Mudik

Mudik

Mudik

Saya sangat akrab dengan kata “mudik” ini karena sedari kecil sudah menempel di telinga. Tapi kata ini punya lawan katanya yaitu “labuh”. Ini di dalam khazanah bahasa banjar, atau mungkin dari tradisi melayu.

Orang Banjar sangat tidak akrab dengan orientasi arah mata angin seperti timur, barat, selatan, utara. Kalo diajukan arah mata angin biasanya jadi bingung. Acuan mereka adalah arus sungai: hulu dan hilir. Sungai mengalir dari bukit dan pedalaman atau Hulu, ke hilir, ke muara, ke kota-kota.

Berdasar arus sungai itu, “labuh” dipakai untuk mengacu pergi ke hilir. Karena kami tinggal di pedalaman, kalau kami pergi ke Banjarmasin, kami menyebut “balabuh”, artinya pergi ke hilir. Tapi kalau dari Banjarmasin pulang ke tempat kami, ke pedalaman disebut “mudik”. Penggunaannya ya seperti itu, mungkin sampai sekarang, tidak peduli mau lebaran atau tidak.

Dalam bahasa Indonesia, istilah “hilir-mudik” untuk menunjukkan orang yang sibuk jalan bolak-balik dari hilir ke Hulu, dan sebaliknya. Kenapa tidak pakai “hilir-hulu” ya?

Selain itu kata “mudik” juga dipakai untuk menyebut perpindahan ikan besar-besaran dari hilir ke Hulu. Ini terjadi menjelang musim ke kemarau. Ketika itu air sungai di hilir menjadi dangkal, maka ikan-ikan akan berenang ke Hulu yang airnya masih dalam. Nah musim “iwak mudik” ini menandai datangnya kemarau panjang. Saat itulah orang ramai, mudah dan enak mencari ikan. Cukup dengan “tangguk” atau bahkan dengan tangan saja sudah dapat ikan. Inilah kenangan masa kecil yang indah dan tak terlupakan.

Dari situ mungkin kata “mudik” juga berasal atau berkaitan dengan kata “udik”. Kata ini dulu disematkan untuk menyebut orang-orang yg penampilannya kampungan, ndeso, nggak kekinian,… “dasar udik”!

Sekarang “mudik” digunakan untuk menyebut pulang kampung secara umum. Mudik, tidak peduli dari hilir ke Hulu atau sebaliknya, dari barat ke Timur, dari jawa ke Kalimantan atau sebaliknya, itu sebenarnya biasa, ringan dan mudah saja.

Yang berat itu pulangnya membawa rindu, dan baliknya kembali membawa rindu yang lebih berat lagi. Mudik itu memang paradoksnya, karena ia hendak mengobati rindu yang sedikit dengan rindu yang banyak.

Selamat mudik kawan, saudara dan handak taulan!