Nussa Rara Episode “Bukan Mahram”: Menarik tapi Rawan Reduksi

Nussa Rara Episode “Bukan Mahram”: Menarik tapi Rawan Reduksi

Mengatakan Nussa-Rara sebagai “Islam Kaku” adalah kelewat keras, kendati menyebutnya sebagai dakwah Islam “rahmatan lil ‘alamin” juga sepertinya nanti dulu

Nussa Rara Episode “Bukan Mahram”: Menarik tapi Rawan Reduksi

“Kenali mahram kita, agar selamat dunia akhirat….

Itu tadi adalah kutipan dari animasi Nussa-Rara di penghujung episode berjudul “Bukan Mahram”.

Tapi, anu, sebentar. Saya singsingkan lengan baju dulu sebelum panjang lebar membincang topik darurat seantero dunia-akhirat ini. Ya, islami.co sempat dihujani komentar ajaib setelah menayangkan artikel berjudul Sisi Lain Nussa-Rara, Menyaksikan ‘Islam Kaku’ Diajarkan via Layar Televisi Kita.

Ini terjadi di Twitter. Para militan yang keranjingan dakwah satu arah lalu ramai-ramai melempar stigma yang, haqqul yaqin, mereka sendiri tidak mengerti apa yang mereka tuduhkan: liberal!!

Bahwa kemudian islami.co juga menayangkan artikel yang membantah tulisan sebelumnya, tampaknya itu kedap dari minhum yang kadung muntab.

Meski begitu, saya tidak sedang berposisi untuk membela salah satu dari keduanya. Di sini saya mengajak antum untuk memahami lebih jernih apa yang terjadi dengan episode “Bukan Mahram” yang sebetulnya sudah disentil oleh saudara Supri, kendati belum utuh.

Begini, saya kutipkan apa yang ditulis oleh Supri:

Di beberapa episode Nussa, Islam dihadirkan secara sangat kaku terutama urusan moral. Kita tentu saja bisa berdebat soal ini, seperti yang terlihat dalam episode “Bukan mahram”. Di serial itu, Nussa diceritakan tidak bersalaman dengan orang asing yang datang ke rumahnya, setelah dijelaskan bahwa tamu tersebut adalah tantenya atau adik ibunya, baru Nussa mau bersalaman.”

Harus saya akui bahwa menyebut animasi Nussa-Rara sebagai representasi “Islam Kaku” adalah kelewat keras. Meski begitu, menyebut animasi itu sebagai dakwah Islam “rahmatan lil ‘alamin” juga sepertinya nanti dulu. Saya mendapati banyak reduksi di sana.

Baik, jadi begini: apakah Anda kenal dengan Michel Foucault? Kalau tidak, maka sama, saya juga tidak.

Yang jelas, Foucault pernah bilang kalau sebuah wacana merupakan segala bentuk dari praktik sosial yang dilakukan secara verbal (tutur kata) atau non-verbal (teks). Ini mungkin terlalu rumit.

Jadi, mudahnya adalah setiap teks pasti mengandung wacana. Dan, sebuah wacana pastilah mengandung maksud, atau istilah kerennya adalah ideologi.

Di titik ini, bahasa—sebagai medium dialog dua pihak—sudah tidak netral lagi. Bahasa, bagiamanapun, mengandung suatu ideologi atau faham dari sang pembuat teks d/a penutur (the author).

Dan, jangan salah, ideologi yang tersembunyi di balik teks tersebut sangatlah halus, plus jarang disadari oleh semua kita. Demikian versi seorang pakar Critical Discourse Analysis bernama Norman Fairclough.

Dalam konteks Nussa-Rara, saya kira animasi itu tidak lepas dari keberadaan unsur ideologi atau relasi kuasa yang sedang dipertontonkan. Anda bisa cek sendiri videonya di sini. Tapi yang ingin saya sorot adalah dialog berikut:

Rara: Tadi kenapa (Kak Nusa) gak salim sama Tante Dewi?

Nussa: Salam? Kan bukan muhrim?

Lalu dari arah belakang, Umma menyela: Maksudnya mahram kali

Nussa: ehh, Umma…

Umma: Kalau muhrim, artinya orang yang pake baju ihram. Kalau mahram, orang-orang yang gak boleh dinikahi karena mereka masih ada hubungan keluarga, pernikahan, atau persusuan.

Nussa: Iya, maksudnya bukan mahram. Soalnya pak ustaz ngingetin kalo kita gak boleh salaman dengan yang bukan mahram.

Hop!!!

Anggaplah dialog di atas adalah teks yang sedang kita bedah dari animasi Nussa-Rara.

Pertama-tama secara genre, benderang sekali bahwa itu semua terjadi dalam sebuah percakapan informal, santai, dan penuh keakraban sekaligus kecurigaan.

Kemudian, sehubungan dengan dimensi kewacanaan, teks itu diproduksi oleh sekelompok kaum muda kreatif yang sebagian dari mereka sebetulnya masih belajar dan memperdalam agama Islam. Anda bisa cek di sini.

Lebih jauh, ada beberapa diksi krusial di sana, sebut saja “mahram” dan “muhrim”. Kedua istilah itu merupakan serapan atau berasal dari Bahasa Arab. Saya menduga bahwa dialog itu sengaja diperlihatkan dengan asumsi bahwa keduanya memang seringkali terbolak-balik dalam penggunaan sehari-hari. Ini kalau upaya husnuzon dan tinjauan dimensi tekstualnya.

Sementara, ditinjau dari sudut intertekstualitas atau representasi wacana, kita mendapati ada pihak lain yang dihadirkan dalam dialog itu. Ya, siapa lagi kalau bukan “Pak Ustaz” yang dirujuk oleh Nussa dalam rangka melegitimasi “keharaman salaman dengan yang bukan mahram.”

Demikian tadi adalah analisis wacananya. Sekarang saya mau beropini. Tentu saja Anda boleh tidak sepakat. Tapi, ada beberapa pertanyaan mendasar di mari: siapakah “Pak Ustaz” yang dirujuk Nussa?

Terus terang saya penasaran sekali. Mengapa?

Bagi saya, mengetahui sosok “ustaz” tersebut adalah penting, karena ia akan mengungkap siapa penulis script, dan lebih jauh, mengapa narasi bukan mahram itu menjadi menarik ditayangkan?

Padahal, semua kita juga tahu bahwa salaman itu adalah laku sosial yang biasa-biasa saja di mari. Bahwa kemudian jika kita benturkan fenomena sosial itu dengan, misalnya, dalil agama, maka benar sekali terdapat hadis yang mengharamkan bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram.

Masalahnya begini, terkadang kita pun berlaku tidak adil dalam memahami dalil. Contoh yang paling konkret adalah perkara “salaman” itu tadi.

Saya tidak mengatakan bahwa adanya dalil keharaman bersentuhan dengan lawan jenis itu musti direvisi. Suwerr, bukan begitu. Tapi, perlu kita ingat juga bahwa jauh-jauh hari Nabi Muhammad Saw juga bersabda begini:

Innal halaala bayyinun, wa innal harooma  bayyinun, wa bainahumaa umuurun musytabihaatun laa ya’lamuhunna katsiirum minan naasi… ( Sesungguhnya perkara yang halal adalah jelas, dan yang haram [juga] jelas. Dan di antara keduanya ada perkara yang samar samar….). Ini versi rekaman mutafaqun alaih (Bukhari-Muslim).

Dalam terminologi ulum al-tafsir, perkara yang jelas itu disebut muhkam, sedangkan yang samar itu lebih akrab disapa mutasyabihat. Nah, perkara yang mutaysabihat ini, sadar atau tidak adalah bejibun kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Katakanlah bahwa salaman dengan selain mahram itu termasuk perkara mutasyabihat. Dengan kata lain, ia bisa menjadi sangat dilematis: kalau kita hendak salaman, tapi kok Pak Ustaz melarangnya; sedangkan jika kita tidak salaman, itu berpotensi memunculkan kecanggungan sosial berskala besar.

Lalu baiknya bagaimana?

Bagi saya, baik salaman maupun tidak salaman adalah sama-sama sah. Jika Anda menolak salaman dengan selain mahram, maka Anda telah mengikuti pendapat ulama yang mengatakan demikian.

Sebaliknya, jika Anda memilih salaman dengan selain mahram, maka Anda juga telah mengikuti pendapat ulama yang membolehkannya sebagai perkara yang biasa-biasa saja. Percayalah, keduanya adalah perkara ijtihadiyah belaka.

Dan, di atas itu semua, ada banyak ko ulama kita yang memilih bersalaman dengan selain mahram. Anda bisa cek di sini. Kenapa bisa begitu?

Sederhana saja, tentu saja karena mereka belajar dari literatur keagamaan yang sahih, sehingga paham betul duduk soal serta semangat yang diusung dari sebuah dalil. Plus, para ulama itu juga menimba ilmu secara langsung dari guru-guru yang otoritatif, dan bukan dari, ekhm, animasi.

Lagi pula, saya berani bertaruh bahwa tidaklah mungkin Nabi Saw akan menetapkan suatu ketentuan, kecuali memiliki alasan. Dan, kita pun boleh berdebat tentang alasan apa yang mendasari Nabi melarang bersentuhan dengan lawan jenis selain mahram.

Namun, kalau Anda tanya saya soal alasan tersebut, maka jawaban yang paling masuk akal adalah apalagi jika bukan syahwat.

Sayang sekali, perkara syahwat ini seringkali jadi double standard. Maksudnya begini, di satu pihak, ada orang yang kelewat menggebu dalam memberi khotbah tentang haramnya bersalaman dengan lawan jenis; namun di saat yang sama, imaji dia tentang masuk surga adalah kelon dengan bidadari yang cantik, semok, muda, dan “berbahaya”.

Duh, pucing pala Nussa…