Perempuan Juga Bisa Memimpin Pesantren: Belajar dari Ibu Nyai Nissa Wargadipura

Perempuan Juga Bisa Memimpin Pesantren: Belajar dari Ibu Nyai Nissa Wargadipura

Perempuan Juga Bisa Memimpin Pesantren: Belajar dari Ibu Nyai Nissa Wargadipura

Ulama laki-laki? Itu biasa. Ulama laki-laki memimpin pesantren? Itu juga di mana-mana. Ulama laki-laki memimpin pesantren yang mengajarkan isu lingkungan? Banyak kita temui. Tetapi, ulama perempuan memimpin pesantren dan fokus pada pelestarian lingkungan? Saya pastikan hanya sedikit. Ulama perempuan memimpin pesantren yang fokus pada isu ekologi dan mendapat aneka penghargaan? Nah, ini sangat langka.

Satu di antara sosok langka tersebut adalah Nissa Wargadipura. Ia mendirikan dan memimpin pondok Pesantren Ath-Thariq, Garut, Jawa Barat, bersama beberapa koleganya pada 2008.

Pesantren Ath-Thariq pada 2022 didapuk sebagai Pahlawan Pangan (2024), dan  Family Farming Decade (2018-2028) oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Program Kick Andy memberi penghargaan kepada Nissa Wargadipura sebagai tokoh Pangan Terhormat pada 2021. Aneka penghargaan nasional lainnya telah ia raih atas dedikasinya memimpin pesantren Ath-Thariq.

Bagaimana bisa seorang perempuan memimpin pesantren, memikirkan kelestarian lingkungan, dan berhasil meraih aneka penghargaan nasional dan internasional? Keberhasilan Nissa Wargadipura tidak lain dari kemampuannya menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan transformatif dalam menjalankan pondok Ath-Thariq.

Sosok Nissa Wargadipura

Terlahir di Garut, 23 Februari 1972, Nissa Wargadipura berasal dari keluarga pendidik—ayah, ibu, dan pamannya berprofesi sebagai guru. Tidak heran jika Nissa tidak keberatan mendirikan lembaga pendidikan karena sejak kecil berada di lingkungan pendidik.

Selain guru, ayahnya juga dikenal sebagai mantri pertanian di Garut. Dari ayahnya, Nissa mengenal dunia pertanian. Sejak kecil, Nisya mulai belajar otodidak cara bertani organik dan mempromosikan bahan makanan sehat. Jika ia sekarang menjadi penggiat pangan berbasis kearifan lokal, itu tidak lain dari pengaruh ayahnya.

Nissa Wargadipura mengenyam pendidikan di sekolah umum: SD Bungbulang II Garut (1984), SMPN Cibatu, Garut (1987), dan SMAN Cibatu, Garut (1990). Selepas pendidikan SMA, ia banyak berkecimpung dalam Forum Pelajar dan Mahasiswa Garut (FPPMG). Melalui forum tersebut, ia mulai mengadvokasi kasus-kasus agraria dan mendampingi petani di Jawa Barat. Bersama teman-temannya, termasuk suami, ia mendirikan Serikat Petani Pasundan (SPP).

Kepedulian Nissa kepada dunia pertanian ia tuangkan ketika memimpin pesantren Ath Thariq yang ia dirikan pada 2008. Mengusung tema ekologi, Ath-Thaariq mengajarkan tidak hanya ilmu agama kepada para santrinya, tapi juga tentang pertanian, termasuk mengolah makanan lokal, dalam hal ini yang sesuai dengan budaya Sunda.

Bermodal lahan seluas 7.500 meter persegi, ia mengolah tanah di pesantren Ath-Thaariq sebagai laboratorium para santri dalam membangun ketahanan pangan. Terbagi dalam enam petak sawah, lahan tersebut, ditanami padi pada setiap petaknya. Dengan penanaman organik, dari satu petak sawah dihasilkan sekitar dua ton sekali panen.

Sistem pertanian polikultur menjadi pilihan yang dikembangkan Nissa. Selain padi, ditanam pula sumber karbohidrat lain, seperti ganyong, talas, dan pisang muda, termasuk pula sayuran kenikir, pegagan, ruku-ruku, daun kelor, beligo, labu kuning, tomat ranti, dan ceri monyet. Sistem ini ia pilih agar mampu menjamin ketersediaan beragam pangan secara berkelanjutan.

Para santri tidak hanya diajarkan cara menanam dan panen, tapi juga mengolah hasil panen menjadi bahan makanan. Targetnya, para santri akan memiliki pemahaman tentang gizi dan khasiat makanan yang akan dikonsumsi. Pembelajaran ekologi bukan hanya dilakukan secara teori, namun juga praktek. Kegiatan yang dilakukan berupa pembenihan, penanaman, perawatan tanaman, memanen hingga pengolahan pasca panen.

Dalam kesehariannya memimpin pondok, ia mengedepankan prinsip keterbukaan (inklusif) dan universal. Terbuka dalam arti bahwa pesantren menerima berbagai pihak—meski berbeda suku, agama, atau ras—untuk bergabung belajar bersama. Dengan prinsip ini, hampir setiap bulan pesantren kedatangan tamu, baik individu maupun kelompok, yang berniat mendalami ilmu-ilmu ekologi.

Dengan motto “peduli bumi, peduli sesama, dan peduli masa depan”, ia mencita-citakan pesantren Ath-Thaariq berdiri di barisan terdepan dalam menjaga lingkungan melalui pendekatan agama. Kehancuran ekologi akibat ulah manusia hanya mampu diperbaiki dengan terlebih dahulu memperkuat moralitas agama setiap orang. Peduli masa depan, sesuai motto yang ada, dimaksudkan agar para alumni pesantren nantinya akan tetap memegang teguh prinsip penjagaan atas alam di masa depan.

Nissa melalui pondok Ath-Thariq mengajarkan ketahanan pangan secara mandiri kepada para santrinya. Para santri diajarkan bertanam bahan makanan pokok seperti padi untuk memenuhi kebutuhan hariannya, sayur mayur yang bisa dipetik kapan saja tanpa harus membeli, dan tanaman apotek hidup yang bisa digunakan sebagai obat-obatan. Bahkan, ketika pandemi Covid berlangsung, para santri tersebut mampu berwirausaha dengan menjual hasil sayur yang ditanam sehingga tidak mengalami kesulitan.

Kepemimpinan transformatif

Lalu bagaimana ia memimpin pondok Ath-Thariq? Pendekatan apa yang ia gunakan agar organisasi pondok berjalan sesuai cita-citanya? Berdasarkan beberapa kali wawancara pada 2017 dan pandangan-pandangannya di berbagai kegiatan, Nissa mempraktikkan aspek-aspek kepemimpinan transformatif selama memimpin pondok.

Pertama, kepemimpinannya dipandu gagasan besar. Dalam berbagai kesempatan, Nissa menyatakan bahwa apa yang ia lakukan sebagai secuil upaya memulihkan bumi dari kehancuran akibat ulah manusia. Ia menanamkan tujuan jangka panjang tersebut kepada para santrinya. Idealisme tersebut terwujud dalam keseharian para santri yang tidak kenal lelah mengolah tanah.

Kedua, ia sosok yang berintegritas tinggi dalam berperilaku. Ada kesesuaian antara perkataan dan tindakan. Sebagai pimpinan pondok, Nissa terjun sendiri ke sawah maupun kebun untuk menanam, merawat, memanen, maupun mengolah hasil bumi. Dengan perilaku demikian, santri bersemangat untuk menjalankan fungsinya masing-masing baik pada saat belajar agama maupun bertani.

Ketiga, Nissa adalah pendengar yang baik. Ia selalu mendengarkan dengan penuh kepedulian dan memberikan perhatian khusus, dukungan, semangat, dan usaha pada kebutuhan prestasi dan pertumbuhan para santrinya. Selain pemimpin pesantren, ia juga merupakan ibu bagi para santrinya. Perhatian Nissa kepada para santri dengan penuh kasih sayang dan cinta yang membuat kenyamanan.

Keempat, ia adalah sosok yang menginspirasi. Nissa memberikan motivasi kepada para santri dalam berbagai kesempatan, khususnya ketika mengolah tanah saat bertanam. Para santri diberikan kepercayaan untuk mengelola berbagai lahan, dan mengembangkan berbagai olahan dari produk pertanian yang dihasilkan, seperti minuman teh herbal nusantara, teh secang, teh serai, teh rosella, teh ungu dan produk lainnya.

Kelima, ia juga adalah sosok yang menstimulasi para santri dari segi intelektual. Nissa mengajak para santri untuk peduli pada bumi, peduli pada sesama, dan peduli pada masa depan. Nissa membuat sebuah terobosan dengan menggunakan pesantren sebagai media pembelajaran. Baginya, pondok bukan hanya belajar mengaji, namun juga menjaga alam terus lestari. Sebagai pemimpin, Nissa percaya bahwa sumber daya alam yang ada bisa tetap dinikmati oleh generasi berikutnya.

Terakhir, ia adalah sosok berkarisma. Nissa merupakan pemimpin perempuan yang karismatik di hadapan para tokoh lingkungan lainnya di Indonesia. Karisma tersebut juga telah dirasakan para santrinya di pondok Ath-Thariq. Tanpa banyak berkata, para santri sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk mengelola tanah dan menanam aneka hayati di lingkungan pondok.

Model kepemimpinan yang diterapkan di Pondok Ath-Thariq sebagaimana saya gambarkan di atas, sangat wajar jika Nissa mendapat aneka penghargaan nasional maupun internasional. Keberadaannya bukan saja dirasakan para santri, tetapi juga masyarakat luas. Ia memimpin dengan visi dan misi yang jelas, dituangkan dalam bentuk ide, dikokohkan dengan intelektualisme yang memadai, dan tak kalah penting ia terjun langsung ke sawah yang membentuknya sebagai sosok pimpinan pondok berkarisma.

Bagi perempuan yang berhasil menerapkan model kepemimpinan demikian, di tengah budaya patriarki begitu kuat di lingkungan pesantren, sangat wajar bila Nissa Wargadipura adalah sosok langka. Tulisan ini berharap menjadi inspirasi bagi calon-calon Nissa berikutnya. Sosok ulama perempuan pimpinan pondok pesantren peduli lingkungan yang meraih segudang penghargaan karenanya tidak lagi langka, melainkan biasa di Indonesia.

(AN)