilkan penghasilan. Beliau mengajak para peserta untuk merenungkan dan menemukan ikigai mereka masing-masing.

Selain itu, Prof. Tatacipta juga membahas isu-isu krusial dalam pendidikan di Indonesia, seperti mismatch antara pendidikan dan kebutuhan industri, fenomena brain drain, serta kurangnya konsistensi program pemerintah. Isu-isu ini dapat menghambat perkembangan sistem pendidikan dan daya saing bangsa, serta menyebabkan hilangnya potensi sumber daya manusia yang berharga.

Untuk mengatasi tantangan ini, Prof. Tatacipta menekankan pentingnya perspektif jangka panjang dalam pengembangan pendidikan dan industri. Beliau mencontohkan negara-negara seperti Tiongkok dan India yang memandang talenta yang berkiprah di luar negeri sebagai aset nasional.

Dalam sesi “Learning How to Learn,” ini, Prof. Tatacipta menekankan pentingnya pemahaman konsep daripada sekadar menghafal. Beliau menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan harus terus dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman.

Prof. Tatacipta juga menyoroti transformasi dunia kerja akibat revolusi industri 4.0, di mana teknologi dan kecerdasan buatan semakin mengambil alih peran manusia. Mengutip buku Ikigai, beliau mengingatkan bahwa “Technology is great, if we’re in control of it. It’s not so great if it takes control of us,” yang berarti ketergantungan berlebihan pada teknologi dapat mengganggu kedisiplinan dan flow (kondisi aliran).

Oleh karena itu, Prof. Tatacipta menekankan pentingnya pendidikan interdisipliner, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi dalam menghadapi tantangan masa depan.

Sebagai penutup, Prof. Tatacipta mengajak generasi muda untuk tetap optimis, berpikir positif, dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa, bukan hanya menjadi penonton atau sekadar pengkritik.

Webinar Future Gate 2025, yang bertema “Terlahir untuk Mewarisi Semesta,” menghadirkan pembicara-pembicara inspiratif dan edukatif. Diharapkan, acara ini dapat memotivasi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas, optimisme, dan semangat untuk berkontribusi positif bagi masa depan.

(AN)