
Tidak ada manusia yang abadi. Setiap orang pasti akan menemui ajalnya masing-masing. Tidak ada yang tahu kapan waktu pasti kematian. Hanya Allah yang mengetahui hal itu. Karena itu, kita tidak dituntut untuk mencari tahu kapan ajal akan menemui kita, tetapi kita diminta untuk mempersiapkan semua bekal untuk mempertanggung-jawabkan apa yang sudah kita lakukan di hadapan Allah kelak.
Bagi sebagian orang, kematian merupakan bahan yang menakutkan. Jarang orang mau membicarakannya secara pandalam. Padahal kematian adalah pasti, tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Terkadang banyak orang melupakan fakta ini, seakan-akan ketika dia mengantarkan orang ke kuburan, kematian itu tidak berlaku untuk dirinya, sehingga tidak mengambil hikmah dari setiap kematian yang terjadi.
Prof. Quraish Shihab dalam program Shihab dan Shihab mengingatkan bahwa terkadang manusia fokus pada hal yang sifatnya sementara dan melupakan sesuatu yang pasti. Manusia kerapkali menganggap kehidupan dunia penting, padahal itu hanya sementara. Sementara kehidupan akhirat, yang lebih penting dibanding di dunia, diabaikan begitu saja. Untuk mencapat kehidupan akhirat, kita harus melewati kematian. Makanya, kematian adalah suatu yang pasti dan tak bisa dihindari, sekalipun bagi seorang Rasul dan Nabi.
“Seandainya ada orang yang tidak akan mati, maka yang paling wajar untuk tidak mati adalah para Nabi, karena mereka dibutuhkan umat. Namun faktanya, bahkan seorang Nabi pun harus menghadapi kematian,” Tegas Prof. Quraish Shihab.
Penulis Tafsir Al-Misbah ini menambahkan, kematian tidak selalu menakutkan. Ada juga kematian yang menggembirakan, tergantung pada kesiapan kita. Dikisahkan seorang sahabat Nabi ketika meninggal merasa sangat bahagia karena ia tahu akan bertemu dengan Allah SWT. Sebaliknya, ada juga orang yang tidak siap menghadapinya. Mereka takut karena merasa kondisi setelah kematian lebih buruk dibandingkan dunia.
Menurut Prof. Quraish Shihab, kematian memang bisa menyakitkan, tapi ada suasana yang bisa meringankan atau memberatkan. Saat kita melakukan amal baik selama hidup kita, itu akan meringankan kita saat menghadapi sakaratul maut. Seperti halnya jika kita harus menjalani suatu tindakan medis yang menyakitkan, jika kita diberi bius terlebih dahulu, maka rasa sakitnya akan berkurang. Demikian pula dengan amal baik yang kita lakukan, bisa membuat kematian kita terasa lebih ringan.
Dalam surat al-Nazi’at dikisahkan bahwa ada malaikat yang mencabut ruh dengan lembut dan ada juga yang mencabut dengan keras. Ada malaikat yang datang membawa kabar gembira dan menenangkan orang-orang yang beriman, agar mereka tidak merasa takut. Sebaliknya, ada juga yang datang dengan wajah yang mengerikan karena mereka tidak siap menghadapi kematian.
“Kematian itu nikmat, karena itu adalah jalan satu-satunya untuk mencapai surga. Seperti halnya telur yang tidak bisa menetas menjadi ayam kecuali jika ia keluar dari telur tersebut, begitu pula kita, tidak bisa mencapai kesempurnaan hidup di dunia tanpa melalui kematian. Kematian adalah pintu untuk menuju kehidupan yang lebih baik, yaitu kehidupan di akhirat,” Ungkap Prof. Quraish Shihab.
Allah meniupkan roh ke dalam tubuh kita, dan roh ini seharusnya yang mengendalikan tubuh kita. Namun, banyak orang yang melupakan hakikat rohnya dan lebih mengutamakan tubuhnya. Ketika kita kembali kepada Allah, kita harus dalam keadaan suci, karena kebersihan roh kita menentukan sejauh mana kedekatan kita dengan Allah. Ada orang yang kembali dalam keadaan bersih dan dekat dengan Allah, ada juga yang kembali dalam keadaan kotor dan harus dibersihkan melalui siksaan. Namun, Allah Maha Pengampun, dan siapa pun yang kembali dengan keadaan bersih akan diterima di surga.
“Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kehidupan yang kekal di akhirat. Kita harus menganggap segala sesuatu yang kita miliki sebagai titipan dari Allah. Ketika kita kehilangan sesuatu, kita harus menerima dengan lapang dada dan menyadari bahwa semua ini adalah milik Allah. Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” — “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali,” Ujar Prof. Quraish Shihab
Kematian memang bisa menjadi ujian yang sangat berat, terutama bagi orang-orang yang ditinggalkan. Namun, kita harus menyadari bahwa semua yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan. Tidak perlu terlalu berlarut-larut dalam kesedihan, karena pada akhirnya kita semua akan kembali kepada Allah. Setiap kehilangan mengajarkan kita untuk lebih menghargai hidup dan apa yang ada di sekeliling kita.
Kematian adalah bagian dari takdir Tuhan yang harus kita terima dengan lapang dada. Kita tidak bisa menghindarinya, dan setiap orang akan menghadapinya. Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri dengan amal baik agar kematian kita menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik, yaitu kehidupan di akhirat.