Nabi Muhammad SAW dan Murah Senyum

Nabi Muhammad SAW dan Murah Senyum

Baginda Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّكُمْ لَا تَسَعُوْنَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ فَلْيَسَعْهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْنِ الْخُلُقِ. رواه الترمذي

“Sesungguhnya kalian tidak akan bisa menarik hati manusia dengan harta kalian, maka tariklah hati mereka dengan wajah berseri dan akhlak mulia” (HR. Tirmidzi)

Read More

Menilik hadis di atas, tersenyum dan berwajah ramah bukan hanya sekadar perintah nabi semata. Namun terdapat faidah yang bergitu besar di balik perintah baginda Nabi Saw. agar kita murah senyum kepada orang lain.

Bukanlah bahagia yang menjadikan kita tersenyum, tapi tersenyumlah agar kita bahagia. Para psikiater telah bersepakat bahwa banyak pasien masuk rumah sakit jiwa karena mereka sulit untuk tersenyum atau tertawa. Hal ini menunjukan bahwa senyum merupakan sejenis “obat” yang dapat menghilangkan kegelisahan dan kesedihan hati. Senyuman memiliki kekuatan yang dahsyat, membuat jiwa senang dan pikiran nyaman. Tersenyum atau tertawa dapat membahagiakan jiwa.

Di balik senyuman terdapat kedahsyatan. Orang akan merasa sejuk hatinya jika kita tersenyum padanya. Tentu saja senyuman yang positif yang tak bermaksud merendahkannya. Setiap kita mendapat permasalahan hidup, maka akan menjadi beban di dalam jiwa, sehingga jiwa menjadi berat dan hati menjadi susah dan kusut. Semua itu ibarat racun di dalam tubuh. Cara mengobatinya ialah dengan tertawa atau tersenyum. Dengan cara tertawa beban akan berkurang dan kita menjadi bahagia.

Rasulullah Saw Suka Tersenyum

Agar kita dapat meneladani Nabi Muhammad Saw. dengan baik, Allah Swt. menjadikan segala keadaan beliau tidak berbeda dengan keadaan manusia biasa. Beliau selalu tersenyum dan bersikap lemah lembut dan beliau adalah orang yang paling sering tersenyum.

Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa  Nabi Saw. Adalah seorang sosok manusia yang paling sering menyungging senyum dan tertawa kecil di hadapan para sahabatnya. Mengagumi apa yang dikatakan mereka, dan selalu berbaur bersama mereka. Bahkan terkadang beliau tertawa sampai terlihat gigi gerahamnya.

Manfaat Senyum Bagi Jiwa Dan Kesehatan

Senyum lebih berharga dibanding sebuah pemberian yang dihadiahkan seorang pria, dan lebih menarik dari lipstik dan bedak yang menempel di wajah seorang wanita. Senyum dapat memengaruhi orang-orang ke arah yang lebih baik. Dengan senyum, sesuatu yang sulit akan terasa lebih ringan.

Dilihat dari kacamata psikologi, senyum juga memiliki dampak positif bagi para pelakunya. Disebutkan, dengan senyum orang dapat mengurangi tingkat stres, meningkatkan kekebalan secara psikologis, memicu perasaan optimis, dan dapat meningkatkan hubungan baik dengan orang lain.

Dari segi kesehatan, senyum juga memiliki peran yang penting untuk ikut menjaga kebugaran tubuh. Banyak penelitian yang menyatakan beberapa hal seperti di bawah ini.

  1. Senyum mengeluarkan endorphin dan serotonin.

Beberapa studi telah menunjukan bahwa senyum dapat merangsang pengeluaran endorphin dan serotonin. Endorphin adalah pereda rasa sakit secara alami, sedangkan serotonin adalah hormon yang mengendalikan mood (suasana hati) seseorang.

  1. Senyum menurunkan tekanan darah.

Ketika anda tersenyum, maka tekanan darah akan menurun dengan sendirinya. Bukankah anda sering menjumpai orang yang gampang marah-marah memiliki tekanan darah tinggi? karena marah berlawanan kutub dengan senyum.

  1. Senyum membuat awet muda

Senyum dapat melenturkan kulit wajah dan membuat anda terlihat lebih muda. Otot-otot yang digunakan untuk tersenyum ikut membuat anda terlihat lebih muda. Jika anda ingin sesuatu yang beda, maka berikan senyum anda sepanjang hari, maka anda akan terlihat lebih muda dan merasa baik.

Dengan demikian, memberi dan menebar senyum kepada orang lain bukan saja memiliki pijakan referensial kegamaan di mana Nabi Muhammad SAW sebagai teladan umat Islam adalah seorang manusia yang murah senyum, melainkan memiliki efek-efek positif bagi kesehatan dan jiwa sang pemberi senyuman. Lalu, sudahkah anda tersenyum kepada orang lain hari ini? Jika belum, tersenyumlah!

*) Penulis adalah Pegiat di Komunitas Literasi Pesantren (KLP), tinggal di Sidoarjo