Radikalisme Hanya Untuk Islam?

Radikalisme Hanya Untuk Islam?

Seorang peserta Pelatihan Pencegahan Ekstremisme bertanya. “Apakah radikalisme itu reaksi atau aksi?” tanya lelaki yang saya taksir usianya selisih 6-7 tahun dengan saya. Ia pengelola balai latihan kerja milik pemerintah di Pulau Jawa. Pagi kemarin itu lebih dari 40 orang yang seprofesi dengan lelaki itu menyimak sesi ini.

Saya sering curiga dengan pertanyaan macam ini. Jangan-jangan di ujung sana akan ada kesimpulan jika radikalisme bisa dimaklumi. Radikalisme hanyalah reaksi dari kelakuan pihak lain. Orang-orang yang tak suka Islam.

Dalam banyak forum yang membicarakan ini, saya juga sering mendengar pertanyaan bahkan protes sebab mereka menilai jika telunjuk radikalisme hanya menuding-menuding Islam. Saya sudah bosan mendengarnya, tapi harus dihadapi. Di sesi sebelumnya, muncul juga pertanyaan semacam itu.

Read More

Tapi, begitulah kenyataannya. Ada problem mental yang tak sedikit dirasakan umat: perasaan terancam. Padahal kalau mereka mau bekerja keras membaca, sebetulnya ada banyak tumpukan kasus yang menegaskan radikalisme dihadapi banyak agama, keyakinan, atau ideologi lain.

“Dua-duanya,” jawab saya. Kenyataannya memang ada realitas faktual. Sebutlah kemiskinan, pengangguran, diskriminasi, ketimpangan pendapatan, kekerasan, termasuk perang. Hanya saja masalah berikutnya yang jadi perkara bagaimana memaknai realitas dan mengerangkakan (framing) kasus-kasus yang terjadi.

Saya beri contoh kasus Rohingya. Di sebagian muslim, isu ini dipandang problem Budha-Islam atau setidaknya kejahatan dari musuh-musuh Islam. Masalahnya lebih rumit dari itu. Bukan hanya Islam menjadi korban. Sejumlah laporan menyebut Kristen yang minoritas dan agama lokal lain juga korban dari aktor yang terhubung dengan militer.

Di komuter kemarin, saya menyelesaikan hasil wawancara Tempo dengan mantan Jaksa Agung RI Marzuki Darusman yang menjadi Ketua Tim pencari fakta pembantaian Rohingya untuk PBB. Ia menyebut dua perusahaan besar yang tersambung petinggi militer terlibat dalam genosida.

Jadi, faktanya memang ada. Tetapi, cara membaca fakta adalah tahap awal dari kerumitan memahami radikalisasi. Setidaknya itulah yang saya baca dari lima tangga menuju terorisme yang disusun psikolog Iran Fathali Moghaddam yang terkenal itu. Situasi ini ada pada tangga pertama : “penafsiran psikologis atas kondisi material”. Tentu saja yang lebih penting dari itu “mengurangi” fakta pemicu radikalisme.