Muslimah Berjilbab Ini Bersihkan Gereja Santa Lidwina Usai Diserang

Ia adalah contoh kecil toleransi yang ada di Indonesia. Seorang muslimah berjilbab ini membantu membersihkan gereja usai penyerangan

Muslimah Berjilbab Ini Bersihkan Gereja Santa Lidwina Usai Diserang

Muslimah berjilbab ini menjadi bukti sederhana, toleransi masih ada di Yogyakarta

Seorang muslimah berjilbab tampak membersihkan lantai geraja Santa Lidwina di Bedog, Sleman, Yogyakarta, selepas penyerangan terhadap Gereja ini kemarin Minggu (11/12) oleh pria dengan memakai pedang. Tercatat ada 10 jemaah yang menjadi korban, salah satunya Pastor Prier Sj.

Meskipun berbeda agama, muslimah bernama Jirhas Ranie Artika (30 th) tidak segan-segan untuk turut membantu membersihkan gereja. Ia bersama-sama jemaah gereja membersihkan area gereja, mengepel, menyapu dan merapikan gereja dari puing-puing kaca yang berserakan usai kejadian nahas itu.

“Kita ini sesama manusia dan anak Indonesia, sudah selayaknya untuk saling membantu,” tuturnya, sebagaimana dikutip dari kompas (12/2).

Read More

Apa yang dilakukan oleh muslimah ini menimbulkan banyak komentar positif di media sosial. Bahkan, tak jarang membuat decak kagum. Salah satunya adalah putri Gus Mus, Ienas Tsuroiya, melaui akun twitternya.

“Salut buat mbak Jirhas Ranie, muslimah sejati yang tak ragu membantu membersihkan gereja yang kmrn diserang.
Iman yang kuat, tak akan takut terpengaruh atau luntur hanya karena berdekatan dengan simbol-simbol agama lain,” cuitnya di @tsuroiya

Kisah Jirhas Ranie Artika, muslimah berjilbab yang turut membantu gereja dengan cara sederhna memberikan kita angin segar bahwa intoleransi dilawan, asal warga tidak takut dan siap berdampingan dengan orang maupun agama lain.

“Kita ini sesama manusia, anak Indonesia yang beragama. Sebagai sesama umat beragama harus saling membantu dan menunjukkan simpati,” tambahnya

Jirhas Ranie Artika sendiri aktif di Srikandi Lintas Iman, sebuah organsasi lintas iman berbasis di Yogyakarta. Dalam laman akun facebook organisasi ini juga tampak beberapa aktivitas yang dilakukan, salah satunya adalah aktivitas dialog antar umat beragama untuk menyemai perdamaian.

Penyerangan terhadap gereja Ludwina ini memang begitu menyentak dan mengusik nurani kita. Hal ini menambah deretan aksi intoleransi yang terjadi di Yogya. Banyak pengamat menilai, kasus ini tidak terjadi sendirian melainkan banyak kasus-kasus lain dengan modus operandi yang hampir mirip.

Dalam sebuah video pendek yang tersebar di media sosial di penyerangan gereja Ludwina ini misalnya, tampak pelaku menggunakan samurai dan mengacung-acungkan ke jemaah. Ia memakai baju hitam dan sarung yang menutupi kepalanya.

Informasi terkini, pelaku sudah ditangkap polisi. Belum diketahui motif pelaku melakukan penyerangan ini.