Mengenang Hebatnya Kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab

Umar bin Khatab

Mengenang Hebatnya Kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab

Tahun 2019 mendatang menjadi tahun politik yang akan selalu menarik untuk diperbincangkan. Sebelum pemilihan berlangsung, para calon pemimpin sudah pasti melakukan kampanye dan menjelaskan berbagai program yang akan dicanangkannya demi terpilih oleh para rakyat. Berbicara terkait kepemimpinan, tak ada salahnya jika kita berkaca pada kepemimpinan salah satu khalifah terbesar yang pernah dimiliki oleh umat Islam dan memiliki julukan Amirul Mu`miniin atau pemimpin orang-orang yang beriman.

Siapakah beliau?  Tak lain dan tak bukan adalah Umar bin Khattab. Pasca meninggalnya khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab yang telah ditunjuk oleh Abu Bakar sebagai penggantinya pun menjadi khalifah kedua bagi para umat Islam. Dalam masa pemerintahan Umar bin Khattab, Islam pun berhasil berkembang dengan sangat pesat. Islam berhasil merebut sebagian wilayah Persia, Mesir, Palestina, Suriah, dan lainnya. Bahkan dalam kepemimpinan Umar, pasukan Islam juga mampu menaklukan pasukan Romawi yang terkenal sangat kejam dan ditakuti.

Dengan demikian, Umar bin Khattab menjadi salah satu sahabat Rasulullah SAW yang sangat disegani dan ditakuti oleh kaum musryikin. Beliau juga dikenal sebagai pemimpin yang tegas, tak segan menghukum rakyat yang melanggar peraturan dan menjalankan roda pemerintahan berdasarkan Alquran dan hadist. Meskipun begitu, sebenarnya Umar bin Khattab merupakan sosok yang sangat sederhana, adil dan begitu ramah kepada rakyatnya.  Bahkan Umar bin Khattab juga tak segan-segan untuk turut merasakan penderitaan yang diderita oleh rakyatnya.

Read More

Pernah suatu ketika Madinah dilanda oleh musim paceklik yang berkepanjangan. Akibatnya, saat itu banyak rakyat Madinah yang meninggal akibat kelaparan. Melihat hal tersebut, Umar bin Khattab pun merasa sedih dan terus membantu rakyatnya dengan memberikan sebagian besar hartanya. Bahkan, Umar pun enggan memakan daging dan meminum susu hingga cobaan tersebut berlalu. Umar bin Khattab justru hanya mengkonsumsi roti dan minyak zaitun saja agar dia bisa memahami bagaimana penderitaan yang dialami oleh rakyatnya yang kelaparan.

Di lain kesempatan, Umar bin Khattab pun gemar melakukan blusukan berkeliling kota untuk melihat kondisi rakyatnya secara sembunyi-sembunyi. Umar melakukan kegiatan tersebut di malam hari dan saat itu ia mendengar tangisan seorang balita akibat kelaparan dalam sebuah gubuk kumuh. Rupanya balita tersebut adalah anak dari seorang janda yang tak memiliki makanan apapun dan janda tersebut berpura-pura memasak batu agar sang anak berhenti menangis. Umar pun mendengar keluhan sang janda bahwa kondisinya demikian karena Khalifah Umar tak memperhatikan kondisi rakyatnya.

Bukannya marah terhadap ucapan sang janda, Umar bin Khattab justru merasa sangat bersalah. Sedangkan sang janda tak menyadari bahwa orang yang ada di hadapannya adalah Khalifah Umar. Umar pun segera pulang dan mengambil sekantung gandum yang berat. Umar bahkan memikul sendiri gandum tersebut kembali ke tempat janda tersebut meskipun ia harus berjalan jauh dan kelelahan. Umar sangat menyadari bahwa sebagai pemimpin ia harus bertanggung jawab atas kondisi rakyatnya.

Di sisi lain, Umar bin Khattab pun berpenampilan sangat sederhana dan bersahaja. Meskipun Umar berhasil memimpin pasukan Islam menaklukkan kerajaan-kerajaan besar seperti Persia dan Romawi, namun Umar tak hidup bergelimang harta seperti halnya pemimpin-pemimpin lain pada umumnya. Beliau juga tidak memiliki istana, tidak mendapatkan pengawalan khusus dari para pasukan, dan tidak memakai pakaian sebagus raja-raja Persia ataupun Romawi.

Terlebih, Umar sangat gemar mengenakan pakaian lusuh seperti rakyat biasa dan menggunakan sorban di kepala. Hal tersebut pun sempat membuat prajurit Romawi terkejut dan takjub saat bertemu dengan Umar. Para prajurit Romawi terkejut karena sang pemimpin Islam justru hidup dengan sangat sederhana dan tanpa ada pengawalan saat ditemui. Kesederhanaan dan kerendah-hatian Umar bin Khattab bahkan sempat membuat hati seorang panglima Persia sampai terketuk untuk memeluk agama Islam.