Prabowo Jadi Menteri dan Mengapa Kita Harus Santai Urusan Politik Kekuasaan Ini

Prabowo dan partai harusnya bisa jadi oposis bagi pemerintahan Jokowi, nyatanya tidak konservatif Pict By Beritagar

Prabowo Jadi Menteri dan Mengapa Kita Harus Santai Urusan Politik Kekuasaan Ini

Prabowo jadi Menteri Pertahanan (Menhan) dan yah, kita harus santai emang

Pada tahun 2017 saya menulis seperti ini:
Sosok Prabowo adalah kunci Pilkada DKI dua periode belakangan. Mantan denjen KOPASSUS yang dianggap bertanggung jawab penculikan aktivis ’98 itu memegang peranan penting saat memainkan perhelatan pesta demokrasi di provinsi berbujet 70an trilyun pertahun. Dua kali ia menumbangkan incumbent!

Pertama adalah Foke-Nara. Foke yang bedarah Jawa-Betawi dan didukung oleh sejumlah parpol dan ormas Islam melenggang mulus di beberapa rilis survei. Mereka unggul 5-10% dari pasangan Jokowi-Ahok, ‘anak’ Prabowo. Foke diprediksi menang karena ia lebih memahami cara mengelola manusia 7 juta jiwa dibanding Jokowi yang ‘hanya’ ratusan ribu saja.

Saat itu Prabowo meyakinkan warga DKI untuk memilih Jokowi-Ahok karena keduanya sangat Indonesia banget. Jokowi, orang Solo, Jawa, beragama Islam. Sedang Ahok orang Belitung, Tionghoa, beragama Kristen. Keduanya disebut siap membawa demokrasi ke arah yang lebih maju. Isu SARA yang dihempaskan kubu Foke-Nara ditangkal dengan dalih kebinekaan.

Read More

Pasca rilis quick count putaran kedua pilkada DKI oleh sejumlah lembaga survei, Prabowo tersenyum puas. Anak-anaknya berhasil menendang petahana. Ia terlampau semangat sampai menimbulkan dugaan bahwa sebenarnya Prabowo-lah gubernur DKI.

Jokowi-Ahok hanyalah boneka mainan yang bisa digerak-gerakkan sekenanya. Sebelumnya, majalah TEMPO membuat sampul bergambar sosok Prabowo yang tengah memegang sebuah koran bergambar Jokowi. Tema laporannya “Bandar calon DKI”.

Banyak yang menilai Prabowo tengah menyusun kekuatan politiknya untuk berkuasa di 2014. Jika ia berhasil menanam bibit di DKI, kelak, jika ia memerintah, urusannya akan jadi lebih mudah. Jokowi-Ahok adalah langkah awalnya untuk menuju RI-1.

Dan benar saja, ia gencar kampanye akan membawa Indonesia menjadi macan Asia. Tampaknya ia sudah cukup yakin karena ‘hanya’ akan melawan ambisi Aburizal, Harry Tanoe, Anies, Dahlan, dan Wiranto.
Tapi Prabowo seakan kesamber gledek.

Pasca PDIP memenangi kursi legislatif, partai berlogo banteng itu berambisi menjadi penguasa utama. Jokowi, sang anak Prabowo, beserta JK, mantan lawan politiknya di pilpres 2009, dideklarasikan untuk menantangnya bersaing pada 9 Juli 2014.

Ia pun meradang. Terlebih setelah pengusaha kayu kurus itu mempecundanginya 51% : 49%.

Adalah Anies si perintis Indonesia Mengajar dan gerakan turun tangan yang turut mendongkrak suara Jokowi. Jubir Jokowi-JK itu meyakinkan banyak swing voters untuk memilih Jokowi-JK karena keduanya bebas dari dosa masa lalu. Masa lalu?

Ya, Anies yang dulu aktivis kampus tentu merasakan ‘dosa’ para jendral yang menghilangkan banyak rekan aktivisnya. Ia berkali-kali mengatakan, saatnya orang baik memimpin.

Tahun 2016, setahun pasca Anies diberhentikan sebagai mentri pendidikan, alumnus Jogja itu menerima tawaran Prabowo untuk maju DKI-1. Ia berpasangan dengan Sandiaga Uno, 20 besar manusia terkaya di Indonesia (versi FORBES). Ia didaftarkan menjelang detik-detik akhir pendaftaran. Diduga, Prabowo kembali ingin membangun pondasi kekuatan politiknya untuk 2019.

Sekali lagi, mantan menantu Soeharto itu berhasil memenangkan ‘anaknya’. Terlepas gelombang isu SARA yang menerpa, strategi politik Prabowo harus diakui jempol. Selain itu, dream team pasukan tim sukses Anies ternyata teruji jitu. Eep Saefulloh, sahabat semasa di Amerika, yang dulu jadi konsultan politik Jokowi (dan mengaku tidak dibayar), bisa meliuk-liuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas seorang Anies.

Jokowi-Ahok dibawa ke Jakarta oleh Prabowo. Jokowi jadi lawan Prabowo di Pilpres. Anies jubir pilpres Jokowi dan tim transisi, jadi lawan Ahok, karena disung Prabowo. Eep si konsultan Jokowi, jadi konsultan Anies yang dibackingi Prabowo. Melihat politik dari Prabowo, Jokowi, Ahok, Anies, dan Eep saja sudah membuatku ngakak jika ada yang terlalu serius mengikuti dinamika politik di Indonesia.

Sudahlah… Sudahi pertikaian. Pertemanan lebih mahal dibanding ngotot bela para penguasa. Mereka dapat dollar, kita dapat apa?

Tulisan ini menemukan lagi konteksnya pasca Pilpres 2019 usai. Peristiwanya lebih gila. Kita bisa merasakan bagaimana segergasi sosial terbelah begitu lebar.

Penyebabnya tak lain adalah kontestasi politik yang luar biasa panas. Para pendukung Jokowi disebut sebagai cebong. Pendukung Prabowo disebut kampret. Berbagai aksi kerumunan untuk menegaskan supremasi kedua kelompok itu begitu kuat.
Ada banyak pasangan yang berpisah.

Keluarga yang terpecah. Dan pekerja yang jadi pengangguran karena beda pilihan coblosan. Kita dipaksa menyaksikan pertunjukkan kebencian menjadi bagian kehidupan sehari-hari.

Kurang dari setengah tahun, wajah politik sama sekali baru. Prabowo dan Jokowi bertemu di MRT untuk ‘rekonsiliasi’. Tapi tak berhenti di situ. Rekonsiliasi yang dimaksud berlanjut. Jokowi menyebut Prabowo sebagai sahabat.

Beberapa hari yang lalu presiden memanggilnya ke istana, dan pagi ini  Prabowo mendapat jabatan sebagai abdi negara, tepatnya Menteri Pertahanan. Kaget?

Luar biasa. Teori sosial dan politik tampaknya sulit membaca dinamika politik di Indonesia belakangan ini.

Tapi, lagi-lagi kita mendapat pelajaran bahwa mencintai dan membenci semestinya proporsional sebgaimana Nabi Muhammad ajarkan. Tak perlu bertikai apalagi urusan kekuasaan. Santai saja dan terus bekerja, kita kawal bersama.

Wallahua’lam.