Muhammad Abied Al-Jabiri, dari Politisi Menuju Intelektual dan Akademisi

Foto: Taeeb.com

Muhammad Abied Al-Jabiri, dari Politisi Menuju Intelektual dan Akademisi

Salah satu pemikir Islam kontemporer yang memiliki gagasan-gagasan besar pembaharuan Islam adalah Muhammad Abied Al-Jabiri. Beliau merupakan salah satu pemikir Islam kontemporer yang berasal dari Maroko. Tepatnya beliau lahir di Figuig, sebelah selatan Maroko pada 27 Desember 1935 M.

Perjalanan intelektualnya lebih banyak dihabiskan untuk belajar di tanah kelahirannya sendiri yaitu Maroko. Konsentrasi kajiannya lebih terfokus kepada filsafat.

Sejak awal, Al-Jabiri  belajar filsafat di Universitas Damaskus pada tahun 1958 M. Setelah itu, Al-Jabiri menghabiskan perjalanan intelektualnya di Maroko dengan masuk di pendidikan diploma Sekolah Tinggi  Filsafat Fakultas Sastra Universitas Muhammad V di Rabat, juga berhasil meraih gelar master dan doctor di universitas tersebut.

Read More

Sosok Al-Jabiri dulunya merupakan aktivis politik. Aktivitas Al-Jabiri di dunia politik salah satunya ikut bergabung dengan partai politik yang berideologi sosialis yaitu Union Nationale des Forces Popularies(UNFP), yang kemudian berubah menjadi Union Sosialiste des Forces Popularies(USFP). Bahkan pada tahun 1975 M, beliau sempat menjadi biro politik USFP.

Namun, dunia politik tidak membuat Al-Jabiri tenggelam dalam hiruk-pikuk perpolitikan, justru dia malah tetap menekuni dunia intelektual dan akademik. Atas hal itu, ia dikenal sebagai seorang akademisi dan pemikir Islam kontemporer melalui gagasan-gagasan besar yang dimunculkannya.

Salah satu gagasan besar Al-Jabiri adalah kritik nalar Arab (Naqd al-Aql al-Araby), yang mengkaji rancang bangun pemikiran Arab dari masa klasik hingga kontemporer. Apa yang dilakukan oleh Al-Jabiri ini adalah upaya untuk memajukan kembali pemikiran Islam agar tidak stagnan dan hanya berkutat pada teks-teks saja. Al-Jabiri menawarkan pembacaan kontemporer yang objektif dan rasional.

Menurut Al-Jabiri, pembacaan tradisional sangat tidak memadai karena cenderung tidak produktif, ahistoris dan hanya mengambil pendapat ulama klasik tanpa adanya kritik, sehingga tidak kontekstual dan tidak relevan. Sehingga Al-Jabiri membawa sebuah proyek progresif, agar sadar akan kontekstualisasi dan modernitas.

Al-Jabiri menawarkan sebuah rekonstruksi epistemologi untuk membantu mengembangkan ilmu keagamaan yang dianggap berbeda dengan keilmuan yang berada di dunia Barat. Secara umum, kritik Al-Jabiri ini ditujukan kepada nalar Arab-Islam yang pada akhirnya menyatu dalam turats atau kebudayaan.

Seharusnya kebudayaan menjadi tolok ukur kritik nalar agar proyek kebangkitan Arab tidak mengalami keterputusan sejarah, karena persoalan keterpurukan bangsa Arab sejatinya berkutat pada cara mereka memahami dan memperlakukan kebudayaan, yang cenderung bergerak sirkular tidak bergerak kearah pembaharuan.

Rekonstruksi epistimologi yang dibangun oleh Al-Jabiri didasari rasa tidak puas dengan usaha pembaharuan yang dilakukan oleh gerakan salaf, yang menurutnya terlalu mengagungkan pencapaian masa silam, sehingga cenderung mengabaikan relitas sosial masyarakat.

Selain itu, Al-Jabiri juga mengkritik model pembaharuan yang dibawa oleh kelompok liberal yang secara membabi buta ingin mengadopsi peradaban barat untuk membangun peradaban umat Islam dan mengadopsi metodologi barat dalam menilai turats.

Terlepas dari beberapa gagasannya yang kontroversial, membaca pemikiran-pemikiran Al-Jabiri adalah bagian dari menjaga akal sehat. Juga sebagai upaya untuk memahami pentingnya kontekstualisasi turats Islam yang dianggap stganan dan tidak kontekstual, serta menyadarkan akan pentingnya membaca kembali sebuah sejarah.