Perang Badar di Bulan Ramadhan

Perang Badar di Bulan Ramadhan

Sejarah Perang Badar di bulan suci yang jarang diketahui

Di lembah Badar 17 Ramadlan tahun ke-2 Hijriah silam, dua pasukan itu berhadapan. Martin Lings dalam bukunya ‘Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources’ mengatakan, pada hari ke-8 Ramadlan pasukan Abu Jahal keluar Mekah, ditambah kafilah Abu Sufyan dari Syam membawa pasukan jumlah besar, sekitar 1000 tentara dengan kelengkapan peralatan perang. Dari arah Madinah, Nabi Muhammad membawa 300 sahabat menyambut tantangan itu menuju Badar.

300 lawan 1000, tentu ini akan menjadi perang yang tidak mudah. Bagaimana mungkin Nabi dan para sahabat tidak dilanda kecemasan? Tak ada yang mampu menepiskan debar kecemasan itu, hingga turun ayat al-Qur’an yang menenangkan, yaitu tentang kekuatan moril yang tumbuh dari teguhnya iman (al-Anfal: 12, 17, 65, 66)

فلم تقتلوهم ولكن الله قتلهم ومارميت اذ رميت ولٰكن الله رمى…الأية

Read More

Husein Haekal dalam kitab “Hayatu Muhamamad” menjelaskan tafsir kontekstual sebagai ilustrasi akan kesan supra-daya mengenai Perang Badar ini, yaitu tentang peran adi-kuasa yang tak kelihatan.

Hasilnya, pihak muslimin hanya butuh beberapa jam dan selesai sedikit lewat tengah hari mengakhiri perang, ringkas Karen Amstrong dalam karyanya ‘Muhammad: Biography of the Prophet’. Dilihat dari jumlah pasukan yang timpang, sungguh ini kemenangan yang menakjubkan.

Yang menarik dari Perang Badar ini ialah, banyaknya ayat al-Qur’an yang turun meliput peristiwanya. Dasar inilah yang kemudian menjadikan Badar sebagai obyek kajian asbabun nuzul terlaris bagi para pengkaji perang agama.

Terhitung ada sekitar 10 ayat dalam al-Qur’an yang menuturkan Badar tepat pada horizonnya. Belum ditambah dengan ayat-ayat lain yang turun pra dan pasca perangnya. Plus ayat-ayat lain yang memiliki korelasi dan hubungan esensial tentang perang.

Maka kemudian, para mufassir dan antropolog berkesimpulan, bahwa salah satu hal yang paling menentukan sebuah perang layak disebut ‘suci’ ialah jika diiringi dengan hadirnya ‘teks suci’.

Nah, jika kalian tidak memiliki dasar teologis semacam ‘narasi suci’ atas perangmu itu, ya jangan sok suci. Paham antum?