Metode Ini Digunakan Nabi untuk Mengatasi Pendangkalan Informasi

Kearifan Dakwah Nabi

Metode Ini Digunakan Nabi untuk Mengatasi Pendangkalan Informasi

Bagaimana metode Nabi ini begitu dahsyat di era keterbakaan informasi sekarang ink

 

Bercerita soal kehidupan Nabi Muhammad Saw. di bulan Rabiul Awal ini adalah tradisi yang tidak terpisahkan dari kebanyakan masyarakat Muslim. Para penulis biografi hingga hagiografi Nabi Muhammad, dari berbagai sudut pandang sampai berbagai kalangan yang menulis, selalu menceritakan sebuah babak penting dalam kehidupan Nabi, yaitu penerimaan wahyu. Salah satu bagian wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad yakni sebuah kata perintah yang mendasari bahwa kehidupan masyarakat Muslim seharusnya membangun peradabannya melalui “Membaca”.

Terkait tradisi membaca ini, membuat saya teringat sebuah kejadian. Beberapa tahun yang lalu, saya menemani teman saya untuk menemui salah satu tuan guru (kyai) di Banjarmasin. Kami pun berangkat ke tempat kyai tersebut sebelum jam 10 pagi, karena sebelumnya teman saya itu memberi tahu bahwa tuan guru tersebut jika jam sudah menunjukkan jam 11 siang, maka beliau tidak akan menerima tamu lagi. Karena, tuan guru tersebut selalu menjadwalkan untuk muthala’ah kitab-kitab setiap hari untuk disampaikan kepada para jamaah di pengajian rutin beliau sehabis shalat Maghrib.

Read More

Tradisi muthala’ah lebih sering dikenal sebagai tradisi pesantren yang agak jarang terdengar ketimbang Bahtsul Masail, yang lebih dahulu populer di kalangan organisasi masyarakat yakni Nahdlatul Ulama (NU). Tradisi ini sebenarnya lebih dari sekedar mendaras atau membaca kitab, namun juga dibarengi dengan tafakkur dan tabayyun dengan membaca beberapa kitab untuk akhirnya mencoba memberikan poin-poin pelajaran dari persoalan yang sedang ditelaah. Mengetahui tradisi ini seharusnya kita bisa mengambil pelajaran bahwa belajar sesuatu dalam ajaran agama, bukanlah sesuatu yang bisa disimpifikasi atau dimudah-mudahkan.

Agama dengan segala dinamikanya seharusnya disampaikan oleh mereka yang sudah mempelajari berbagai perbedaan, dan menyampaikan perbedaan tersebut dengan baik dan lembut, bukan dengan sindiran, sarkasme, caci maki, dan sumpah serapah.

Tradisi muthala’ah ini sekarang ini sebenarnya tidak hanya terbatas pada kalangan pesantren atau pengkaji kitab kuning saja. Mempelajari sebuah persoalan dengan mendalam, sudah seharusnya menjadi kebiasaan kita semua terutama dalam persoalan agama seperti sekarang ini. Perbedaan pandangan, pilihan, hingga mazhab seharusnya tidak membuat kita menjadi beragama yang tertutup. Karena berilmu agama bukan soal membanggakan apa yang kita miliki atau berapa banyak yang kita sampaikan. Akan tetapi, apakah dengan ilmu tersebut kita akan memberikan kedamaian pada orang lain, atau malah menjebak kita pada eksklusifitas pada golongan kita atau model keberagamaan yang kita miliki.

Islam yang sangat luas ini akan sangat indah jika kita jelajahi dengan pikiran terbuka dan hati yang luas. Islam yang ada dalam dunia digital sebenarnya sudah tidak lagi dibatasi oleh berbagai hal, seperti jarak, batas negara dan kesulitan akses, yang dihadapi sebelum kehadiran dunia digital. Islam sekarang dengan sangat mudah dipelajari dan sangat terbuka. Namun, ada dua bahaya yang tersembunyi dalam kemudahan ini, yaitu kecepatan dan kuantitas informasi yang didapat.

Kehadiran dunia digital, terutama internet, akan membawa sebuah tradisi baru yaitu kecepatan data dan informasi yang bisa diterima oleh manusia. Kecepatan untuk mendapatkan sebuah informasi yang sangat cepat ini belum pernah didapatkan oleh manusia sebelumnya. Oleh sebab itu, wajar jika umat manusia harus beradaptasi dengan kecepatan masuknya informasi seperti ini.

Selain kecepatan, umat manusia juga di saat yang sama harus beradaptasi dengan kuantitas informasi yang sangat melimpah. Berbagai informasi datang dari berbagai sudut dengan sangat cepat, bersileweran dalam kehidupan manusia. Kemampuan manusia terus diuji untuk menyerap informasi yang banyak dan sangat cepat tersebut.

Di sinilah seharusnya tradisi muthala’ah kembali kita galakkan, khususnya muthala’ah digital. Informasi yang masuk dalam kehidupan kita seharusnya bisa kita telaah terlebih dahulu dengan membaca dan mendalaminya dengan bertafakkur. Ini juga berlaku bagi informasi keagamaan, kita sebagai umat muslim memang terus dituntut untuk terus belajar, dengan harapan ilmu agama yang kita serap bisa membawa kita lebih bijak saat menghadapi perbedaan.

Keterbukaan dan penerimaan terhadap mereka yang berbeda sekarang sudah menjadi jargon semua masyarakat muslim. Namun, yang menjadi pertanyaannya adalah apakah keterbukaan dan penerimaan itu tidak disandarkan pada penyeragaman dan diskriminasi laten mayoritas. Jika ini yang terjadi, maka itu tanda bahwa tingkat literasi kita masih sangat rendah, harus segera belajar dan muthala’ah kembali agar sadar bahwa hidup dalam kedamaian itu bukanlah damai karena kita seragam dan sama.

Kedamaian yang abadi adalah saat kita mampu menghadirkan sebuah dunia yang mengakomodir nilai-nilai kebersamaan yang mampu melindungi kita semua sebagai umat manusia.

Dari tradisi muthala’ah, kita sebenarnya belajar bahwa tidak ada yang namanya selesai dalam menuntut ilmu. Dakwah yang sandarkan pada keilmuan yang luas, akan membuat dakwah kita tidak lagi memandang kami dan mereka, tapi kita sebagai umat manusia. Ajaran “sampaikan kepadaku walau satu ayat”, sebaiknya dipahami dengan bijak. Yaitu, apakah pemahaman kita pada satu ayat itu tersebut sudah disandarkan pada keluasan ilmu yang didapat dari “MEMBACA”.

Fatahallahu alaihi futuh al-arifin