
Dalam lanskap politik yang semakin dinamis, media sosial kembali menjadi arena gema suara publik. Kali ini, Twitter (kini X) dihebohkan oleh tagar #KaburAjaDulu yang mendadak merajai daftar trending topic. Seperti fenomena viral lainnya, tagar ini memantik beragam reaksi—mulai dari sekadar kelakar hingga respons emosional dari para politisi. Uniknya, tagar ini bukan sekadar guyonan biasa, tetapi cerminan kekecewaan yang semakin mengakar di kalangan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap serampangan dan tidak berpihak pada rakyat.
Di tengah derasnya arus opini publik, sejumlah tokoh memberikan tanggapan yang, alih-alih meredakan situasi, justru semakin mempertegas ketidaksensitifan mereka terhadap realitas yang terjadi. Salah satu yang paling mencolok adalah komentar Emanuel Ebenezer, atau yang lebih dikenal sebagai Noel, seorang loyalis pemerintah yang kerap tampil dengan retorika khasnya. “Mau kabur, kabur sajalah. Kalau perlu jangan balik lagi, hi-hi-hi,” ungkapnya di Kantor Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Jakarta, Senin (17/2/2025). Pernyataan ini, yang disampaikan dalam nada bercanda, justru memperlihatkan ketidakpekaan terhadap keresahan masyarakat. Seakan-akan, bagi Noel, rakyat yang frustrasi dengan keadaan hanyalah sekumpulan orang yang boleh begitu saja disuruh pergi tanpa introspeksi dari pihak penguasa.
Yang tidak kalah unik adalah tanggapan dari Raffi Ahmad, figur publik yang kini semakin dekat dengan lingkaran kekuasaan. Dalam upayanya untuk mengalihkan narasi, Raffi menyarankan agar #KaburAjaDulu dibalas dengan tagar tandingan. “Dengan hashtag adanya tadinya kabur aja ini kita harus membuat hashtag ini menjadi vibesnya positif, di mana kita nanti akan menyuarakan hashtag yang lebih baik, yaitu Pergi Migran Pulang Juragan. Nah, itu kan vibes-nya lebih positif,” ujarnya. Namun, alih-alih menginspirasi, pernyataan ini justru memperlihatkan betapa Raffi gagal menangkap esensi dari keresahan publik. Netizen pun menilai bahwa respons tersebut tidak lebih dari upaya memoles citra tanpa memahami substansi permasalahan.
Menjelaskan #KaburAjaDulu kepada Noel dan Raffi Ahmad: Bukan Tagar Cari Kerja ke Luar Negeri
Lalu, apa sebenarnya yang memicu lahirnya #KaburAjaDulu? Tagar ini tidak muncul dalam ruang hampa. Ia merupakan manifestasi dari akumulasi kekecewaan publik terhadap berbagai kebijakan yang dinilai semakin tidak masuk akal. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga kini masih dipenuhi tanda tanya, kelangkaan gas yang justru terjadi di saat masyarakat semakin terhimpit beban ekonomi, serta kebijakan efisiensi anggaran yang ternyata hanya menjadi kedok untuk mendanai proyek ambisius seperti Danantara—semua ini memperlihatkan bagaimana kebijakan pemerintah sering kali gagal menangkap kebutuhan nyata rakyat. Ironisnya, yang terkena dampak justru masyarakat kecil, sementara elite politik terus bernafas lega di menara gading kekuasaan.
Poin inilah yang perlu dilihat oleh Raffi Ahmad. Hastag ini dibuat bukan untuk cari kerja ke luar negeri. Justru komentarnya yang mengaitkan tagar ini dengan buruh migran agak kurang tepat dan terbukti dia tidak bisa memahami akar permasalahan.
Kembali lagi soal kekecewaan Masyarakat. Ketidakpuasan ini semakin diperparah dengan komposisi kabinet yang gemuk. Alih-alih mencerminkan efisiensi, kabinet yang ada justru semakin terkesan sebagai ajang bagi-bagi kekuasaan. Jumlah menteri yang berlebihan bukan hanya membebani anggaran negara, tetapi juga menciptakan tumpang tindih kewenangan yang berdampak pada lambannya pengambilan kebijakan. Di tengah kondisi ini, rakyat kecil yang justru harus menanggung akibatnya—dari melonjaknya harga kebutuhan pokok hingga menurunnya kualitas pelayanan publik. Proyek MBG yang direncanakan untuk memperbaiki gizi anak Indonesia malah berdampak pada survival keluarganya. Bagaimana nggak survival? Anaknya mendapatkan makanan sekali dalam sehari, tapi ayahnya di-PHK karena imbas efisiensi. Padahal dua kali makan sang anak masih harus ditanggung orang tuanya.
Menariknya, istilah #KaburAjaDulu bukanlah sekadar ekspresi spontan, melainkan memiliki latar historis yang mengingatkan pada peristiwa di masa lalu. Tagar ini secara tidak langsung merujuk pada sosok Prabowo Subianto yang pernah ‘menghilang’ ke Yordania setelah reformasi 1998 menyisakan berbagai tuduhan pelanggaran HAM terhadapnya. Kini, rakyat memanfaatkan narasi yang sama, seolah ingin berkata bahwa jika pemimpin bisa ‘kabur’ saat situasi genting, mengapa rakyat tidak boleh bercanda tentang pilihan serupa?
#Kaburajadulu Bukan Bentuk Anti-Nasionalisme
Namun, perlu ditegaskan bahwa #KaburAjaDulu bukanlah bentuk anti-nasionalisme. Sebaliknya, ia adalah bentuk protes dalam balutan satire. Bukan berarti rakyat benar-benar ingin meninggalkan negara ini, tetapi mereka ingin menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan yang semakin absurd membuat mereka merasa tak lagi memiliki harapan di tanah air sendiri. Jika pemerintah terus mengabaikan keresahan ini, bukan tidak mungkin kelakar ini akan bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih serius.
Pada akhirnya, munculnya tagar ini harus dilihat sebagai alarm sosial yang menandakan kekecewaan publik yang kian memuncak. Jika para politisi ingin menjawabnya dengan bijak, mereka seharusnya tidak sekadar menertawakan atau menciptakan narasi tandingan. Sebaliknya, mereka harus bertanya pada diri sendiri: kebijakan macam apa yang telah membuat rakyat berpikir untuk ‘kabur’? Daripada sibuk mencari pembenaran atau menyalahkan netizen, mungkin sudah saatnya mereka mengubah arah kebijakan agar lebih berpihak pada kepentingan rakyat. Sebab, jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kelak #KaburAjaDulu bukan lagi sekadar tagar, melainkan akan berubah menjadi kenyataan pahit yang benar-benar terjadi.
(AN)