Obituari Gus Sholah: Ulama yang Menjaga Marwah Indonesia

Obituari Gus Sholah: Ulama yang Menjaga Marwah Indonesia

Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya Gus Sholah

Obituari Gus Sholah: Ulama yang Menjaga Marwah Indonesia

Indonesia kembali kehilangan satu putra terbaiknya. Tadi malam, pada tanggal 2 Februari 2020, KH. Sholahuddin Wahid – sering disapa Gus Sholah – telah meninggalkan kita semua. Wafatnya beliau dikonfirmasi oleh putranya, Irfan Sudirman Wahid, dalam cuitan di twitter. Gus Sholah menghembuskan nafas terakhir di RS Jantung Harapan Kita Jakarta pada pukul 21;00 WIB setelah kondisi kritis.

KH. Salahuddin Wahid lahir dari kalangan darah biru pesantren. Ayahnya, KH. Wahid Hasyim, adalah salah satu pendiri Indonesia, sekaligus cendekiawan muda Islam paling cemerlang di masa kemerdekaan. Sang kakek, KH. Hasyim Asy’ari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus poros intelektual Islam di awal abad 20. Sebagai anak ketiga dari enam bersaudara, beliau adalah adik kandung dari KH. Abdurrahman Wahid, presiden keempat Republik Indonesia.
Gus Solah lahir pada tanggal 11 September 1942 di Tebuireng Jombang.

Pendidikan yang beliau tempuh selama sekolah banyak dihabiskan di Jakarta, selanjutnya melanjutkan kuliah jurusan arsitektur di Institut Teknologi Bandung. Pendidikan formalnya di bidang ilmu sains, yang masih langka di kalangan pesantren saat itu, menjadikan Gus Solah sosok yang unik. Perpaduan antara tradisi pesantren dan keilmuan sains.

Kesan yang muncul dari Gus Solah adalah pribadi yang lurus, idealis dan mungkin cenderung pendiam. Beliau bukan sosok yang akrab dengan sorotan kamera sebagai media darling. Berbeda dengan kakaknya, Abdurrahman, yang gemar berkelakar dan kerap melontarkan statemen akrobatik di media.

Gus Solah tidak demikian. Konon, nama beliau dinisbatkan kepada panglima Islam Shalahuddin Al-Ayyubi, yang masyhur dengan julukan singa padang pasir. Layaknya singa, di balik perawakannya yang tenang, Gus Sholah sesekali tampil di publik untuk mengaum, melontarkan gagasan dan kritik.

Misalnya, Gus Sholah tidak jarang memiliki pandangan yang berseberangan dengan sang kakak, Gus Dur. Menurut catatan Robin Bush di buku Nahdlatul Ulama and The Struggle for Power within Islam and Politics in Indonesia, Gus Sholah pernah berdebat secara terbuka dengan Gus Dur tentang bagaimana seharusnya gagasan sang ayah, KH. Wahid Hasyim, diimplementasikan di Indonesia. Perdebatan publik ini berlangsung dengan saling berbalas artikel di surat kabar Media Indonesia dari tanggal 8 sampai 23 Oktober 1998.

Gus Dur berargumen bahwa KH. Wahid Hasyim selalu mendasarkan bentuk negara Indonesia kepada Pancasila. Sementara Shalahuddin berargumen bahwa sang ayah mempunyai visi negara Indonesia berdasarkan agama Islam.

Sementara Gus Solah berpandangan lain, dengan merujuk pada dokumentasi saat negosiasi konstitusi Indonesia pada tahun 1945. Saat itu KH. Wahid Hasyim mendesak satu klausul supaya presiden Indonesia harus beragama Islam. Selain itu, negosiasi yang alot atas tujuh kata di dalam undang-undang menyiratkan visi KH. Wahid Hasyim sesungguhnya, bahwa Indonesia seharusnya berdiri berdasarkan agama Islam.

Tidak hanya kepada Gus Dur, Gus Sholah juga tidak segan melontarkan kritikan kepada struktur Pengurus Besar NU. Terutama ketika menyangkut hubungan politik antara NU dan PKB yang berkelindan. Bagi Gus Solah, NU terlampau besar untuk diwadahi oleh PKB. NU berpotensi menjadi kecil di mata warganya apabila mengarahkan dukungan hanya kepada satu partai politik tertentu, karena arahan PBNU tidak serta-merta akan diikuti oleh Nahdliyyin di akar rumput (Merdeka.com, 20/02/2019).

Sebelumnya, Gus Sholah juga berkomentar atas Muktamar NU ke-33 yang diselenggarakan di kampung halamannya, Jombang. Beliau menilai adanya intervensi politik praktis di forum tertinggi NU tersebut. Gus Sholah prihatin, intervensi tersebut berpotensi menghancurkan NU (Liputan6.com, 02/08/2015).

Perdebatan publik semacam ini kerap dibaca oleh pihak luar sebagai perpecahan – bahkan permusuhan di dalam tubuh NU. Mereka tidak tahu saja bahwa perdebatan semacam ini sangat lazim terjadi di dalam dunia pesantren, yang memang membuka lebar ‘ruang tanding’ gagasan sedemikian rupa. Perdebatan semacam ini sekaligus menunjukkan bahwa Gus Sholah hadir dan menghidupi diskursus publik yang dinamis dan sehat, sekaligus menjadi penyeimbang wacana yang dominan.

Dengan pandangan yang kadang berseberangan dengan Gus Dur dan NU, Gus Solah kerap dianggap bermusuhan. Sehingga kadang didekati oleh kalangan Islam politik demi agenda-agenda jangka pendek. Seperti yang belakangan pernah muncul, Gus Sholah diklaim akan menghadiri dan mendukung reuni alumni aksi demo 212 di Jakarta. Gus Sholah sendiri kemudian membantah dan menyatakan tidak mempunyai rencana mendukung atau menghadiri even tersebut (Kompas.com, 01/12/2019).

Sekali lagi, yang akhirnya muncul adalah Gus Sholah menegaskan diri sebagai seorang negarawan yang mampu menerima dan mendengarkan banyak kelompok.

Bagaimanapun Gus Sholah lahir dari keluarga dan tradisi pesantren. Beliau memahami betul bagaimana Islam dan Indonesia harus berjalan beriringan, sebagaimana legacy yang diwariskan oleh ayah dan kakeknya. Pandangannya antara lain tertuang dalam karyanya baik berupa esai, artikel atau buku.

Yang terakhir, Gus Sholah menerbitkan sebuah buku berjudul “Memadukan Keislaman dan Keindonesiaan” yang diterbitkan oleh Pustaka Tebuireng pada tahun 2017. Sebagai tokoh publik, Gus Solah pernah menjabat sebagai anggota MPR pada masa awal reformasi 1998, dan menjadi wakil Komnas HAM pada tahun 2002.

Dalam perannya di Komnas HAM, Gus Sholah aktif mengadvokasi kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada masa Orde Baru. Salah satu perannya pernah memimpin TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) guna menyelidiki kasus Kerusuhan Mei 1998, kemudian Ketua Tim Penyelidik Adhoc Pelanggaran HAM Berat kasus Mei 1998.

Nama Sholahuddin Wahid makin dikenal publik ketika maju sebagai calon wakil presiden di Pilpres 2004, berpasangan dengan Wiranto. Pasangan calon ini menempati urutan ketiga di bawah Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla dan Megawati Soekarnoputri – Hasyim Muzadi, dengan suara sekitar 20%.

Setelah malang melintang di dunia aktivisme dan politik, Gus Sholah kembali ke Jombang untuk mengasuh Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh kakeknya. Beliau tetap mengabdikan diri dengan mengasuh pesantren dan menulis sampai akhir hayatnya.

Menulis sampai akhir hayat ini bermakna sebenarnya, sampai kurang dari satu minggu sebelum kembali ke haribaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ditayangkan di harian Kompas pada tanggal 27 Januari 2020, Gus Sholah menulis artikel berjudul Refleksi 94 Tahun Nahdlatul Ulama, menyoroti kontribusi ormas ini kepada bangsa Indonesia. Semakin menegaskan bahwa di balik sosoknya yang tenang, mata beliau selalu awas untuk menjaga marwah Nahdlatul Ulama dan Republik Indonesia.