Menjadi Pembantu Setan

Menjadi Pembantu Setan

Tepat setelah diusir dari surga, dengan kemarahan yang meluap-luap, setan bersumpah kepada Tuhan bahwa ia dan bangsanya akan menjerumuskan manusia menuju ke kegelapan yang mereka kini tempati. Setan serius dengan sumpahnya ini, hingga mereka tak memberlakukan rehat demi membuat manusia sesat. Tuhan tak tinggal diam dengan ini, Ia memberi banyak peringatan kepada manusia untuk selalu berhat-hati terhadap tipu daya setan.

Dalam menjalankan tipu dayanya, setan kerap kali menjelma dalam rupa Tuhan. Ia dorong manusia untuk beribadah dan mendekat kepada Tuhan, namun ia sisipkan kesombongan dan kebencian di alam bawah sadar manusia agar mereka terpedaya. Dengan adanya kesombongan dan kebencian di dalam hati, maka ibadah yang dilakukan tak akan memiliki arti, sebab mereka tak sedang menyembah Tuhan, tapi tersesat jalan dan justru menuju singgasana setan.

Karenanya, Tuhan berulang kali memperingatkan manusia agar berhati-hati terhadap tipu daya setan. Dalam Ighatsatul Lahfan, Ibnu Qayyim mengatakan bahwa peringatan Allah kepada manusia untuk berhati-hati terhadap tipu daya setan jumlahnya lebih banyak daripada peringatan-Nya untuk mewaspadai nafsu, dan selayaknya memang demikian. “Sebab,” kata beliau. “Nafsu adalah kendaraan setan, sarang kejahatannya dan tempat di mana ia ditaati.”
Tipu daya setan bisa berupa apa saja, sebab meski terbuat dari api, tipu daya setan bisa tampak dingin dan lembut laiknya salju di tengah hari. Terasa menyejukkan namun melenakan. Satu hal yang perlu diingat, setan tak pernah beristirahat. Demikian sebagaimana dijelaskan oleh Hasan al Basri.

Read More

Ketika ditanya apakah setan pernah beristirahat, beliau menjawab, “Jikalau setan istirahat, tentu kita bisa rehat.” Jawabnya singkat, namun sangat melekat tepat di jidat.
Tipu daya setan, sebagaimana disebut di banyak ayat dalam Alquran, begitu nyata; dapat dilihat dengan telanjang mata. Bisikan setan masuk melalui berbagai tiupan kebencian dan permusuhan, karenanya segala bentuk dari kebencian dan permusuhan, sekalipun diatasnamakan Tuhan, pasti berasal dari setan. Tuhan adalah sumber kasih dan cinta, karenanya tak mungkin ada kebencian yang berasal dari sana.

Syiar agama yang dilakukan dengan kebencian dan kesombongan tentu berasal dari daki setan, begitu pula dakwah yang gelar di panggung-panggung mewah, jika dilakukan hanya atas dasar kesombongan, ajang gagah-gagahan, itu semua adalah perayaan kemenangan setan.
Kerapkali, manusia tak sadar bahwa dirinya sedang diperalat setan. Mereka merasa sedang membela Tuhan; dengan wajah garang dan perilaku ugal-ugalan yang ditampakkan, mereka mengira Tuhan akan senang karena sudah mendapat pembelaan. Padahal Tuhan maha segalanya; tak ada yang perlu dibela dari-Nya. Justru manusialah yang perlu dibela, terutama jika mereka sedang tertimpa kemalangan. Karenanya, alih-alih membela Tuhan, perilaku kesombongan ini justru membantu setan meraih kemenangan.

Tentang membantu setan, ada kisah penting dari ulama Tunisia yang kini tinggal dan memimpin komunitas Muslim terbesar kedua di AS, Imam Shaykh Abdurafaa Ouertani. Suatu ketika, seorang ibu menjumpainya dan memintanya untuk berbincang dengan anak lelakinya. Ibu ini seorang non-Muslim, namun anak lelakinya sedang sangat bersemangat belajar Islam dan berhasrat untuk bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah. Di mata sang anak, ISIS adalah wajah Islam yang sesungguhnya.

Kepada sang imam, remaja ini mengatakan betapa ia tak suka terhadap ibu dan saudara kandungnya yang ia sebut kafir. Dengan lantang ia juga katakan betapa dirinya mendukung perilaku ISIS yang menghabisi banyak orang hanya lantaran berbeda keyakinan.
Dengan sangat hati-hati Imam lulusan al Azhar University ini memperingatkan bahwa kekerasan tak pernah berasal dari perintah Tuhan, melainkan setan.

“Jika kamu ikut menghabisi nyawa orang lain, meskipun atas nama tuhan, bisa jadi kamu sesungguhnya sedang membantu setan,” jelasnya.
“Apa maksud anda, imam?,” tanya remaja ini tak mengerti.
“Kemana kamu kira perginya orang-orang yang dibunuh oleh ISIS?”
“Tentu saja neraka jahanam!”
“Tepat sekali, dan memang itulah yang diinginkan oleh setan. Sejak awal, setan ingin semua orang masuk neraka, menemani mereka membusuk di sana.”

Sang remaja tampak kaget. Namun sebelum ia berkata apa-apa, sang Imam melanjutkan, “Bisa jadi, jika kamu tak membunuh mereka, orang-orang ini berkesempatan mengenal Islam dan menjadi ahli surga. Tapi kamu justru memilih untuk membantu setan, dengan mengirim orang-orang ini ke neraka.”

Sang remaja tampak terdiam, ia mengaku tak menyangka akan mendapat penjelasan seperti ini, namun ia membenarkan penjelasan sang imam.

Kisah ini membuktikan betapa tipu daya setan begitu nyata, ia bisa datang kapan saja dan melalui jalan-jalan yang mungkin tak kita kira. Semoga kita semua dilindungi Tuhan agar tak salah jalan; mengira sedang bertuhan, padahal sedang kesetanan.

*) Khoirul Anam, peneliti Pusat Studi Pesantren