Rebo Wekasan dan Tradisi Tolak Balak di Nusantara

Rebo Wekasan dan Tradisi Tolak Balak di Nusantara

Hari Rabu di akhir bulan Shafar kita kenal dengan istilah Rebo Wekasan.

Tradisi lokal nusantara tidak dapat dipungkiri banyak yang senyawa sekaligus berjalan beriringan dengan ajaran Islam. Hal ini tidak lain adalah akulturasi budaya yang terjadi di Nusantara di berbagai wilayah dengan ekologis yang berbeda-beda. Salah satunya dengan memperingati tradisi Islam di nusantara yang dikenal dengan istilah Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan. Istilah Rebo Wekasan ini merupakan hari Rabu terakhir di bulan Shafar.

Bulan shafar merupakan bulan kedua dalam penanggalan hijriyyah Islam. Nah, jika menilik kebelakang masyarakat jahiliyah kuno termasuk bangsa Arab, sering mengatakan bahwa bulan shafar merupakan bulan tasaa’um (sial, anggapan sial). Istilah tasaa’um ini sudah menjadi keyakinan tersendiri bagi orang-orang arab dan masih banyak dipercayai oleh orang-orang muslim hingga saat ini.

Dalam sejarahnya hari rabu terakhir di bulan shafar ini, Allah SWT menurunkan banyak bala’ kedunia. Keyakinan ini menjadi menguat dengan adanya penjelasan oleh Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (w.1151 H) dalam kitabnya Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qami’i Kulli Jabbar ‘Anid. Dalam kitab ini disebutkan bahwa salah seorang waliyullah yang telah mencapai maqam kasyaf mengatakan bahwa dalam setiap tahun pada akhir bulan shafar, Allah swt menurunkan 320.000 bala dalam satu malam.

Read More

Banyak orang Islam jawa yang mempercayai dengan melakukan ritus atau ritual keagamaan untuk membentengi diri dari bala atau kesialan. Dalam pandangan islam juga ada hadist yang memberikan keterangan tentang Rabu terakhir di bulan Shafar, meskipun hadist tersebut dha’if kekuatannya.

Meskipun begitu banyak umat islam di Indonesia yang mempercayai hal tersebut terjadi. Justru keyakinan yang tumbuh subur pada masyarakat Islam jawa ini sudah tertanam luhur. Meskipun tradisi Rebo Wekasan tidak masuk dalam anjuran syara’ dalam artian tidak masuk dalam syari’at islam.

Akulturasi budaya bagian dari dampak proses islamisasi yang ada di Nusantara. Rabo Wekasan banyak di isi dengan kegitan-kegiatan positif dalam upayanya mendekatkan diri kepada Allah swt. Berbicara tentang istilah Rebo Wekasan tentu saja tidak jauh dari usaha untuk menolak bala’ yang dipastikan oleh Allah swt.

Banyak upacara adat atau usaha untuk mencegah bala’ atau kesialan yang turun dengan berbagai macam tradisi di berbagai belahan wilayah Nusantara. Karel A. Steenbrink (1984) dalam Bukunya yang berjudul Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19 menyebutkan bahwa tradisi ini sudah lama muncul sejak awal abad ke-17, khususnya di wilayah pesisir Sumatera, Jawa dan Kalimantan.

Banyak masyarakat muslim pesisir yang masih mempercayai istilah Rebo Wekasan yang digambarkan dengan turunnya kesialan. Daerah-daerah yang melakukan tradisi seperti ini kebanyakan adalah daerah pesisir yang relatif lebih dulu, kuat dan kosmopolit keislamannya dibanding daerah yang perkotaan.

Sebagian besar masyarakat muslim di Aceh Selatan, misalnya mereka memiliki tradisi tolak bala yang dikenal dengan istilah “makmegang” yang di adakan di wilayah pesisir pantai. Di lain wilayah juga memiliki berbagai tradisi yang unik, di Banyuwangi wilayah pesisir pada bulan Shafar terakhir juga mengadakan tradisi petik laut untuk memperingati Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan.

Keunikan tersendiri juga ada di bagian wilayah pesisir wilayah Kudus, Pati dan sekitarnya yang menjadi basis penyebaran islam di tanah jawa. Di daerah Mejobo, Kabupaten Kudus misalnya tradisi mengarak “banyu salamun” ini menjadi sebuah tradisi yang tidak kalah unik bagi masyarakat pesisir jawa. Begitu banyaknya masyarakat islam jawa dalam menyikapi Rebo Wekasan di masing-masing daerah di Nusantara.

Berbagai tradisi yang muncul dan tercipta di masyarakat ini menunjukkan adanya ke khasan dalam berislam. Corak berislam dengan mengakomodasi berbagai unsur budaya yang ada ini sangat menarik sekali dalam memberikan representasi khazanah lokalitas keislaman di Nusantara. Gus Dur pun memiliki pandangan kedapan dalam melihat tantangan dan tumpang tindih antara agama dan budaya yang akan terjadi terus-menerus sebagai suatu proses yang akan memperkaya kehidupan dan membuatnya tidak gersang. Wallahu’alam.

Arief Azizy – Pegiat Islami Institute