Nabilah Lubis, Putri Mesir yang Mengabdi Untuk Indonesia

Foto: Ngopibareng.id

Nabilah Lubis, Putri Mesir yang Mengabdi Untuk Indonesia

Nabilah Lubis merupakan ulama perempuan Indonesia keturunan Mesir. Ia merupakan ibu dari rektor UIN Syarif Hidayatullah sekarang, Amani Lubis. Ayahnya bernama Abdel Fattah dan ibunya bernama Daulat. Meskipun terlahir dari kedua orangtua berkebangsaan Mesir, namun takdir membawa Nabilah menuju Negeri Khatulistiwa melalui perantara Burhanuddin Umar Lubis.

Sejak kecil, Nabilah memang tinggal di sekitar kawasan Universitas al-Azhar, tempat mahasiswa dari berbagai bangsa belajar. Meskipun demikian, Burhanuddin bukanlah mahasiswa al-Azhar. Pemuda asal Tapanuli Selatan ini mengenyam pendidikan di Universitas Baghdad.

Suatu ketika, Burhanuddin datang ke Kairo untuk menjajaki kemungkinan pindah kuliah ke Universitas al-Azhar. Ketika itu, ia diamanahkan mengirim sebuah titipan untuk keluarga Nabilah. Maka berkunjunglah Burhanuddin ke rumah Nabilah, namun Nabilah tidak berada di rumah sehingga Burhanuddin dan Nabilah belum berjumpa.

Read More

Di kesempatan kedua, Burhanuddin kembali berkunjung ke rumah Nabilah dengan tujuan silaturahim. Nabilah yang sedang berada di rumah ketika itu ikut mempersiapkan jamuan untuk Burhanuddin. Saat itulah rupanya Burhanuddin jatuh cinta kepada Nabilah sejak pandangan pertama.

Karena menemui hambatan untuk pindah ke al-Azhar, Burhanuddin akhirnya menyelesaikan kuliah di Baghdad dan meninggalkan Mesir. Namun ternyata Burhanuddin tidak bisa memendam perasaannya kepada Nabilah. Ia akhirnya nekat mengirimkan surat cinta kepada Nabilah. Dalam suratnya, bahkan ia mengatakan akan melamar Nabilah di waktu liburan musim panas.

Bukannya tergetar hatinya, perempuan kelahiran Kairo, 14 Maret 1942 ini justru marah-marah dan menganggap Burhanuddin begitu lancang mengirimkan surat kepadanya. Apalagi tiba-tiba memutuskan sepihak untuk datang melamar.

Nabilah dihantui rasa bingung dan galau. Sedangkan orangtuanya menyerahkan semua keputusan kepada Nabilah. Meskipun ditimpa keraguan yang begitu hebat, entah mengapa akhirnya pertunangan dan pernikahan Nabilah dan Burhanuddin dapat terjadi. Begitulah takdir mampu mempersatukan dua insan dari dua benua berbeda.

Setelah menikah, Nabilah dan Burhanuddin tinggal di Kairo selama satu setengah tahun. Setelah itu, keduanya mendapat panggilan dari pemerintah Indonesia untuk mengabdi di Negeri Khatulistiwa. Nabilah akhirnya menanggalkan kewarganegaan Mesir dan ikut suaminya ke Indonesia. Mulai saat itu, Nabilah menggunakan nama belakang Lubis, nama yang diberikan negara yang juga merupakan marga suaminya.

Sesampainya di Indonesia, Nabilah dan Burhanuddin langsung diangkat sebagai PNS. Tidak hanya itu, Nabilah bahkan diberikan tanggung jawab untuk merintis perpustakaan sekaligus diangkat menjadi ketua perpustakaan IAIN Al-Jamiah Jakarta (Sekarang Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta) pada 19 Juli 1964. Hal ini karena Nabilah sendiri merupakan lulusan Jurusan Perpustakaan di Universitas Kairo.

Saat diantar menuju perpustakaan IAIN Jakarta, betapa kagetnya Nabila, sebab yang ia lihat hanyalah sebuah ruangan kosong yang gelap dengan sejumlah buku yang terbilang sedikit. Namun ia tetap menerima tantangan untuk merintis pembangunan perpustakaan IAIN Jakarta itu.

Di tahun berikutnya, 1965, Nabilah mulai mengajar di IAIN Jakarta, tepatnya di Fakultas Adab. Ia mengampu mata kuliah muhadatsah, insya, mahfudzhat, sastra Arab dan Sejarah Islam. Di tahun berikutnya, Nabilah diminta mengajar di Fakultas Tarbiyah dengan materi kuliah bahasa Perancis dan bahasa Inggris. Kemudian mengajar bahasa Arab sejak 1973.

Di masa itu, mayoritas mahasiswa Nabilah justru berusia lebih tua dari Nabilah, salah satu mahasiswanya adalah Nurcholish Madjid.

Tidak hanya mengajar, Nabilah juga merupakan perempuan yang haus ilmu. Ia berhasil meraih master (1989) dan menjadi doktor wanita pertama di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1992) dalam bidang Ilmu Filologi dengan disertasi Zubdaat al-Asrar karya Syeikh Yusuf al-Taj al-Makassari.

Dengan keilmuan dan intelektual yang tak diragukan lagi, Nabilah berhasil menduduki berbagai kursi bergengsi di perguruan tinggi, diantaranya Guru Besar Sastra Arab dan Filologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (1994-1988), Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra di fakultas yang sama (1994), Pembantu Rektor IIQ (1972-1977) dan berbagai jabatan super lainnya.

Nabilah juga aktif di berbagai organisasi, diantaranya Ketua Umum Persatuan Cendekiawan Muslimat Sedunia, Dewan Penasihat Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Indonesia, Pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA), dan anggota Dewan Pakar Agama dan Budaya, ICMI Pusat.

Tidak hanya itu, Nabilah berhasil menghapuskan pemikiran “Perempuan tidak boleh berdakwah di muka umum”. Buktinya, ia menjadi perempuan pertama yang berceramah di masjid Istiqlal pada 17 Ramadhan tahun 2000 lalu. Ia berceramah di hadapan ratusan jamaah dan para petinggi negara, ditayangkan di layar televisi Indonesia. Padahal ketika itu, masih risih rasanya bila seorang perempuan memberikan ceramah di depan laki-laki secara massal di masjid.

Pengabdian Nabilah kepada Indonesia dibuktikan melalui upayanya mengkaji naskah-naskah dan manuskrip kuno dari ulama Nusantara. Ia tak mau naskah-naskah nusantara itu habis ditelan waktu.

Nabilah juga menjadi perintis serta pemimpin redaksi majalah “Alo Indonesia”. Saat usianya sudah mencapai 60 tahun, Nabilah bahkan tak lelah wara-wiri melakukan wawancara kepada narasumber, mencatatnya di lembaran buku, kemudian menulisnya dan mengolahnya. Majalah tersebut berbahasa Arab, putri Mesir ini sungguh ingin mengenalkan Indonesia kepada dunia, bukti kecintaannya pada Indonesia.

Melalui Alo Indonesia, Nabilah menerima undangan untuk menghadiri festival pertama “Media Islam Khusus Perempuan” di Teheran, Iran. Meskipun harus melawan osteoporosis, Nabilah tetap memenuhi undangan tersebut untuk mengenalkan Alo Indonesia kepada dunia.

Pindah ke Indonesia tentu saja bukan hal mudah. Awalnya Nabilah menghadapi berbagai kesulitan beradaptasi di Indonesia, dari mulai bahasa, makanan, adat, budaya, hingga iklim dan cuaca. Apalagi saat memasuki masa konflik G30S/PKI 1965, keadaan di Indonesia sangat kacau dan sulit. Beras yang dimakan saat itu bercampur beling. Burhanuddin bahkan harus naik sepeda dari Ciputat ke Kebayoran Lama untuk membeli roti. Namun betapa sedihnya, sesampainya di Ciputat roti itu justru hancur. Namun Nabilah berhasil melalui masa-masa sulit itu dan justru jatuh hati dengan Indonesia.

Begitulah kisah singkat perjuangan Nabilah Lubis, sang putri Mesir yang begitu mencintai Indonesia.