Pahala yang Paling Susah Dicari, Tapi Mudah Didapatkan

Pahala yang Paling Susah Dicari, Tapi Mudah Didapatkan

Ada yang tahu, di mana letak Pahala?

Pahala yang Paling Susah Dicari, Tapi Mudah Didapatkan

Bisa dikatakan, pahala adalah pondasi agama. Ia mewarnai seluruh bangunan agama, dari A hingga Z. Semenjak dini, kita sudah dikenalkan pada perbuatan yang membuahkan pahala—juga sebaliknya yang mengakibatkan dosa. Pahala ini pulalah yang dijadikan dasar guru-guru agama kita buat menerangkan apa yang wajib, haram, sunnah, makruh, ataupun mubah.

Perbuatan wajib, jika dilakukan, si pelaku akan mendapat pahala, tapi jika enggan melaksanakan, dosalah akibatnya, misalnya salat lima waktu. Sebaliknya perbuatan haram, jika dilakukan, si pelaku bakal diganjar dosa, tapi yang meninggalkan akan dibalas pahala, contohnya zina. Sementara perbuatan sunnah, jika dilakukan, pahala diperoleh, tapi jika ditinggalkan juga tidak berakibat dosa, contohnya puasa Senin-Kamis. Perbuatan makruh itu seperti merokok, kalau dilakukan, ya, yidak ada pahala maupun dosa, tapi kalau ditinggalkan dapat membuahkan pahala. Adapun yang mubah itu seperti makan dan minum, tidak ada pahala maupun dosa bagi yang melakukan maupun yang meninggalkan, alias boleh-boleh saja. Demikianlah keterangan yang biasa kita dengar dari ustad-ustad kita, semua memperoleh dasarnya pada pahala.

Ketika Bulan Ramadan lalu, pahala menjadi semacam “menu” yang superspesial dalam majelis-majelis keagamaan. Tak henti-hentinya kita mendengar betapa istimewa pahala yang dilimpahkan di bulan itu, yang berbeda dari hari-hari biasa. Jika pada hari biasa setiap kebajikan dijanjikan pahala sepuluh kali lipat (al-hasanatu bi ‘asyri amtsâliha) maka pada Ramadan pahala yang diturunkan tak terkira agungnya: pengampunan segala-gala dosa yang telah lalu (ghufira lahu mâ taqaddama min dzanbih). Belum lagi, di bulan itu terdapat malam Lailatul Qadar. Pahala yang dilimpahkan di malam ini seolah tak tergambarkan, sehingga hanya disebutkan sebuah ibarat: kebajikan yang dilakukan pada malam itu menyerupai kebajikan yang dilakukan seribu bulan.

Maka, dapatlah kita saksikan, perbuatan-perbuatan mengejar pahala dilakukan orang tidak seperti biasanya. Jamaah tarawih digelar tak hanya di masjid dan musola, tapi juga di perkantoran-perkantoran. Lantunan ayat al-Quran tak hanya menggema dari sudut kamar, tapi di radio hingga teve, dari loud speaker masjid besar hingga musola kecil di sudut kampung. Sedekah tak hanya dilakukan diam-diam, tapi diundanglah ratusan anak yatim-piatu dalam macam-macam pentas amal. Semua seakan sedang merayakan “panen pahala”, sebuah momen yang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Namun, di tengah hiruk pikuk itu, kita seolah dipaksa untuk melupakan satu pertanyaan: apakah perbuatan yang di mata kita berpahala itu benar-benar memiliki nilai pahala yang hakiki? Rasulullah pernah ditanya, tak hanya sekali tapi beberapa kali dengan penanya yang berbeda, tentang sebuah perbuatan yang paling utama, yang paling dicintai Allah. Tapi, setiap orang yang berbeda, berbeda pula jawaban yang diberikan.

Suatu ketika, misalnya, seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah, “Perbuatan apa yang paling utama, ya Rasul?” Rasul menjawab, “Salat tepat waktu.” “Kemudian apa?” lelaki itu masih bertanya. “Bakti kepada orangtua.” “Kemudian apa?” “Jihad fi sabilillah.” Kalau pahala yang diburu, jawaban Rasulullah tentu akan dimaknai bahwa perbuatan yang paling besar pahalanya adalah salat tepat waktu, baru kemudian bakti kepada orangtua, lalu jihad. Dengan demikian, demi mendapat pahala paling besar, kita akan lebih mengutamakan salat tepat waktu ketimbang menolong orang yang tertimpa kecelakaan di jalan depan rumah, misalnya.

Akan tetapi, kita akan berubah pikiran saat Rasulullah mengatakan bahwa perbuatan yang paling utama bukanlah salat tepat waktu. “Perbuatan apa yang paling utama, ya Rasul?” tanya seorang lelaki. “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” “Kemudian apa?” “Jihad fi sabilillah,” kata Rasul. “Kemudian apa?” “Haji mabrur.” Lihatlah, salat tepat waktu malah tidak disebut dalam jawaban Rasul kali ini. Di sini pun, haji mabrur, yang merupakan satu rukun Islam, diletakkan setelah jihad yang bukan merupakan rukun Islam.

Di saat lain, Rasulullah bahkan tidak menyebut jawaban jihad fi sabilillah. Saat itu seorang lelaki menanyakan, “Perbuatan islami seperti apa yang paling baik, ya Rasul?” Jawaban Rasulullah sungguh di luar dugaan. Beliau tidak menyebut salat tepat waktu, haji mabrur, ataupun jihad. Apa jawab Rasul? “Engkau berilah makan orang, dan kirimlah salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal.”

Abu Musa al-Asy’ari, seorang Sahabat, pada suatu kesempatan juga bertanya kepada Rasulullah, “Perbuatan islami apa yang paling utama, ya Rasul?” Jawaban Rasul berbeda lagi, “Yaitu jika kaum muslimin mendapatkan keamanan dari lisan dan tangannya.” Pada peristiwa terakhir ini, Rasulullah tidak menyebutkan satu pun amal yang spesifik, apakah itu jihad atau salat tepat waktu, tapi hanya memberi isyarat jika orang lain merasa aman (tidak terancam) dari ucapan (lisan) maupun perbuatan (tangan).

Lalu, di manakah sebenarnya “letak” pahala yang paling tinggi? Pada jihadkah, salat tepat waktukah, imankah, atau memberi makan orang kelaparan? Apakah Rasulullah plin-plan sehingga memberi jawaban berbeda-beda? Begitulah, kita akan kebingungan kalau yang mau kita buru adalah pahala yang paling besar, paling tinggi, paling berlipat ganda.

Ulama-ulama jaman dulu—seperti dikutip ulama terkemuka abad ke-8 Hijriyah Abu Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya yang terkenal Fath al-Bârî—berupaya memberi penafsiran-penafsiran terhadap jawaban Rasul yang berbeda-beda itu. Soal haji yang diurutkan setelah jihad, misalnya, ada yang mengatakan, itu lantaran manfaat haji terbatas pada orang yang melakukan, sementara jihad memiliki manfaat lebih luas sehingga pantas didahulukan. Tapi ada lagi yang mengatakan, itu karena kewajiban jihad tak hanya sekali seumur hidup, sedangkan haji hanya sekali seumur hidup.

Lalu, soal jawaban yang diberikan kepada Abu Musa berbeda dari yang dikatakan kepada lelaki sebelumnya, ada yang mengatakan, sebenarnya tidak ada perbedaan. Memberi makan orang kelaparan merupakan bentuk  salâmat al-yad (perbuatan yang membuat aman orang lain). Sementara, ucapan salam adalah manifestasi dari salâmat al-lisân (upacan yang membuat aman orang lain).

Dan, kita masih, demi memperoleh keutamaan pahala, menyetel keras-keras kaset ayat-ayat suci, menggemakan ke setiap telinga, tanpa peduli apakah orang lain merasa aman dengan lisan dan perbuatan kita. Kita seakan yakin betul, pahala ada di sana. Benarkah kita tahu di mana “letak” pahala?

__________________________________________________________

Tulisan ini pernha dimuat di Syir’ah 2003