Pakai Masker Tetap Penting, Bahkan Setelah Pandemi Berakhir

Pakai Masker Tetap Penting, Bahkan Setelah Pandemi Berakhir

Berbagai virus dan bakteri berukuran nanometer, yakni satu meter dibagi satu miliar. Memakai masker tetap penting sekalipun pandemi corona telah berakhir.

Pakai Masker Tetap Penting, Bahkan Setelah Pandemi Berakhir

Saat keluar dari rumah untuk membeli kebutuhan, kita selalu disuguhi pemandangan yang sangat baru dan tidak pernah kita lihat sebelum pandemi corona datang, yakni semua orang memakai masker. Baik muda sampai yang tua, siapa saja yang keluar rumah, semua mengenakan masker sebagai upaya pencegahan virus corona masuk ke dalam tubuh.

Meskipun belum terjadi secara masif, namun kejadian ‘besar’ meluasnya virus corona ini harusnya bisa menjadi batu loncatan yang amat bagus buat kita semua untuk mempelajari kebesaran Tuhan, terutama tanda-tanda yang dititipkan-Nya lewat sains.

Ternyata Tuhan tidak hanya menciptakan manusia, binatang, tumbuhan dan bebatuan. Tuhan juga tidak hanya ciptakan alam semesta yang amat luas seperti matahari, bulan, dan bintang.

Saat pandemi ini kita jadi sadar bahwa Tuhan juga menciptakan makhluk super kecil yang ukurannya sampai skala nanometer (nm) dan penyebarannya menghebohkan dunia.

Bayangkan, Nanometer adalah satu meter yang dibagi menjadi 1.000.000.000 (satu miliar). Satu meter dibagi menjadi 1.000 (seribu) alias satu milimeter (1 mm) saja tidak semua mata manusia bisa melihat dengan jelas. Kondisi yang kita hadapi saat ini adalah makhluk yang ukurannya 100-an nanometer, artinya 1 meter dibagi menjadi 10.000.000 (sepuluh juta). Dalam melihat virus corona kita memerlukan sebuah alat yang rumit dan tentu perlu persiapan yang panjang.

Makhluk sekecil ini bisa sangat memberikan dampak yang amat signifikan dalam kehidupan kita, bahkan sampai mampu ‘melarang’ kita jamaah Tarawih. Meskipun ukuran makhluk ini amat sangat kecil, ia bisa membunuh dan membuat lemah makhluk yang ukuran tubuhnya jauh lebih besar. Sebenarnya kita juga membutuhkan beberapa jenis makhluk tak kasat mata ini di kehidupan kita, meskipun kita tidak pernah menyadarinya.

Berkat virus corona, kita menjadi belajar tentang skema vaksin yang mungkin selama ini kita abaikan. Saat dulu masih kecil, ketika disuntik vaksin ya biasa aja, eh ternyata apa yang disuntikkan ke tubuh kita itu memiliki dampak yang luar biasa besar pada kesehatan dan keberlangsungan umat manusia.

Selain itu, karena virus corona juga kita menjadi semakin paham bahwa banyak penyakit yang selama ini sudah umum beredar di masyarakat datangnya dari virus dan bakteri, mulai dari Flu, Malaria, DBD, Chikungunya dan masih banyak yang lain. Intinya berkat virus ini, pengetahuan kita pada bidang pengetahuan makhluk renik sangat ter-upgrade.

Sebelum membahas topik inti dari esai ini, kita juga perlu melengkapi sedikit pengetahuan tentang jenis dan fungsi makhluk renik. Makhluk renik secara garis besar bisa kita bedakan menjadi dua, dari yang hidup seperti bakteri, virus dan jamur serta yang tak hidup seperti partikulat matter (PM) dan logam berat. Nah kesemua jenis ini, karena sama-sama mahluk Tuhan, tetap memiliki dua sifat yakni ada yang baik dan ada yang buruk.

Contoh paling mudah saat kita membutuhkan makhluk renik bisa ditemui saat kita sedang susah buang air besar (BAB). Saat sulit BAB, kita dengan sengaja memasukan mahluk renik berjenis bakteri dari susu fermentasi ke tubuh kita, ini kategori bermanfaat. Sementara yang kategori tidak bermanfaat tentu banyak sekali dan salah satunya ya corona ini.

Selain karena sifat dasar makhluk renik ada yang baik dan ada yang jahat, makhluk renik juga kadang mulai berbahaya ketika jumlah yang ada dalam tubuh sangat banyak, umumnya ini terjadi di kasus logam. Jadi saat jumlah atau kadar masih cukup, sebenarnya logam bermanfaat untuk tubuh, tetapi saat jumlahnya kebanyakan, saat itu lah tubuh kita mulai terasa sakit.

Kok ada logam dimasukkan ke tubuh?

Contoh yang dekat adalah saat kita anemia atau kekurangan darah. Saat kurang darah kita dengan sengaja memasukan logam besi, atau bahasa pasarnya zat besi ke dalam tubuh kita. Jumlah besi ketika cukup tentu akan bermanfaat bahkan bisa menyembuhkan anemia itu tadi. Tetapi kalau jumlah besi dalam tubuh overdosis, tentu tubuh kita mulai menunjukan gejala-gejala yang perlu penanganan medis.

Karena makhluk renik ini tak bisa dilihat dengan mata telanjang dan kita juga tidak bisa menentukan yang disekitar kita itu kategori yang baik atau yang jahat, kita mesti tetap perlu berjaga-jaga sebagai bentuk ikhtiar kita dalam menjaga kesehatan. Sehingga suatu saat nanti saat pandemi corona telah usai, kita seharusnya tetap harus mengenakan masker.

Yang paling penting adalah saat kita di luar rumah, terutama di jalan raya, karena di sana kita akan berjumpa dengan sisa pembakaran kendaraan bermotor yang mengandung banyak logam berbahaya serta debu-debu yang bisa berupa partikulat matter (PM).

Apa yang kita lindungi saat menggunakan masker? Yang kita lindungi adalah saluran pencernaan dan saluran pernafasan. Kita melindungi organ dalam tubuh kita dari makhluk renik yang berbahaya. Saat kita di jalan, zat yang cukup sering ditemui dan berbahaya adalah partikulat matter (PM). Materi ini adalah sebuah batu berukuran mikron dan berpotensi merobek-robek organ dalam kita seperti paru-paru saat ia masuk ke saluran pernafasan.

Kenapa bisa merobek? Debu meskipun terlihat halus, bisa jadi bentuk kristalnya runcing, karena bentuknya yang runcing ia bisa melukai organ dalam. Ada dua jenis materi berukuran kecil ini, dibedakan karena ukurannya yakni PM 2,5 (2,5 μm) dan PM 10 (10 μm). Dua jenis partikel kecil ini berbahaya untuk saluran pernafasan kita. Yang lebih berbahaya adalah yang ukurannya lebih kecil, yakni PM 2,5. Karena kalau ukurannya lebih kecil, ia lebih leluasa masuk ke dalam rongga-rongga tubuh kita, yang lebih besar PM 10, bisa saja tersaring di bulu hidung.

Akhirul kalam, nantinya saat corona ini sudah pergi, sebaiknya kita tetap melanjutkan kebiasaan baik kita seperti keluar rumah dengan memakai masker dan sering cuci tangan pakai sabun, karena ini lah bentuk ikhtiar manusia dalam menjaga karunia Tuhan berupa kesehatan.