Persaudaraan Agama-agama Ibrahim

Persaudaraan Agama-agama Ibrahim

Persaudaraan Agama-agama Ibrahim

Melihat fenomena keberagamaan di Indonesia yang semakin hari senantiasa diwarnai dengan berbagai macam konflik antar umat beragama, Penerbit Mizan yang bekerja sama dengan Program Studi Ilmu Alqur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan menyelenggarakan launching dan bedah buku “Persaudaraan Agama-Agama Millah Ibrahim dalam Tafsir Al-Mizan” yang ditulis oleh Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Sunan Kalijaga, di Convention Hall lantai dua UIN Sunan Kalijaga, Rabu (8/12).

Karya yang merupakan hasil refleksi dan kontemplasi Waryono ini penting untuk diangkat mengingat saat ini di Indonesia sangat sering terjadi tindak intoleransi, baik yang terjadi sesama pemeluk satu agama maupun kepada pemeluk agama lain. “Saling cakar berebut benar” mungkin sangat tepat untuk menggambarkan bagaimana sebagian masyarakat Indonesia beragama.

“Dalam pendahuluan buku saya, saya sebutkan bahwa agama ketika menyejarah pasti menyimpang. Karenanya, Nabi mensabdakan bahwa setiap seratus tahun akan ada mujaddid di tengah umat, yang dalam penafsiran kontekstualnya berarti seorang reformis yang menjaga misi agama”, tegas Waryono. Lebih jauh, dia menuturkan bawha terma millah Ibrahim adalah konsep sentral untuk mencari common word – yang dalam istilah al-Qur’an disebut kalimatun sawa – dari tiga agama besar dunia, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi.

Pemilihan tafsir Al-Mizan dalam karya akademik ini selain karena tafsir ini mengutip al-Kitab secara langsung – sebagaimana tafsir al-Manar ­– juga karena tafsir ini diharapkan agar dapat menjembatani polemik antara Muslim Sunni dan Syiah. “tasfir mahmud (terpuji) dalam pandangan saya adalah tafsir yang mengedepankan rasa kemanusiaan, dan saya melihat hal tersebut dalam tafsir Al-Mizan”, tegas Waryono.

Hadir sebagai pembedah buku ini adalah Dr. H. Abdul Mustqaim, M. Ag selaku Ketua Program Studi Ilmu Alqur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga dan Dr. Zainal Abidin Bagir selaku Ketua Program Studi Cross Religious and Cultural Studies (CRCS) pascasarjana UGM.

Mustaqim menyebutkan bahwa terma millah Ibrahim yang diangkat dalam buku ini dapat menjadi basis ideologis dan epistemologis dalam menjaga perdamaian antar pemeluk Islam, Kristen, dan Yahudi. “Tidak ada perdamaian di dunia tanpa perdamaian antar agama, tidak ada perdamaian antar agama tanpa ada dialog antar agama, dan tidak ada dialog antar agama tanpa ada investigasi kebenaran dalam beragama”, sebut Mustaqim.

Dalam membedah buku tersebut, Bagir juga menyetui posisi istemewa yang dimiliki oleh Ibrahim dalam agama-agama besar, termasuk dalam Islam. “Satu-satunya nabi selain Muhammad yang disebut ketika seorang Muslim mendirikan sholat adalah Ibrahim”, tegas Bagir. Selain itu, sebut Bagir, ibadah haji merupakan bukti nyata napak tilas Ibrahim dalam Islam. Lebih jauh, Bagir mengajukan pertanyaan “apakah fitrah yang disebut dalam buku ini adalah termasuk kategori teologis atau etis? Pertanyaan lebih jauh apakah konsep semisal kafir, ghulwuz, zhalim dan seterusnya merupakan konsep yang berkaitan dengan dimensi teologis atau dimensi etis?”

Selain kedua pembedah buku tersebut, para audiens yang hadir juga menunjukkan antusiasme yang tinggi. Acara ini dihadiri oleh sekitar 200 lebih mahasiswa. Namun karena terbatasnya waktu, moderator hanya mempersilahkan lima orang audiens untuk bertanya, meskipun banyak audiens yang mengangkat tangan agar bisa mengajukan pertanyaan juga.

Sebelum diskusi ditutup, ketiga pembicara memberikan komentar yang sangat menarik. Waryono menuturkan, “Islam tidak hanya mencakup keshalehan ibadah, tetapi juga keshalehan sosial”. Bagir menyeru, “’amal shaleh selalu disebut berulang-ulang oleh al-Qur’an, dan menurut saya ini adalah inti agama!”. mustaqim tidak mau kalah, ia berujar, “kita perlu menggeser paradigma berteologi, dari permusuhan menuju perdamaian, dari terorsime menuju kasih sayang, dari konflik menuju kerukunan, dari berpisah-pisah menuju persatuan, dari ekstremisme menuju moderasi, dan dari suka melaknat kepada agama yang samhah (toleran).

Annas Rolli Muchlisin, Mahasiswa Prodi Ilmu Alqur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga.

NB: Artikel ini hasil kerjasa