Menyambut Malam Lailatul Qadar

Menyambut Malam Lailatul Qadar

Selayaknya suatu perhelatan acara, acara puncak hanya akan ada di akhir acara. Begitu pula dengan Bulan Ramadhan. Bulan yang suci ini memiliki puncak pada 10 akhir Ramadhan, terlebih dengan adanya malam Lailatul Qadar.

Menyambut Malam Lailatul Qadar

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang memiliki keutamaan paling besar bagi umat Islam diantara kesebelas bulan lainnya. Pada bulan ini, umat Islam diwajibkan berpuasa sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang beriman, telah diwajibkan puasa atas kamu sebagaimana telah diwahibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S Al-Baqarah: 183)

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana diturunkannya Al-Qur’an, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu. Dengan besarnya keistimewaan Bulan Ramadhan, umat Islam mana yang tidak bahagia. Bulan penuh rahmat serta ampunanNya. Hal ini sebagaimana tercantum pada Hadits Bukhari:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila Ramadhan tiba, pintu surge dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.”[i]

Para ulama memuliakan Bulan Ramadhan dengan membagi menjadi 3 dimensi waktu selama 10 hari Ramadhan, yakni:

  1. 10 hari awal Ramadhan
  2. 10 hari tengah Ramadhan
  3. 10 hari akhir Ramadhan

Selayaknya suatu perhelatan acara, acara puncak hanya akan ada di akhir acara. Begitu pula dengan Bulan Ramadhan. Bulan yang suci ini memiliki puncak pada 10 akhir Ramadhan, terlebih dengan adanya malam Lailatul Qadar, malam dimana Al-Quran dan ilmu diturunkan. Malam yang lebih baik daripada 1000 bulan.  Nabi Muhammad Sawlallahu ‘alaihi wasallam sangat mengistimewakan hari ini. Pada hari ini, Nabi semakin semangat dalam beribadah, Qiyamullail (shalat malam), membaca Al-Quran, berzikir, bermunajat, dan memanjatkan doa kepada Allah Subhanallahuta’ala. Selain itu, Nabi sangat memfokuskan ibadahnya pada 10 hari terakhir ini.

Keutamaan Malam Lailatul Qadar[i]

Allah menyinggung perihal malam Lailatul Qadar tidak hanya dalam satu ayat, tapi sampai satu surat, yakni Al-Qadar.

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu ? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah melaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala usrusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar.” [Al-Qadar : 1-5]

Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui” [Ad-Dukhan : 3-6]

Mengapa kita sangat buth mengejar malam Lailatul Qadar?

Malam Lailatul lebih baik daripada 1000 bulan, atau sama dengan 83 tahun 4 bulan. Rata-rata usia umat Nabi Muhammad Sawlallahu ‘alaihi wasallam adalah 60 tahun. Jika dipotong dengan waktu tidur seumur hidup, kira-kira 20 tahun terpotong. Sisa 40 tahun. Kemudian dipotong dengan waktu bekerja, belajar dan mencari nafkah seumur hidup, maka kira-kira 20 tahun lagi terpotong. Sisa 20 tahun.  Setelah itu dipotong dengan waktu bermain dan rekreasi, sekitar 7 tahun. Maka secara kasar waktu beribadah kita hanya tinggal 13 tahun. Subhanallah, coba bandingkan dengan malam Lailatul Qadar. Maka usia kita hanya bisa beribadah setidaknya seperlima dari ibadah yang didapatkan apabila kita bisa mendapatkan malam Lailatul Qadar. Bisa disimpulkan, malam Lailatul Qadar bak jalan akselerasi tercepat untuk mendapatkan pahala. Hanya semalam dengan mengejar 10 hari saja dalam setahun.

Jatuhnya Malam Lailatul Qadar

Kita tidak tahu kapan jatuhnya malam Lailatul Qadar. Ada beberapa hadits sahih yang menjelaskan seputar jatuhnya malam Lailatul Qadar dengan keterangan yang berbeda-beda.

  • Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa malam tersebut terjadi pada tanggal malam 21,23,25,27,29 dan akhir malam bulan Ramadhan.[ii]
  • Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan dan beliau bersabda.[iii]

 

تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan”

  • Riwayat dari Ibnu Umar, (dia berkata) : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda[iv],

الْتَمِسُوْ مَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُ كُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

  • Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya”
  • Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke luar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdebat, beliau bersabda : “Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Lailatul Qadar, tapi ada dua orang berdebat hingga tidak bisa lagi diketahui kapannya; mungkin ini lebih baik bagi kalian, carilah di malam 29. 27. 25 (dan dalam riwayat lain : tujuh, sembilan dan lima)”[v]
  • Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan:

عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ إِذَا قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: لَيْلَةُ سَبْع وَعِشْرِيْنَ

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya apabila beliau menjelaskan tentang Lailatul Qadr maka beliau mengatakan : “(Dia adalah) Malam ke-27″[vi]

  • Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Bahwa beliau pada suatu tahun diperlihatkan Lailatul Qadr, dan ternyata ia terjadi pada malam ke-21″.[vii]

Hadits-hadits diatas tidak akan valid apabila menerangkan di 1 tahun bulan Ramadhan. Akan tetapi keseluruh hadits tersebut ada pada bulan Ramadhan di tahun yang berbeda-beda. Dengan demikian hadits tersebut menjadi sangat masuk akal. Hal ini menunjukkan bahwa malam Lailatul Qadr diacak dan dirahasiakan oleh Allah untuk setiap tahunnya. Dengan adanya keterangan seperti ini, yang dapat kita lakukan adalah memaksimalkan diri di 10 hari terakhir Ramadhan.

Mencari Malam Lailatul Qadar

Sungguh besar keutamaan dari malam Lailatul Qadar ini. Ada dua hikmah menanti malam Lailatul Qadar :

  • Agar kita bersemangat beribadah
  • Sebagai ujian bagi orang-orang beriman

Ada beberapa cara untuk mengejar dan mendapatkan malam Lailatul Qadar. Kita dituntut untuk beribadah semaksimal mungkin dengan mencontoh tuntutan dari nabi. Beberapa kiat-kiat seputar mengejar malam Lailatul Qadar adalah:

  1. Mengencangkan ikat pinggang, maksudnya:
  • Bersungguh-sunguh dalam beribadah
  • Tidak berhubungan suami istri, yaitu dengan cara itikaf. Sebagaimana firman Allah:
    • ُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ Ûš هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ Û— عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ Û– فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ Ûš وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ Û– ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ Ûš وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ Û— تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا Û— كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri´tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.(Q.S Al Baqarah: 187)

  1. Menghidupkan malam-malamnya, yaitu:

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma,

كَانَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَ أَحْيَ لَيْلَهُ، وَ اَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencanngkan kainnya [9] menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya”[viii]
Juga dari Aisyah, (dia berkata) :

كَانَ رَسُوْلُ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِيغَيْرِهَا

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir) yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya”[ix]

Dengan besarnya keutamaan 10 hari terakhir Ramadhan, ada beberapa ibadah yang dapat dilakukan berdasarkan contoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

  1. Beribadah kepada Allah, untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar. Shalat Isya dan Subuh berjamaah seperti yang dilakukan ulama-ulama terdahulu, Imam Syafii & Said bin Musayyid. Pahalanya seperti menghidupkan 1 malam suntuk beribadah. Untuk wanita lebih baik dirumah (mengikuti saran Nabi) tapi tidak diharamkan ke mesjid.
  2. Hidupkan dengan shalat tarawih/shalat malam (shalat tahajud). Tidak ada jumlah rakaat yang membatasi hal ini. Banyak ulama yang menghabiskan malam-malam terakhir Ramadhan dengan shalat Lail sepanjang malam.
  3. Memperbanyak membaca Al Quran, terutama di malam-malam 10 terakhir. Minimal 100 ayat dalam 1 malam, berarti mendapat pahala shalat taraweh 3 malam Lailatul Qadar suntuk. Memperbanyak baca yaitu doa malam Lailatul Qadar. Jika kita melakukan shalat Isya dan subuh berjamaah + tarawih berjamaah + membaca Al Quran minimal 100 ayat, pahalanya sama dengan pahala 3 malam Lailatul Qadar semalam suntuk.
  4. Menjaga penampilan kita di 10 malam terakhir Ramadhan. Menjaga kebersihan, harum tubuh, busana serta habis-habisan dengan penampilan di 10 hari terakhir Ramadhan
  5. Membangunkan seluruh anggota keluarga untuk beribadah di 10 hari terakhir Ramadhan

Demikianlah seputar malam Lailatul Qadar dan 10 hari akhir Ramadhan. Semoga kita semua mendapatkan malam Lailatul Qadar serta ampunan dari Allah sehingga kita bukan bagian dari orang-orang yang merugi.

 


[i] Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura,  penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.

[ii] Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-neda, Imam Al-Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr Bidzikri Lailatul Qadar, membawakan perkataan para ulama dalam masalah ini

[iii] Hadits Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169

[iv] Hadits Riwayat Bukhari 4/221 dan Muslim 1165

[v] Hadits Riwayat Bukhari 4/232

[vi] H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Asy-Syaikh Muqbil dalam Shahih Al-Musnad

[vii] Fatawa Ramadhan, hal. 855

[viii] Hadits Riwayat Bukhari 4/233 dan Muslim 1174

[ix] Hadits Riwayat Muslim 1174

 


[i] HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.