Nusaibah binti Ka’ab Al-Ansariyah, Muslimah Prajurit Perang

Nusaibah binti Ka’ab Al-Ansariyah, Muslimah Prajurit Perang

Nusaibah tidak hanya memberikan minum prajurit yang kehausan dan mengobati prajurit yang terluka, ia juga ikut berperang melawan musuh dan melindungi Nabi Saw.

Jauh sebelum semangat persatuan pemuda Indonesia tercermin dalam hari sumpah pemuda. Pemuda-pemudi Islam telah lebih jauh mengobarkan semangat juang membela agama Allah Swt.

Meskipun perempuan tidak diwajibkan berperang, siapa sangka di antara mereka ada yang ikut mengangkat pedang demi membela panji Islam. Dialah Nusaibah binti Ka’ab Al-Ansariyah. Salah satu pejuang muslimah pertama yang mempertaruhkan hidupnya demi melindungi Rasulullah Saw.

Nusaibah atau yang dikenal dengan Ummu Umarah merupakan salah satu perempuan yang mengikuti baiah aqobah. Terdapat 72 kaum Anshor yang mengikuti baiah aqobah ketika itu, 70 diantaranya laki-laki dan dua perempuan.

Read More

Putri dari Rabab binti Abdillah ini telah mengikuti berbagai peperangan bersama suaminya, Ghaziyah bin Amr serta kedua anak dari suami pertamanya, Abdullah bin Ka’ab dan Habib bin Ka’ab. Diantaranya perang uhud, hunain, khaibar, dan yamamah.

Nusaibah tidak hanya memberikan minum prajurit yang kehausan dan mengobati prajurit yang terluka, ia juga ikut berperang melawan musuh dan melindungi Nabi Saw.

Saat perang Uhud berkecamuk dan umat muslim mengalami kekalahan, Ummu Umarah lari menghampiri Nabi Saw, ia melindungi Nabi dengan pedang dan panahnya. Ketika itu Ibnu Qumai’ah datang hendak membunuh Rasulullah Saw, namun Ummu Umarah dengan sigap menghadang.

Ibnu Qumai’ah pun memukul bagian belakang leher Ummu Umarah dengan keras hingga ia terluka parah. Namun Ummu Umarah dengan kekuatannya yang tersisa masih mampu membalasnya dengan beberapa kali pukulan.

Darah pun bercucuran dari tubuh perempuan Bani Mazin an-Najar ini, ia berusaha menahannya dengan ikatan kain dari bajunya, namun darah tak juga berhenti mengalir. Itu merupakan luka yang paling parah hingga pengobatannya membutuhkan waktu satu tahun.

Ketika itu Rasulullah Saw melihatnya berperang dengan sengit hingga di terdapat 13 luka di tubuhnya. Rasulullah Saw berkata “Ia tidak berpaling ke kanan atau ke kiri kecuali aku melihatnya terus berperang demi aku”

Atas perannya yang begitu besar dalam perang Uhud, Rasulullah Saw bersabda “Kedudukan Nusaibah binti Ka’ab lebih baik daripada si fulan dan si fulan”. Rasulullah Saw lalu berkata kepada putra Nusaibah, Abdullah “Allah memberkahi kalian wahai ahlul bait. Kedudukan ibumu lebih baik dari fulan dan fulan. Dan kedudukan suami ibumu Ghaziyyah bin Amr lebih baik dari fulan dan fulan, semoga Allah merahmati kalian wahai ahlul bait”. Bahkan Rasulullah Saw juga berdoa “Ya Allah, jadikanlah mereka orang-orag yang akan menemaniku di surga”

Setelah peperangan berakhir, umat muslim bermalam untuk mengobati luka-luka. Keesokan paginya barulah mereka pulang. Namun Rasulullah Saw enggan pulang ke rumahnya sebelum mengetahui kabar Ummu Umarah. Beliau kemudian mengutus Abdullah bin Ka’ab al-Mazani untuk menanyakan keadaan Ummu Umarah. Abdullah pun kembali dengan membawa kabar bahwa Ummu Umarah selamat.

Setelah Rasulullah Saw wafat, banyak umat Islam yang enggan membayar zakat, bahkan ada pula oknum yang mengaku sebagai nabi, yaitu Musailamah al-Kadzab. Abu Bakar Ash-Shidiq yang saat itu menjabat sebagai khalifah akhirnya memutuskan untuk memerangi mereka.

Ummu Umarah dan putranya, Hubaib bin Zaid pun ikut serta dalam perang. Namun, putranya tertawan dan dipaksa untuk mengakui kenabian Musailamah. Hubaib dengan keimanannya yang kokoh tak sedikit pun mengubah keyakinannya. Akhirnya Musailamah memotong-motong tubuh Hubaib hingga ia syahid.

Ummu Umarah bertekad membunuh Musailamah dengan tangannya sendiri. Maka ia pun bergabung dengan pasukan pada perang yamamah. Ia juga ditemani oleh anaknya, Abdullah. Saat perang berkecamuk musuh berhasil memotong tangan Ummu Umarah.

Ummu Umarah berkata “Tanganku terpotong dan aku ingin membunuh Musailamah, aku tidak akan berhenti sampai orang kotor itu terbunuh”. Akhirnya Abdullah dan Wahsyi berhasil membunuh Musailamah Al-Kadzab.

Ketika Abdullah datang mengusap pedangnya yang bersimbah darah, Ummu Umarah berkata “Apakah engkau berhasil membunuhnya”. “Ya”, jawab Abdullah, dengan seketika Ummu Umarah bersujud syukur.

Ummu Umarah juga dianggap sebagai pejuang hak asasi wanita pertama.  Suatu hari Ummu Umarah bertanya kepada Rasulullah Saw “Ya Rasulallah, mengapa Allah Swt hanya menyebutkan laki-laki dalam Al-Qur’an?” Kemudian turunlah Surat Al-Ahzab ayat 35 yang menjelaskan persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam amal saleh dan balasan masing-masingnya.

Nusaibah binti Ka’ab menutup usia pada tahun 13 hijriyah. Adz-Dzahabi berkata “Ummu Umarah adalah salah satu perempuan Anshar terbaik.” Keberanian dan perjuangan Ummu Umarah patut menjadi contoh bagi para pemuda masa kini.