Pemerintah, Rakyat, dan Anak Yatim

Pemerintah, Rakyat, dan Anak Yatim

Wajah-wajah sumringah para wakil rakyat sesudah diambil sumpah menghiasi halaman berita media cetak dan elektronik nasional. Mudah-mudahan gambar itu mencerminkan ketulusan para pemimpin negeri ini untuk mengemban amanah rakyat yang telah memilih mereka. Terlebih para wakil rakyat yang dengan lantang bersuara: “Demi Allah, saya bersumpah!”

Ikrar sumpah bagi pejabat merupakan ungkapan kesanggupan mengemban amanah untuk memimpin, mengayomi, dan menghadirkan kemaslahatan bagi rakyat. Ikrar ini tak ubah seperti pernyataan seorang wali anak yatim yang bertekad mengantarkan masa depan asuhannya agar sejahtera di kemudian harinya.

Tanggungjawab pemimpin atas rakyat banyak kesamaannya dengan tanggung jawab wali atas anak yatim. Dalam Islam ada kaidah yang menjelaskan:

Read More

تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة

“tasharraful imam ‘alarra’iyyah manuth bil-maslahah”

“Tata kelola pemerintah untuk rakyat bertujuan untuk kemaslahatan.”

Ulama Mazhab Syafi’iyah yang pertama kali menyusun kaidah politik itu mengaku terinspirasi dari kewajiban dan tanggung jawab wali terhadap anak yatim.

Dalam kitab al-Asybah wa al-Nazdair karya as-Suyuthi halaman 121 dijelaskan redaksi awal kaidah yang disusun imam Syafi’i itu ialah:

منزلة الامام على الرعية بمنزلة الولي من اليتيم

“manzilatul imam ‘ala al-ra’iyyah bi manzilatul wali min al-yatim”

“kedudukan pemimpin atas rakyat sebagaimana kedudukan wali terhadap anak yatim”.

Imam as-Suyuthi berpendapat bahwa kaidah ini bersumber dari satu riwayat al-Barra’ bin Azib tentang pernyataan Umar bin Khattab:

اني انزلت نفسي من مال الله بمنزلة اليتيم، ان احتجت اخذت منه، فاذا ايسرت رددته، فان استغنيت استعففت

“Inni anzaltu nafsu min malillahi bi manzilati al-yatim. Inihtajtu akhadtu minhu, ga isda aysartu radadtuhu, fa inistaghnaitu ista’faftu”

“Aku menempatkan diriku dari sumberdaya alam warisan Tuhan sebagaimana kedudukan ku pada anak yatim. Jika aku butuh maka aku ambil, jika aku punya aku kembalikan lagi, dan jika aku tak butuh aku tetap menjaganya”.

Rakyat pemilih pada dasarnya anak-anak yatim yang telah ditinggalkan induknya. Mereka menyandarkan nasibnya melalui wakil-wakil rakyat yang terpilih dalam pemilihan umum. Jadi para pejabat merupakan tumpuan dan harapan orang-orang yatim yang hidup sebatang kara. Tugas para pejabat adalah mensejahterakan sisi lahir dan batin rakyatnya, dan bukan sebaliknya menyia-nyiakan mereka.

Oleh sebab itu, tetaplah bersumingah! Tak perlu suntuk dan kalut! Asalkan “anak-anak yatim” itu terpenuhi hak-haknya maka para wali dan wakilnya akan bahagia di dunia dan akhirat. Amiin